Review Film Forgotten Island Animasi Paling Cocok Untuk Healing Sepulang Kerja

Review Film Forgotten Island Animasi Paling Cocok Untuk Healing Sepulang Kerja

 

Review Film Forgotten Island

Belakangan ini film animasi tidak hanya datang dari Jepang atau Amerika saja. Semakin kesini saya mulai menemukan beberapa film animasi dari negara lain yang ternyata cukup menarik untuk ditonton.

Salah satunya adalah Forgotten Island.

Jujur, awalnya saya tidak terlalu tahu akan seperti apa film ini. Ditambah film ini berasal dari filipina hal yang cukup jarang aku tonton animasinya.

Saya menonton film ini sendirian di NSC Kudus, pada jam terakhir yang saya ambil yaitu sekitar pukul 16.00. Kondisi bioskop waktu itu cukup sepi dan tidak terlalu banyak orang yang memilih menonton film ini.

Tapi justru karena itulah pengalaman menontonnya terasa cukup menyenangkan.

Saya menontonnya sepulang kerja dan dari awal film dimulai saya sudah merasa kalau film ini cocok banget untuk ditonton setelah menjalani aktivitas seharian.

Gerakan animasinya menyenangkan untuk dilihat, musik dan sound-nya juga menurut saya sangat mendukung suasana film. Entah kenapa setelah selesai menonton saya merasa seperti baru saja mendapatkan waktu untuk healing sebentar setelah bekerja.

Dan ternyata...

Saya sangat menyukai film ini.


Sinopsis Singkat: Forgotten Island

Cerita Forgotten Island berfokus pada Jo dan Raissa, dua sahabat yang baru saja lulus sekolah dan sedang menghadapi perubahan besar dalam hidup mereka.


Di malam terakhir sebelum mereka harus menjalani jalan masing-masing, keduanya menemukan sebuah portal misterius yang membawa mereka menuju sebuah pulau fantasi bernama Nakali.


Masalahnya, pulau tersebut bukan tempat biasa.


Di dalam Nakali terdapat berbagai makhluk yang berasal dari mitologi dan cerita rakyat Filipina. Jo dan Raissa kemudian menyadari bahwa untuk bisa kembali ke rumah, mereka harus menghadapi konsekuensi yang cukup berat.


Kenangan tentang persahabatan mereka menjadi sesuatu yang dipertaruhkan.


Semakin lama mereka berada di sana, semakin besar kemungkinan mereka kehilangan kenangan tentang satu sama lain.


Dan dari sinilah petualangan mereka dimulai.


Mereka harus mencari cara untuk kembali pulang sebelum persahabatan yang sudah mereka bangun selama bertahun-tahun perlahan menghilang.


POV: Opini Pribadi dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini Menurutku


1. Film Yang Enak Banget Ditonton Sepulang Kerja


Saya mulai dari pengalaman pribadi saya ketika menonton film ini.


Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya menonton Forgotten Island sendirian di NSC Kudus sekitar jam 16.00 setelah selesai bekerja.


Biasanya kalau habis kerja saya sudah lumayan capek. Kadang ketika menonton film setelah bekerja, bukannya merasa rileks malah merasa ingin cepat pulang karena badan sudah lelah.


Tapi anehnya hal itu tidak saya rasakan ketika menonton Forgotten Island.


Dari awal film berjalan, saya justru merasa cukup santai menikmati visualnya.


Gerakan animasinya terasa hidup dan menyenangkan untuk dilihat. Ditambah dengan musik dan sound yang menurut saya cocok dengan suasana film, pengalaman menontonnya terasa seperti istirahat sebentar dari rutinitas.


Mungkin karena filmnya memang memiliki suasana petualangan dan fantasi yang ringan, jadi saya tidak perlu terlalu banyak berpikir berat ketika menontonnya.


Saya tinggal duduk, menikmati animasinya, mendengarkan musiknya, dan mengikuti perjalanan Jo dan Raissa.

Dan jujur...


buat saya ini salah satu film yang cocok banget ditonton setelah pulang kerja.


Bukan karena filmnya tidak memiliki cerita yang serius, tetapi cara film ini menyampaikan ceritanya membuat saya merasa nyaman mengikutinya.


2. Gaya Animasi Yang Langsung Menarik Perhatian Saya


Nah, ini salah satu alasan kenapa saya cukup suka dengan Forgotten Island.


Saya sangat menyukai gaya animasinya.


Kalau saya harus memberikan perbandingan dari apa yang pernah saya tonton, beberapa gerakan dan visualnya membuat saya teringat dengan Demon Slayer dan Puss in Boots.


Bukan berarti gaya animasinya sama persis.


Tetapi ada beberapa bagian yang membuat saya merasa gerakan karakter dan action-nya memiliki bobot yang berbeda dibandingkan animasi yang biasanya saya tonton.


Gerakannya terasa lebih dinamis.


Ketika karakter bergerak atau berada dalam situasi yang membutuhkan banyak gerakan, saya merasa animasinya tidak kaku. Ada energi di dalam gerakannya.


Dan ini salah satu hal yang membuat saya betah melihat filmnya.


Buat saya pribadi, film animasi tidak cukup hanya memiliki gambar yang bagus. Kalau gerakan karakternya terasa kaku atau tidak memiliki "berat", saya biasanya cepat kehilangan ketertarikan.


Tapi Forgotten Island justru sebaliknya.


Saya beberapa kali malah lebih fokus memperhatikan bagaimana karakter bergerak dan bagaimana dunia fantasi di dalam film tersebut ditampilkan.


3. Musik dan Sound-nya Bikin Pengalaman Menonton Jadi Lebih Menyenangkan


Selain animasi, saya juga cukup menikmati musik dan sound dalam film ini.


Saya memang bukan orang yang terlalu paham secara teknis mengenai sound design dalam film.


Tapi sebagai penonton biasa, saya bisa merasakan ketika musik dan suara yang digunakan berhasil membuat sebuah adegan terasa lebih hidup.


Dan itu yang saya rasakan di Forgotten Island.


Musiknya tidak terasa hanya sebagai pelengkap.


Ketika digabungkan dengan visual animasi dan perjalanan para karakternya, semuanya terasa menyatu.


Mungkin ini juga salah satu alasan kenapa pengalaman menonton film ini setelah pulang kerja terasa seperti healing.


Saya tidak datang ke bioskop dengan ekspektasi yang terlalu tinggi.


Saya hanya ingin duduk dan menonton film.


Tapi ternyata saya malah mendapatkan pengalaman menonton yang cukup menyenangkan.


4. Sebagai Orang Indonesia, Menonton Animasi Dengan Budaya Filipina Itu Menarik


Ini mungkin bagian yang paling menarik secara personal buat saya.


Saya memang lebih sering menonton animasi dari Jepang atau Amerika.


Jadi ketika menonton animasi yang mengambil banyak inspirasi dari budaya dan mitologi Filipina, rasanya cukup berbeda.


Saya jadi melihat bahwa cerita rakyat dan makhluk mitologi di Asia Tenggara ternyata bisa menjadi bahan yang sangat menarik untuk sebuah film animasi besar.


Salah satu yang paling menarik perhatian saya adalah Manananggal.


Sosok ini menurut saya benar-benar terlihat mengerikan.


Dan karena saya tidak terlalu familiar dengan cerita rakyat Filipina sebelumnya, saya juga merasa seperti sedang diperkenalkan dengan sesuatu yang baru.


Hal seperti ini yang membuat pengalaman menonton Forgotten Island terasa berbeda bagi saya.


Biasanya saya menonton animasi Jepang dengan berbagai cerita dan mitologi Jepang, atau animasi Amerika dengan budaya mereka sendiri.


Sekarang saya mencoba menonton animasi yang membawa budaya Filipina sebagai salah satu bagian penting dari dunianya.


Dan menurut saya itu keren.


Apalagi film ini tidak terasa seperti hanya menempelkan budaya Filipina sebagai hiasan.


Dunia Nakali memang dibangun berdasarkan cerita rakyat dan makhluk mitologi Filipina, sehingga budaya tersebut terasa menjadi bagian dari identitas filmnya.


5. Ceritanya Bukan Cuma Tentang Petualangan


Awalnya saya mengira saya akan mendapatkan film animasi petualangan biasa.


Dua sahabat masuk ke dunia lain, bertemu berbagai makhluk aneh, kemudian mencari jalan untuk pulang.


Tapi ternyata inti ceritanya lebih emosional dari yang saya bayangkan.


Masalah utama Jo dan Raissa bukan hanya bagaimana caranya keluar dari Nakali.


Mereka juga harus mempertahankan kenangan tentang persahabatan mereka.


Menurut saya, konsep ini cukup sederhana tetapi efektif.


Karena ketika kita bicara tentang persahabatan, salah satu hal yang paling penting memang adalah kenangan yang kita miliki bersama.


Bayangkan kalau semua pengalaman bersama seseorang perlahan hilang.


Orangnya masih ada.


Tapi kita sudah tidak ingat siapa dia.


Menurut saya konsep seperti ini yang membuat filmnya bisa terasa emosional tanpa harus selalu mengandalkan drama yang berlebihan.


Dan saya sendiri sempat merasa terharu ketika mengikuti hubungan Jo dan Raissa.


6. Saya Bisa Tertawa, Tapi Beberapa Bagian Juga Bikin Terharu


Saya suka ketika sebuah film bisa membuat saya merasakan lebih dari satu emosi.


Forgotten Island menurut saya berhasil melakukan hal tersebut.


Ada bagian yang membuat saya tertawa karena tingkah para karakternya, tetapi ada juga bagian yang membuat suasananya berubah menjadi lebih emosional.


Perpindahan seperti ini menurut saya cukup penting untuk film animasi.


Kalau sepanjang film hanya dibuat lucu, lama-lama jokes-nya bisa terasa melelahkan.


Kalau sepanjang film hanya serius dan emosional, pengalaman menontonnya juga bisa terasa berat.


Di Forgotten Island, saya merasa ada keseimbangan antara petualangan, humor, dan hubungan emosional Jo dengan Raissa.


Itulah yang membuat saya tidak merasa bosan ketika mengikuti perjalanan mereka.


Dan jujur saja...


Saya sempat berkaca-kaca.


Bukan sampai menangis sesenggukan ya, tetapi ada beberapa bagian yang cukup menyentuh buat saya.


7. Manananggal-nya Benar-Benar Menarik


Kalau bicara soal karakter yang paling menonjol dari sisi horor atau ancaman, saya rasa Manananggal menjadi salah satu yang paling menarik.


Saya memang tidak terlalu familiar dengan makhluk mitologi Filipina ini sebelumnya.


Tapi ketika melihat bagaimana sosok tersebut digunakan dalam film, saya merasa desainnya memang cukup mengerikan.


Yang saya suka adalah film ini tidak hanya menjadikan makhluk mitologi sebagai sesuatu yang terlihat keren secara visual.


Manananggal benar-benar terasa seperti bagian dari dunia Nakali.


Dan menurut saya ini membuat unsur mitologi dalam film terasa lebih menarik.


Saya jadi penasaran dengan cerita rakyat Filipina lainnya setelah menonton film ini.


Mungkin ini salah satu hal kecil yang menurut saya berhasil dilakukan filmnya.


Bukan cuma membuat saya terhibur, tetapi juga membuat saya ingin tahu lebih banyak tentang budaya yang sebelumnya tidak terlalu saya kenal.


Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Forgotten Island


Kelebihan


- Gaya animasi yang sangat menarik

Gerakan karakter terasa dinamis dan memiliki bobot. Buat saya ini menjadi salah satu daya tarik terbesar film.


- Musik dan sound sangat mendukung

Musik dan sound membuat pengalaman menonton terasa lebih hidup dan menjadi salah satu alasan film ini terasa menyenangkan ditonton sepulang kerja.


- Membawa budaya dan mitologi Filipina

Sebagai penonton Indonesia yang lebih sering menonton animasi Jepang dan Amerika, saya merasa mendapatkan sesuatu yang baru dari film ini.


- Ceritanya bisa lucu sekaligus menyentuh

Saya bisa tertawa di beberapa bagian tetapi juga mendapatkan momen yang cukup emosional.


- Hubungan Jo dan Raissa menjadi inti cerita yang menarik

Konsep mengenai kenangan dan persahabatan membuat perjalanan mereka terasa lebih emosional daripada sekadar petualangan mencari jalan pulang.


Kekurangan


Jujur, untuk bagian kekurangan saya tidak memiliki terlalu banyak keluhan terhadap film ini.


Saya menikmati sebagian besar pengalaman menontonnya.


Kalau harus mencari kekurangan, mungkin beberapa bagian cerita bisa terasa cukup familiar bagi penonton yang sudah sering menonton film animasi bertema petualangan dan dunia fantasi.


Tetapi untuk saya pribadi, hal tersebut tidak terlalu mengganggu karena film ini memiliki identitas sendiri melalui budaya dan mitologi Filipina yang dibawanya.


Jadi dibandingkan memikirkan kekurangannya, saya justru lebih banyak menikmati apa yang ditawarkan film ini.


Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?


Setelah selesai menonton Forgotten Island, saya bisa bilang kalau saya sangat menyukai film ini.


Bahkan kalau suatu saat film ini tersedia kembali untuk ditonton, saya tidak akan keberatan untuk menontonnya lagi.


Awalnya saya hanya datang ke bioskop setelah pulang kerja dan menonton sendirian di jam 16.00 dalam kondisi bioskop yang cukup sepi.


Saya tidak menyangka pengalaman menontonnya malah terasa seperti healing.


Visualnya menyenangkan, gerakan animasinya bagus, musik dan sound-nya juga membuat film terasa lebih hidup.


Dan yang paling saya suka adalah saya mendapatkan pengalaman menonton sesuatu yang berbeda.


Sebagai orang Indonesia, saya memang lebih sering menonton animasi Jepang dan Amerika.


Jadi melihat sebuah film animasi yang membawa budaya dan mitologi Filipina sebagai bagian penting dari ceritanya menurut saya merupakan pengalaman yang menarik.


Terakhir saya merasakan hal seperti ini ketika menonton Jumbo, dimana saya juga cukup kagum melihat bagaimana budaya lokal bisa dibawa ke dalam sebuah film animasi.


Tapi Forgotten Island memberikan pengalaman yang berbeda.


Film ini membuat saya tertawa, menikmati petualangannya, kagum dengan visualnya, dan di beberapa bagian bahkan membuat saya terharu.


Kalau kalian menyukai film animasi dengan visual yang bagus, cerita persahabatan, petualangan dan sedikit unsur mitologi, menurut saya Forgotten Island sangat layak untuk ditonton.


Bahkan kalau kalian belum terlalu familiar dengan animasi dari luar Jepang atau Amerika seperti saya, menurut saya justru film ini bisa menjadi salah satu pilihan untuk mencoba sesuatu yang berbeda.


Dan untuk saya pribadi?


Ini salah satu film yang akan saya tonton lagi kalau ada kesempatan.


Saya kasih rekomendasi tinggi untuk film ini.


Bukan hanya karena animasinya bagus, tapi karena setelah selesai menonton saya benar-benar merasa...


“Wah, enak juga ya nonton film begini sepulang kerja.”


Di imbd sendiri film ini dapat rating 7.8/10 dari 4.8k review per hari ini saat postingan ini  di post.

Review Colony — Film Zombie Korea Dengan Zombie Yang Berbeda

Review Colony — Film Zombie Korea Dengan Zombie Yang Berbeda

 

Review Colony

Kalau bicara soal film atau series Korea, ada beberapa aktor yang memang menurut saya selalu menarik untuk diikuti. Salah satunya adalah Ji Chang-wook.

Saya sendiri mulai menyukai Ji Chang-wook sejak menonton drama The K2. Dari sana saya mulai mengikuti beberapa film dan drama yang dia mainkan. Menurut saya salah satu hal yang membuat Ji Chang-wook menarik adalah kemampuan aktingnya yang cukup fleksibel, terutama ketika harus memainkan karakter yang berhubungan dengan action.

Nah, kali ini saya kembali menemukan salah satu film yang dibintangi oleh Ji Chang-wook yaitu Colony.

Berbeda dengan beberapa film sebelumnya yang saya tonton di bioskop, kali ini saya menonton Colony langsung dari rumah melalui Netflix bersama pasangan saya.

Dan kesan pertama saya ketika film ini mulai berjalan adalah...

“Wah, ini kok auranya mirip Train to Busan?”

Mulai dari tone warna, suasana tempat, sampai bagaimana kamera mengambil gambar ketika suasana mulai mencekam, saya cukup sering teringat dengan film Train to Busan.

Apalagi film ini memang masih berada di genre zombie dan survival.

Jadi sejak awal saya sudah memiliki ekspektasi yang cukup tinggi.

Bukan hanya karena Ji Chang-wook, tetapi juga karena film ini mencoba memberikan sesuatu yang berbeda dari film zombie pada umumnya.

Pertanyaannya, apakah akhirnya film ini bisa memberikan pengalaman yang menarik?

Sinopsis Singkat: Colony

Cerita bermula dari seorang profesor bernama Se Jeong yang menghadiri sebuah konferensi bioteknologi.

Namun konferensi tersebut berubah menjadi sebuah bencana ketika sebuah virus yang mengalami mutasi dengan sangat cepat dilepaskan.

Dalam waktu singkat wabah mulai menyebar dan orang-orang yang terinfeksi mulai mengalami perubahan.

Situasi menjadi semakin kacau ketika pihak berwenang akhirnya memblokir seluruh fasilitas untuk mencegah penyebaran wabah.

Se Jeong yang terjebak di dalam situasi tersebut kemudian harus berusaha bertahan hidup sekaligus mencari cara untuk menghentikan wabah sebelum semuanya terlambat.

Dan dari sinilah perjuangan untuk bertahan hidup dimulai.

POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Kesan Pertama: Auranya Mengingatkan Saya Dengan Train to Busan

Seperti yang saya bilang sebelumnya, hal pertama yang saya rasakan ketika menonton film ini adalah suasananya.

Tone warna dan pengambilan gambarnya membuat saya beberapa kali teringat dengan Train to Busan.

Bukan berarti film ini sama persis, tetapi ada aura yang menurut saya cukup mirip.

Terutama ketika kamera mulai memperlihatkan suasana tempat yang sudah kacau dan karakter mulai berusaha mencari jalan keluar.

Ada rasa sempit, terjebak dan tidak tahu apa yang akan muncul setelah ini.

Dan menurut saya hal seperti ini cukup penting dalam film zombie.

Karena film zombie tidak hanya membutuhkan zombie yang bagus, tetapi juga membutuhkan suasana yang membuat penonton merasa ikut terjebak bersama karakter di dalam film.

Saya sendiri menonton film ini bersama pasangan, jadi suasana mencekamnya lumayan terasa.

Beberapa kali kami benar-benar menunggu apakah setelah pintu dibuka akan muncul zombie atau tidak.

Zombie Di Film Ini Tidak Seperti Zombie Pada Umumnya

Nah ini justru bagian yang paling saya sukai dari Colony.

Kalau biasanya zombie hanya memiliki satu tujuan yaitu mengejar manusia, menggigit, kemudian membuat orang lain ikut terinfeksi, di film ini konsepnya menurut saya jauh lebih menarik.

Zombie yang ada di Colony seperti terus mengalami perkembangan.

Mereka bukan hanya sekedar manusia yang terinfeksi virus.

Kemampuan mereka bisa berkembang dari waktu ke waktu.

Mulai dari penciuman, penglihatan sampai tingkat kecerdasan.

Dan menurut saya ini memberikan sesuatu yang cukup berbeda.

Awalnya saya berpikir, “oh ini zombie biasa.”

Tapi semakin film berjalan, saya mulai menyadari kalau zombie yang ada di film ini ternyata memiliki kemampuan yang berbeda.

Dan semakin lama justru semakin kuat.

Menurut saya ini salah satu alasan kenapa filmnya cukup menarik untuk diikuti sampai akhir.

Karena kita sebagai penonton tidak pernah benar-benar tahu kemampuan apa lagi yang akan ditunjukkan oleh zombie tersebut.

Saya Suka Ada Penjelasan Tentang Virusnya

Salah satu hal yang sering membuat saya kurang suka dengan film zombie adalah ketika virusnya hanya dijadikan alasan supaya orang-orang berubah menjadi zombie.

Sudah.

Tidak dijelaskan lagi.

Tapi di Colony saya merasa penjelasan mengenai virus dan perubahan yang terjadi masih cukup mendapatkan perhatian.

Ada semacam latar belakang dan eksposisi mengenai bagaimana wabah tersebut bisa berkembang.

Menurut saya ini membuat film terasa lebih seperti film zombie dengan teknologi tinggi daripada sekedar film zombie biasa.

Ada unsur biologi, eksperimen, mutasi dan bagaimana virus tersebut memengaruhi manusia.

Jadi selain mendapatkan adegan action, saya juga mendapatkan sedikit teori mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Ji Chang-wook Menurut Saya Tetap Menjadi Daya Tarik Utama

Tentu saja saya tidak bisa melewatkan bagian ini.

Saya memang menonton film ini salah satu alasan utamanya karena ada Ji Chang-wook.

Sejak The K2, saya memang cukup suka dengan kemampuan aktingnya.

Dan di Colony menurut saya aktingnya tetap bagus.

Walaupun saya tidak akan mengatakan karakter di film ini merupakan karakter terbaik yang pernah dia mainkan, tetapi saya tetap bisa merasakan kemampuan aktingnya ketika situasi mulai berubah menjadi semakin kacau.

Terutama ketika karakter harus menghadapi kondisi yang tidak bisa diprediksi.

Dan menurut saya chemistry antar pemain juga cukup bagus.

Tidak terasa seperti semua karakter hanya dimasukkan untuk menjadi korban zombie.

Karakter Perempuan Utamanya Juga Tidak Lemah

Salah satu hal yang saya cukup suka adalah karakter perempuan utama di film ini tidak dibuat sebagai karakter yang hanya menunggu diselamatkan.

Justru pengetahuan yang dia miliki sebagai seorang profesor biologi manusia dan hewan menjadi salah satu senjata untuk menghadapi zombie.

Jadi dia tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik.

Dia menggunakan pengetahuan yang dia miliki untuk memahami apa yang terjadi.

Menurut saya ini keputusan yang cukup bagus.

Karena ketika melawan zombie yang semakin kuat, akan terasa aneh kalau manusia hanya mengandalkan senjata dan kekuatan fisik.

Di film ini pengetahuan menjadi salah satu bagian penting dalam usaha mereka bertahan hidup.

Zombie-nya Justru Terlalu Kuat

Nah, ini masuk ke bagian yang menurut saya menjadi kekurangan.

Saya suka konsep zombie yang berbeda.

Saya suka mereka berkembang.

Saya suka kemampuan mereka.

Tapi di beberapa bagian menurut saya zombie dan antagonisnya terasa terlalu kuat.

Sampai saya beberapa kali berpikir,

“Ini manusia mau ngelawan pakai apa?”

Karena semakin lama kemampuan zombie semakin berkembang, sementara karakter manusia terasa cukup terbatas.

Menurut saya akan lebih menarik kalau kekuatan antara manusia dan zombie dibuat sedikit lebih seimbang.

Bukan berarti zombienya harus lemah, tetapi harus ada kesempatan bagi karakter manusia untuk melakukan perlawanan dengan cara yang lebih masuk akal.

Kurang Karakter Pendukung Yang Benar-Benar Kuat

Kalau dibandingkan dengan Train to Busan, menurut saya Colony masih kurang dalam masalah karakter pendukung.

Train to Busan menurut saya memiliki beberapa karakter yang benar-benar terasa kuat dan berkesan.

Ada karakter yang ketika zombie datang tidak hanya menjadi korban, tetapi justru ikut menghadapi zombie dengan cara mereka masing-masing.

Di Colony saya merasa bagian ini masih kurang.

Karakter utamanya memang cukup menarik, tapi saya merasa belum mendapatkan karakter pendukung yang benar-benar bisa membuat saya berkata,

“Nah ini karakter keren.”

Dan ketika karakter pendukungnya tidak terlalu kuat, hubungan emosional dengan karakter-karakter tersebut juga menurut saya tidak sekuat film zombie Korea lainnya.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Colony

Kelebihan

1. Zombie memiliki konsep yang berbeda

Menurut saya ini adalah kelebihan terbesar film.

Zombie tidak hanya menjadi manusia yang terinfeksi, tetapi memiliki perkembangan kemampuan dari waktu ke waktu.

2. Cerita tidak terasa seperti film zombie biasa

Walaupun premisnya tetap tentang virus dan wabah, film memberikan tambahan unsur bioteknologi, mutasi dan eksperimen.

3. Visual dan tone warna sangat mendukung suasana

Tone warna yang digunakan membuat film terasa gelap dan mencekam.

Buat saya pribadi bahkan beberapa kali terasa seperti melihat kembali aura Train to Busan.

4. Akting para pemain bagus

Terutama Ji Chang-wook yang menurut saya masih menjadi salah satu daya tarik utama film ini.

5. Action cukup banyak

Film ini tidak hanya berisi dialog dan penjelasan tentang virus.

Ada cukup banyak adegan kejar-kejaran, pertarungan dan survival yang membuat tempo film tetap terasa cepat.

Kekurangan

1. Karakter pendukung kurang kuat

Saya berharap ada beberapa karakter pendukung yang lebih berkesan seperti yang bisa kita temukan di film zombie Korea lainnya.

2. Zombie terlalu kuat

Ini sebenarnya sekaligus menjadi kelebihan dan kekurangan.

Konsep zombie yang kuat memang menarik, tetapi di beberapa bagian terasa terlalu overpower.

3. Beberapa bagian terasa terlalu cepat

Karena film ingin memasukkan unsur teori, action dan perkembangan zombie sekaligus, ada beberapa bagian yang menurut saya terasa cukup cepat.

Saya masih bisa mengikuti ceritanya, tapi ada beberapa momen dimana saya berharap film memberikan waktu sedikit lebih banyak untuk menjelaskan situasinya.

Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?

Setelah selesai menonton Colony, menurut saya film ini adalah salah satu film zombie yang cukup menarik untuk dicoba.

Saya sendiri awalnya menonton karena Ji Chang-wook, tetapi ternyata setelah film berjalan saya justru lebih tertarik dengan konsep zombie dan bagaimana virus tersebut bisa berkembang.

Menurut saya konsep zombie yang memiliki kemampuan berbeda dari biasanya menjadi daya tarik utama film ini.

Mulai dari penciuman, penglihatan sampai kecerdasan yang semakin berkembang membuat saya penasaran sebenarnya akan seperti apa kemampuan mereka selanjutnya.

Dan yang paling penting, film ini tidak hanya mengandalkan zombie untuk membuat penonton takut.

Visual, tone warna, suara dan suasana film benar-benar membantu membuat rasa mencekamnya terasa.

Apalagi saya menontonnya bersama pasangan.

Menurut saya ini justru salah satu film yang cukup cocok untuk ditonton bareng pasangan di rumah. Lampu dimatikan, malam hari, kemudian nonton film zombie seperti ini... suasananya dapat banget.

Beberapa kali saya dan pasangan sama-sama menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Kalau kalian adalah penggemar film zombie, survival atau sci-fi, menurut saya film ini bisa kalian masukkan ke daftar tontonan.

Terutama kalau kalian suka film zombie yang tidak hanya sekedar,

“digigit → jadi zombie → kejar manusia.”

Karena Colony mencoba memberikan sesuatu yang lebih dari itu.

Untuk saya sendiri, Ji Chang-wook masih menjadi salah satu alasan utama kenapa film ini menarik untuk ditonton, tetapi setelah melihat keseluruhan film, saya bisa bilang bahwa film ini memang cukup layak untuk mendapatkan perhatian.

Jadi kalau ditanya apakah saya merekomendasikan Colony?

Iya, saya rekomendasikan.

Apalagi kalau ditonton bareng pasangan, menurut saya malah lebih seru karena suasana mencekam dan menegangkannya bisa dirasakan bareng-bareng.

Buat saya pribadi, ini bukan film zombie yang sempurna, masih ada kekurangan dari karakter pendukung dan beberapa bagian yang terasa terlalu kuat untuk zombienya.

Tapi secara keseluruhan?

Film zombie berteknologi tinggi yang cukup menarik dan berbeda dari ekspektasi saya.

Kalau kalian punya Netflix dan sedang mencari tontonan zombie untuk malam hari...

boleh banget coba Colony.

Walaupun di IMDB ratingnya hanya 6.5/10 tapi rating ini tidak menggambarkan kualitas film ini.

Review Film Toy Story 5: Nostalgia Masa Kecil yang Beradu dengan Era Digital

Review Film Toy Story 5: Nostalgia Masa Kecil yang Beradu dengan Era Digital

 

Review Film Toy Story 5: Nostalgia Masa Kecil yang Beradu dengan Era Digital

Hari ini saya akan mencoba untuk review film Toy Story 5 setelah saya menonton filmnya di NSC Kudus. Jujur cukup banyak yang menonton film ini bersama keluarga, bahkan beberapa kursi bisa dibilang penuh karena banyak yang mengambil paket untuk keluarga.

Dan sebenarnya ada satu hal yang membuat saya cukup tertarik untuk menonton film ini.

Saya merupakan salah satu orang yang sangat menyukai serial Toy Story. Dari Toy Story pertama sampai Toy Story 4 semuanya pernah saya tonton. Bahkan saking sukanya dengan serial ini, dulu saya juga sempat memainkan game Toy Story di PS 2.

Dari semua karakter yang ada di Toy Story, karakter yang paling saya suka tentu saja Woody.

Jadi ketika Toy Story 5 diumumkan, jujur saya punya perasaan yang agak campur aduk.

Di satu sisi saya senang karena bisa kembali melihat karakter-karakter Toy Story di layar lebar. Tapi di sisi lain saya merasa sebenarnya ending dari Toy Story 4 sudah cukup untuk menjadi akhir dari perjalanan cerita Toy Story.

Dan yang paling saya kuatirkan adalah Disney terlalu melakukan milking terhadap franchise Toy Story ini.

Karena menurut saya tidak semua film harus dibuat menjadi panjang hanya karena sebuah franchise masih mempunyai nama yang besar.

Sinopsis Singkat: Toy Story 5

Cerita Toy Story 5 kembali mempertemukan Woody, Buzz, Jessie dan teman-teman mereka dengan sebuah masalah baru.

Kali ini dunia mainan harus menghadapi ancaman yang berbeda dari film-film sebelumnya, yaitu kehadiran perangkat elektronik yang mulai mengambil perhatian anak-anak.

Mainan yang selama ini menjadi bagian dari masa bermain anak-anak mulai menghadapi kenyataan bahwa anak-anak sekarang lebih tertarik dengan perangkat elektronik dibandingkan bermain menggunakan mainan mereka.

Dari sinilah konflik utama film ini dimulai.

Kalau melihat sinopsis sederhananya, sebenarnya konsepnya cukup relevan dengan kehidupan anak-anak sekarang. Apalagi hampir semua anak saat ini sudah sangat dekat dengan gadget dan berbagai macam konten digital.

Jadi menurut saya konsep dasarnya cukup menarik.

POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Toy Story 5 Lebih Banyak Memberikan Spotlight Kepada Jessie

Menurut saya hal yang paling terasa berbeda dari film ini adalah posisi Woody.

Kalau kita melihat film-film Toy Story sebelumnya, Woody selalu menjadi salah satu karakter yang sangat penting dalam cerita.

Bahkan kalau kita bicara mengenai Toy Story, nama Woody rasanya sudah tidak bisa dipisahkan dari franchise ini.

Tapi di Toy Story 5, Woody lebih banyak menjadi karakter pendukung.

Justru kali ini film lebih memberikan spotlight kepada Jessie dan beberapa karakter mainan lainnya.

Menurut saya sebenarnya ini cukup menarik.

Karena setelah empat film, memang mungkin sudah saatnya karakter lain mendapatkan kesempatan untuk menjadi pusat cerita.

Dan saya juga bisa memahami kenapa Pixar ingin mencoba sesuatu yang berbeda.

Tapi sebagai penggemar Woody, jujur saya sedikit kecewa.

Saya datang ke bioskop dengan harapan bisa kembali melihat Woody menjadi pusat dari sebuah petualangan besar Toy Story.

Ternyata kali ini Woody justru lebih banyak berada di belakang cerita.

Jadi di satu sisi saya menghargai keputusan tersebut, tapi di sisi lain saya tetap merasa kehilangan sesuatu yang menjadi ciri khas Toy Story sebelumnya.

Cerita Tentang Anak-Anak dan Gadget

Menurut saya kalau kita sederhanakan, Toy Story 5 sebenarnya adalah cerita tentang Jessie dan bagaimana perangkat elektronik mulai mengambil alih waktu bermain anak-anak.

Film ini mencoba menunjukkan kenapa anak-anak seharusnya tetap bermain secara aktif dan tidak terus menerus bergantung kepada perangkat elektronik.

Dan menurut saya pesan tersebut memang cukup relevan dengan kondisi sekarang.

Anak-anak memang semakin dekat dengan smartphone, tablet dan berbagai macam konten digital.

Jadi saya sebenarnya tidak mempermasalahkan pesan yang ingin disampaikan.

Yang menjadi sedikit lucu buat saya adalah Disney sendiri merupakan salah satu perusahaan yang menghasilkan sangat banyak konten yang ditonton anak-anak melalui perangkat elektronik.

Jadi ketika film ini seolah mengatakan bahwa anak-anak jangan terlalu bergantung kepada perangkat elektronik, saya pribadi sempat berpikir,

“Disney sendiri kan salah satu penyumbang konten digital yang bikin anak anak nontonin hp mulu”

Tapi ya balik lagi, menurut saya pesan mengenai pentingnya bermain secara langsung tetap merupakan pesan yang cukup bagus untuk anak-anak.

Menurut Saya Ceritanya Cukup Membosankan

Nah ini bagian yang cukup jujur dari saya.

Saya dan istri saya sama-sama merasa cerita Toy Story 5 cukup membosankan.

Bukan berarti sepanjang film tidak ada bagian yang menarik, tetapi secara keseluruhan saya merasa tempo film ini sedikit lebih lambat dibandingkan film-film sebelumnya.

Kalau kita melihat Toy Story 1 sampai 4, selalu ada semacam petualangan yang membuat saya penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Toy Story 2 punya cerita Woody yang diculik.

Toy Story 3 membawa kita ke Sunnyside dan kemudian menghadirkan perjalanan yang cukup emosional.

Toy Story 4 juga mempunyai perjalanan Woody yang menurut saya terasa seperti penutup dari cerita karakternya.

Sedangkan di film kelima ini saya tidak mendapatkan perasaan yang sama.

Ceritanya tetap berjalan dan masih bisa diikuti, tapi rasa petualangannya menurut saya tidak sekuat film-film sebelumnya.

Apakah Toy Story 5 Buruk?

Menurut saya tidak.

Ini penting untuk saya jelaskan karena setelah membaca atau mendengar beberapa pendapat mengenai film ini, mungkin ada yang menganggap kalau saya tidak suka berarti filmnya buruk.

Menurut saya bukan seperti itu.

Toy Story 5 tetap merupakan film yang bagus.

Tidak banyak franchise yang mampu menghasilkan beberapa sekuel berkualitas secara berturut-turut seperti Toy Story.

Toy Story sendiri sudah mempunyai empat film sebelumnya yang menurut saya semuanya mempunyai identitas masing-masing.

Jadi ketika film kelima dibuat, ekspektasi saya memang sudah cukup tinggi.

Mungkin justru masalahnya ada disitu.

Karena saya sudah terlalu menyukai Toy Story 1 sampai 4, akhirnya film kelima ini terasa lebih sulit untuk memenuhi ekspektasi saya.

Jadi kalau kalian baru pertama kali menonton atau tidak mempunyai keterikatan emosional yang terlalu kuat dengan film-film sebelumnya, mungkin pengalaman kalian bisa berbeda dengan saya.

Sebagai Penggemar Woody, Saya Sedikit Kecewa

Ini mungkin bagian yang paling personal dari review saya.

Saya memang datang ke bioskop sebagai penggemar Toy Story, bukan hanya sebagai orang yang ingin melihat film animasi baru.

Saya tumbuh dengan karakter Woody.

Dari Toy Story pertama sampai Toy Story 4, Woody selalu menjadi salah satu karakter yang paling saya ingat.

Bahkan sampai saya memainkan game Toy Story di PS 2.

Jadi ketika saya melihat Woody hanya menjadi karakter support di film ini, rasanya sedikit aneh.

Tapi saya juga bisa melihat sisi positifnya.

Pixar akhirnya mencoba memberikan kesempatan kepada karakter seperti Jessie dan Buzz untuk lebih mendapatkan spotlight.

Dan menurut saya ini sebenarnya keputusan yang cukup menarik untuk franchise yang sudah berjalan selama ini.

Hanya saja mungkin saya membutuhkan waktu untuk menerima bahwa Toy Story sekarang tidak selalu harus berpusat kepada Woody.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Toy Story 5

Kelebihan

1. Memberikan spotlight kepada karakter lain

Menurut saya ini merupakan salah satu hal menarik dari Toy Story 5.

Jessie dan beberapa karakter lain akhirnya mendapatkan perhatian yang lebih besar, sementara Woody menjadi karakter pendukung.

2. Tema ceritanya relevan dengan kehidupan sekarang

Masalah anak-anak yang terlalu dekat dengan gadget dan kurang bermain secara aktif merupakan sesuatu yang memang sangat relevan dengan kehidupan sekarang.

3. Masih mempunyai daya tarik Toy Story

Walaupun menurut saya tidak sekuat film-film sebelumnya, tetap ada rasa nostalgia ketika melihat Woody, Buzz, Jessie dan karakter-karakter lama kembali.

Apalagi untuk orang yang memang sudah mengikuti Toy Story sejak film pertama.

4. Cocok ditonton bersama keluarga

Saya melihat sendiri cukup banyak keluarga yang menonton film ini di NSC Kudus.

Menurut saya memang target film ini sangat cocok untuk tontonan keluarga karena ceritanya masih mudah diikuti dan mempunyai pesan yang bisa dibicarakan bersama anak-anak.

Kekurangan

1. Woody terlalu sedikit mendapatkan peran

Ini tentu menjadi kekurangan terbesar bagi saya secara pribadi.

Sebagai penggemar Woody, saya merasa karakter ini terlalu sedikit mendapatkan porsi dibandingkan film-film sebelumnya.

2. Tempo cerita terasa lebih lambat

Menurut saya beberapa bagian terasa cukup lambat sehingga membuat saya dan istri saya merasa sedikit bosan ketika menontonnya.

3. Petualangannya tidak sekuat film sebelumnya

Toy Story sebelumnya selalu mempunyai rasa petualangan yang membuat saya penasaran.

Di film ini saya merasa sensasi tersebut tidak terlalu kuat.

4. Terasa seperti cerita yang dibuat untuk melanjutkan franchise

Ini mungkin lebih kepada perasaan saya sebagai penggemar.

Setelah Toy Story 4, saya sebenarnya merasa perjalanan Toy Story sudah cukup.

Jadi ketika film kelima dibuat, ada rasa seperti,

“Apakah cerita ini memang masih perlu dilanjutkan?”

Dan setelah menonton filmnya, jawaban saya pribadi masih belum benar-benar yakin.

Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?

Jadi setelah menonton Toy Story 5, menurut saya film ini masih layak untuk ditonton.

Apalagi kalau kalian memang penggemar Toy Story atau ingin mengajak anak dan keluarga menonton film di bioskop, menurut saya masih cukup menyenangkan.

Tapi kalau kalian bertanya kepada saya apakah film ini bisa memberikan kesan yang sama seperti Toy Story 1, 2 dan 3?

Untuk saya pribadi jawabannya tidak.

Bahkan saya merasa Toy Story 4 yang awalnya saya pikir sudah menjadi ending yang cukup untuk franchise ini justru terasa lebih pas sebagai penutup perjalanan Woody.

Toy Story 5 bukan film yang buruk, hanya saja menurut saya ini adalah film yang paling lemah dibandingkan lima film Toy Story yang sudah ada.

Saya masih menikmati beberapa bagian dari filmnya, terutama ketika melihat karakter-karakter lama kembali.

Tapi setelah selesai menonton, saya tidak mendapatkan perasaan yang sama seperti ketika selesai menonton film-film Toy Story sebelumnya.

Mungkin untuk saya pribadi film ini cukup ditonton satu kali saja.

Bukan berarti saya menyesal sudah menontonnya, karena tetap ada rasa nostalgia dan pengalaman tersendiri ketika melihat karakter yang sudah saya sukai sejak kecil kembali ke layar lebar.

Tetapi kalau suatu saat nanti saya ingin kembali menonton Toy Story, kemungkinan besar saya akan lebih memilih Toy Story 1 sampai 4 dibandingkan film yang kelima ini.

Untuk rating IMDb sendiri, saat saya melihatnya Toy Story 5 mendapatkan 7,4/10 dari sekitar 82 ribu rating, jadi angka tersebut masih cukup sejalan dengan penilaian penonton secara umum.

Review Anime Movie Doraemon: Nobita and the New Castle of the Undersea Devil: Visual Memukau yang Bikin Emosi Campur Aduk

Review Anime Movie Doraemon: Nobita and the New Castle of the Undersea Devil: Visual Memukau yang Bikin Emosi Campur Aduk

Review Anime Movie Doraemon: Nobita and the New Castle of the Undersea Devil

 
Belakangan ini film anime terutama film movie Doraemon masih menjadi salah satu tontonan yang selalu saya tunggu setiap tahunnya, bukan hanya karena karakter Doraemon dan Nobita yang sudah begitu melekat sejak saya kecil, tetapi karena setiap film Doraemon yang keluar hampir selalu memberikan sesuatu yang berbeda dari segi petualangan dan visualnya. Walaupun karakter dan konsep dasarnya masih sama, ada saja hal baru yang membuat saya penasaran untuk melihat seperti apa petualangan Nobita dan teman-temannya di movie terbaru.

Salah satu yang baru saja saya tonton adalah Doraemon: Nobita and the New Castle of the Undersea Devil. Dari judulnya saja kita sudah bisa mengetahui kalau kali ini Doraemon dan teman-temannya akan membawa kita untuk menjelajahi dunia bawah laut yang penuh dengan misteri. Sebagai orang yang cukup menyukai film anime dengan konsep petualangan, saya tentu saja cukup penasaran dengan movie Doraemon yang satu ini.


Saya sendiri menonton film ini di CGV Jogja dengan format 4DX, dan jujur pengalaman menonton dengan format seperti ini membuat saya semakin menikmati visual dan perjalanan petualangan yang ditampilkan dalam film. Tetapi pertanyaannya adalah apakah film ini hanya mengandalkan visual yang bagus saja atau ceritanya juga mampu memberikan pengalaman yang menarik? Berikut adalah review pribadi saya setelah menonton Doraemon: Nobita and the New Castle of the Undersea Devil.


Sinopsis Singkat: Doraemon Nobita and the New Castle of the Undersea Devil

Dalam film ini Nobita dan teman-temannya kembali mendapatkan sebuah petualangan baru yang kali ini membawa mereka menuju dunia bawah laut. Mereka menemukan sebuah kastil rahasia yang berada di bawah laut dan tentunya tempat tersebut menyimpan berbagai misteri serta kekayaan yang tersembunyi.


Dengan bantuan berbagai peralatan canggih milik Doraemon, Nobita, Doraemon, Shizuka, Giant dan Suneo mulai melakukan perjalanan untuk menjelajahi dunia bawah laut tersebut. Dari sinilah petualangan mereka dimulai.


Seperti film Doraemon pada umumnya, awalnya masalah yang muncul terlihat seperti sesuatu yang sederhana, tetapi kemudian berkembang menjadi sebuah petualangan yang jauh lebih besar. Nobita yang menemukan adanya masalah dari pihak luar kemudian tidak bisa begitu saja tinggal diam dan akhirnya mengajak Doraemon serta teman-temannya untuk ikut membantu.


Petualangan tersebut kemudian membawa mereka ke sebuah dunia bawah laut yang penuh dengan misteri, berbagai kejadian tidak terduga dan tentunya tingkah konyol dari Nobita dan teman-temannya.


POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Visual yang semakin memukau :

  • Hal pertama yang langsung menarik perhatian saya ketika menonton film ini adalah visualnya. Jujur saya cukup kagum melihat bagaimana kualitas visual dari film Doraemon terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
  • Setiap movie Doraemon yang keluar sepertinya selalu memiliki peningkatan dari sisi visual. Entah itu desain dunia yang ditampilkan, efek cahaya, animasi karakter sampai dengan bagaimana dunia bawah laut dibuat terlihat begitu luas dan indah.
  • Menurut saya dunia bawah laut yang menjadi tempat utama dalam film ini benar-benar menjadi salah satu daya tarik terbesar. Banyak sekali pemandangan yang terlihat nyaman di mata dan membuat saya cukup betah melihat perjalanan Nobita dan teman-temannya.

Apalagi saya menonton film ini menggunakan format 4DX di CGV Jogja. Efek dari 4DX menurut saya cukup membantu memberikan pengalaman yang lebih terasa ketika melihat adegan perjalanan dan petualangan di bawah laut. Jadi bukan hanya melihat visualnya saja tetapi terasa seperti ikut dibawa masuk ke dalam perjalanan mereka.


Kalau ada satu hal yang menurut saya benar-benar menonjol dari film ini, mungkin visual adalah jawabannya.


kekurangan Dari Pendapat Saya Pribadi Setelah Menonton Film Doraemon:

Untuk bagian cerita menurut saya film ini tergolong biasa saja. Bukan berarti ceritanya jelek, tetapi konsep yang digunakan sebenarnya sudah cukup sering kita lihat dalam film Doraemon.


Biasanya akan ada sebuah masalah yang muncul dari pihak luar, kemudian Nobita secara tidak sengaja melihat atau mengetahui masalah tersebut. Karena sifat Nobita yang sebenarnya cukup peduli terhadap orang lain, dia tidak bisa tinggal diam dan akhirnya mengajak Doraemon serta teman-temannya untuk membantu.


Setelah itu petualangan dimulai dan mereka menemukan berbagai macam masalah baru sampai akhirnya harus menyelesaikan masalah tersebut.


Pola seperti ini menurut saya sudah menjadi ciri khas dari movie Doraemon. Jadi bagi kalian yang sudah sering menonton movie Doraemon, mungkin kalian akan cukup mudah menebak bagaimana arah ceritanya.


Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut karena memang saya datang untuk menikmati petualangan Doraemon dan teman-temannya. Tetapi kalau kita membicarakan dari sisi cerita yang benar-benar baru dan mengejutkan, menurut saya film ini belum sampai ke tahap tersebut.


Kelebihan Dari Film Doraemon: Nobita and the New Castle of the Undersea Devil

Kelebihan:

  • Visual yang sangat bagus dari film ini menurut saya menjadi daya tarik utama. Dunia bawah laut dibuat begitu indah dan detail sehingga sangat menyenangkan untuk dilihat.

  • Musik dan color grading juga menjadi bagian yang cukup saya sukai karena mampu membuat beberapa scene terasa lebih hidup dan nyaman untuk dilihat.
  • Petualangan bawah laut menjadi sesuatu yang menarik karena memberikan dunia baru yang cukup luas untuk dijelajahi oleh Nobita dan teman-temannya.
  • Komedi ringan dari tingkah Nobita dan Giant cukup membantu membuat film ini tidakterlalu seriusdan tetap terasa sebagai film Doraemon yang cocok untuk berbagai umur.
  • Sangat cocok ditonton bersama keluarga karena film ini tidak terlalu berat dan memiliki unsur petualangan, persahabatan serta kerja sama yang cukup kuat.

Kekurangan:

  • Alur cerita yang terasa familiar. Menurut saya pola cerita dalam film ini masih terasa seperti beberapa movie Doraemon sebelumnya. Ada masalah, Nobita mengetahuinya, kemudian mengajak teman-temannya melakukan petualangan dan akhirnya mereka harus menyelesaikan masalah tersebut.
  • Ending yang cukup mudah ditebak. Bagi kalian yang sudah sering menonton movie Doraemon mungkin akan bisa memperkirakan bagaimana perjalanan cerita ini akan berakhir.
  • Cerita tidak terlalu memberikan kejutan besar. Dibandingkan dengan visualnya yang sangat bagus, bagian cerita menurut saya masih terasa biasa saja.

Tetapi kembali lagi, hal tersebut merupakan pendapat pribadi saya. Mungkin bagi penonton lain justru cerita yang sederhana seperti ini merupakan salah satu alasan mereka menikmati film Doraemon karena tidak terlalu berat dan mudah diikuti.


Kesimpulan: Layak Ditonton atau Lewati Saja?

Secara keseluruhan menurut saya Doraemon: Nobita and the New Castle of the Undersea Devil merupakan film yang sangat layak untuk ditonton, terutama jika kalian memang menyukai Doraemon atau ingin mencari tontonan yang bisa dinikmati bersama keluarga.


Saya memang merasa dari sisi cerita film ini tidak memberikan sesuatu yang benar-benar baru. Pola ceritanya juga masih cukup mudah ditebak dan bagi penonton yang sudah sering menonton movie Doraemon mungkin akan merasa familiar dengan alurnya.


Tetapi untuk urusan visual, musik dan pengalaman petualangannya menurut saya film ini cukup memuaskan.


Terlebih kalau kalian memiliki kesempatan untuk menontonnya menggunakan format 4DX. Saya sendiri menontonnya di CGV Jogja dengan format 4DX dan menurut saya pengalaman tersebut cukup membantu membuat perjalanan bawah laut di film ini terasa lebih menyenangkan.


Jadi kalau kalian bertanya apakah film ini harus ditonton? Menurut saya iya, terutama untuk kalian yang ingin menonton film anime ringan bersama keluarga dan ingin menikmati visual petualangan bawah laut yang memanjakan mata.


Jangan terlalu berharap mendapatkan cerita yang sangat kompleks atau plot twist yang membuat kaget, karena kekuatan utama film ini menurut saya memang bukan berada di bagian tersebut.


Kalau dari rating IMDb sendiri film ini mendapatkan nilai sekitar 6.1/10.