Review Sakamoto Days Live Action: Adaptasi Anime yang Ternyata Bikin Puas!
Action Anime kriminal Layak Tonton
Hari Minggu kemarin saya memiliki cukup banyak waktu luang untuk menonton film. Di tengah antusiasme adaptasi Sakamoto Days, saya menyempatkan diri menonton proyek live action-nya yang tengah ramai dibicarakan komunitas di Bilibili.
Sebagai penggemar anime Sakamoto Days, jujur saya memiliki ekspektasi yang cukup tinggi terhadap adaptasi live action ini. Sebenarnya, saya bukan tipe orang yang menyukai film live action dari anime. Setelah kecewa dengan beberapa adaptasi, salah satunya Dragon Ball pada masanya, saya sudah sangat jarang tertarik untuk menonton live action anime lagi.
Tapi kali ini ada sesuatu yang membuat saya penasaran.
Ketika melihat trailernya, menurut saya adaptasi live action Sakamoto Days terlihat cukup mirip dengan manga aslinya. Mulai dari penampilan karakter sampai konsep aksinya, saya merasa film ini memiliki potensi untuk menjadi adaptasi yang bagus.
Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba menontonnya. Apalagi, sebagai penggemar animenya, saya tentu ingin tahu apakah film ini mampu menerjemahkan keseruan Sakamoto Days ke dalam versi live action.
Lalu, apakah ekspektasi saya terpenuhi? Atau justru film ini akan menjadi alasan lain bagi saya untuk semakin jarang menonton live action anime?
Sinopsis Singkat: Sakamoto Days Live Action
Sakamoto Days menceritakan Taro Sakamoto, seorang mantan pembunuh bayaran legendaris yang dahulu sangat ditakuti di dunia hitam. Namun, setelah jatuh cinta kepada Aoi, ia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan lamanya demi hidup damai bersama keluarga kecilnya.
Sekarang, Sakamoto menjalani kehidupan sederhana sebagai pemilik toko kelontong. Penampilannya pun berubah drastis dari sosok pembunuh bayaran yang dahulu sangat ditakuti.
Sayangnya, masa lalu tidak semudah itu untuk ditinggalkan. Ketika para pembunuh bayaran mulai memburunya, Sakamoto kembali terseret ke dalam dunia yang sudah lama ia tinggalkan.
Bersama Shin Asakura, mantan rekan yang memiliki kemampuan membaca pikiran, serta Lu Shaotang, mantan anggota mafia yang kini bekerja di toko Sakamoto, ia harus menghadapi berbagai ancaman yang datang silih berganti.
Namun, ada satu aturan yang tetap dipegang Sakamoto: ia tidak ingin membunuh lagi. Di tengah pertarungan melawan para pembunuh bayaran, Sakamoto harus melindungi keluarga dan orang-orang terdekatnya tanpa meninggalkan prinsip yang sudah ia pilih.
POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini
1. Sebagai Penggemar Anime, Saya Cukup Puas dengan Adaptasinya
Nah, ini bagian yang paling membuat saya senang. Sebagai penggemar Sakamoto Days, saya merasa film live action ini cukup berhasil menghadirkan nuansa dari karya aslinya.
Salah satu kekhawatiran terbesar saya ketika menonton adaptasi live action anime adalah bagaimana cerita dan karakter yang awalnya berbentuk animasi bisa diterjemahkan ke dunia nyata. Apalagi Sakamoto Days bukan anime yang hanya mengandalkan cerita biasa. Ada aksi yang berlebihan, humor absurd, dan karakter-karakter dengan kemampuan bertarung yang terkadang sulit dibayangkan jika diperankan manusia sungguhan.
Tapi dari apa yang saya lihat, film ini cukup memahami identitas Sakamoto Days. Ceritanya tidak berusaha menjadi film aksi yang terlalu serius atau realistis. Sebaliknya, film ini tetap mempertahankan pendekatan yang penuh aksi dan komedi.
Menurut saya, keputusan seperti ini cukup tepat. Kalau filmnya terlalu serius, justru ada kemungkinan kehilangan salah satu daya tarik utama dari Sakamoto Days.
Hal yang paling menarik dari Taro Sakamoto sendiri adalah kontras antara masa lalunya sebagai pembunuh bayaran legendaris dan kehidupannya sekarang sebagai pemilik toko kelontong yang ingin hidup damai bersama keluarga. Ia tidak lagi mengejar kehidupan lamanya, tetapi kemampuan bertarungnya tetap menjadi bagian penting dari cerita.
Karakter Shin Asakura juga menjadi bagian yang menarik karena ia bukan sekadar rekan Sakamoto. Shin memiliki kemampuan membaca pikiran, dan hubungannya dengan Sakamoto berkembang dari seseorang yang awalnya dikirim untuk membunuhnya menjadi rekan yang bekerja bersama di toko Sakamoto.
Selain itu, ada Lu Shaotang yang memiliki latar belakang sebagai mantan anggota mafia dan ahli bela diri. Kehadirannya menambah warna dalam kelompok Sakamoto, terutama karena sifatnya yang berbeda dari Shin.
Bagi saya, karakter-karakter seperti inilah yang membuat Sakamoto Days terasa berbeda dari film aksi biasa. Mereka memiliki latar belakang yang berhubungan dengan dunia pembunuh bayaran, tetapi kehidupan mereka tidak selalu harus serius dan penuh kekerasan.
Secara keseluruhan, saya cukup puas dengan pendekatan adaptasi ini. Tidak semua hal dari manga bisa dimasukkan ke dalam satu film, tetapi setidaknya filmnya masih terasa membawa identitas Sakamoto Days.
2. Adegan Aksinya Menjadi Salah Satu Daya Tarik Utama
Jujur, saya sempat khawatir dengan adegan aksi di film ini. Kita tahu bahwa aksi dalam anime bisa dibuat sebebas mungkin, sementara live action memiliki keterbatasan karena harus diperagakan oleh manusia sungguhan.
Namun, ternyata adegan aksinya cukup menghibur.
Salah satu hal yang menarik dari Sakamoto Days adalah bagaimana pertarungannya tidak selalu harus terlihat serius. Aksi bisa terasa berlebihan, kreatif, dan terkadang absurd, tetapi justru itulah yang membuatnya menyenangkan untuk ditonton.
Karakter Sakamoto sendiri memiliki gaya bertarung yang menarik karena ia tidak selalu mengandalkan senjata khusus. Ia bisa memanfaatkan benda-benda di sekitarnya untuk menghadapi lawan. Konsep seperti ini cocok dengan karakter yang ingin menjalani kehidupan sederhana, tetapi tetap memiliki kemampuan bertarung yang luar biasa.
Selain Sakamoto, ada Heisuke Mashimo yang dikenal sebagai penembak jitu dengan kemampuan menembak yang unik. Kehadiran karakter seperti Heisuke menunjukkan bahwa dunia Sakamoto Days tidak hanya berisi pertarungan jarak dekat, tetapi juga memiliki variasi kemampuan yang bisa membuat aksi terasa lebih beragam.
Menurut saya, film ini cukup berhasil membawa pendekatan tersebut ke dalam live action. Adegan pertarungannya terasa dinamis dan tidak hanya mengandalkan penyuntingan cepat untuk membuat semuanya terlihat keren.
Saya juga cukup tertarik dengan keterlibatan Keiya Tabuchi dalam koreografi aksi. Ia memiliki pengalaman mengerjakan adegan laga, termasuk dalam produksi tokusatsu. Menurut saya, pengalaman seperti itu memang cocok untuk film yang membutuhkan perpaduan antara aksi fisik dan gerakan yang berlebihan seperti Sakamoto Days.
Tentu saja, saya tidak akan mengatakan bahwa kualitas aksinya sempurna. Namun, untuk adaptasi live action anime seperti ini, hasilnya cukup memuaskan.
Dan yang paling penting, adegan aksinya menjadi salah satu alasan mengapa film ini tetap seru untuk diikuti.
3. Humor Absurdnya Tetap Menjadi Bagian Penting
Selain aksi, hal yang membuat Sakamoto Days menarik bagi saya adalah perpaduan antara cerita pembunuh bayaran dan kehidupan sehari-hari yang sederhana.
Bayangkan saja, seseorang yang dahulu merupakan pembunuh bayaran legendaris sekarang justru menjalani kehidupan sebagai pemilik toko kelontong. Kontras seperti inilah yang menjadi sumber humor dalam cerita.
Sakamoto bukan karakter utama yang harus terus-menerus terlihat keren. Justru salah satu daya tariknya adalah bagaimana ia bisa menghadapi situasi berbahaya, tetapi tetap memiliki kehidupan sederhana yang ingin ia lindungi.
Menurut saya, film ini perlu mempertahankan keseimbangan antara komedi dan aksi agar tidak kehilangan identitas aslinya.
Salah satu hal yang juga menarik adalah hubungan antara Sakamoto dan Shin. Shin menghormati Sakamoto, tetapi hubungan mereka tidak selalu berjalan serius. Ada ruang untuk interaksi yang lebih santai, sehingga cerita tidak terasa seperti rangkaian pertarungan tanpa jeda.
Begitu pula dengan Lu Shaotang, yang membawa karakter dan latar belakang berbeda ke dalam kelompok tersebut.
Bagi saya, perpaduan karakter dengan kepribadian yang berbeda bisa menjadi sumber komedi yang kuat. Kalau hanya berfokus pada pertarungan, Sakamoto Days mungkin akan terasa seperti film aksi biasa. Sebaliknya, kalau terlalu banyak komedi, ketegangan dalam ceritanya bisa berkurang.
Perpaduan kedua unsur tersebutlah yang membuat konsep Sakamoto Days menarik sejak awal.
4. Kekurangannya, Tidak Semua Karakter Mendapatkan Pengembangan yang Cukup
Meskipun saya cukup puas, bukan berarti film ini tidak memiliki kekurangan.
Salah satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa Sakamoto Days berasal dari manga dengan cerita dan karakter yang cukup banyak. Tentu saja, tidak semua latar belakang karakter bisa dimasukkan ke dalam satu film.
Menurut saya, ini menjadi tantangan terbesar ketika sebuah manga panjang diadaptasi menjadi film layar lebar. Durasi film terbatas, sementara penggemar manga mungkin sudah mengenal banyak karakter dan memahami latar belakang mereka.
Contohnya adalah Lu Shaotang. Dalam materi aslinya, ia memiliki latar belakang sebagai mantan anggota mafia. Latar belakang tersebut bisa memberikan kedalaman lebih pada karakternya, tetapi ketika cerita harus dipadatkan menjadi film, pengembangan seperti ini berpotensi terasa terbatas.
Hal serupa juga bisa dibahas pada Heisuke Mashimo. Ia bukan sekadar karakter penembak jitu yang muncul untuk membantu Sakamoto, tetapi memiliki peran tersendiri dalam cerita aslinya. Perubahan hubungan dan perkembangan karakternya tentu membutuhkan waktu agar terasa lebih alami.
Kemudian ada Natsuki Seba, yang memiliki keterkaitan dengan cerita yang lebih luas dalam manga. Ketika karakter seperti ini diperkenalkan tanpa banyak ruang untuk menggali latar belakangnya, penonton yang belum mengenal cerita asli mungkin akan bertanya-tanya seberapa penting perannya.
Bagi penggemar manga atau anime, pemangkasan cerita seperti ini mungkin masih bisa diterima karena kita sudah mengenal dunia dan karakter Sakamoto Days. Namun, bagi penonton baru, beberapa karakter bisa terasa kurang memiliki kedalaman emosional.
Menurut saya, film adaptasi tidak harus memasukkan seluruh isi manga. Justru memilih cerita yang paling penting bisa menjadi keputusan yang tepat. Namun, karakter yang sudah dipilih untuk dimasukkan sebaiknya tetap mendapatkan pengembangan yang cukup agar penonton bisa memahami hubungan mereka dengan cerita utama.
5. X atau Slur Belum Terasa Menonjol
Salah satu karakter yang juga menarik untuk dibahas adalah X, yang dikenal sebagai Slur.
Dalam cerita Sakamoto Days, X merupakan sosok antagonis yang berkaitan dengan ancaman terhadap Sakamoto dan dunia para pembunuh bayaran. Keberadaan karakter seperti ini seharusnya bisa memberikan konflik yang lebih besar daripada sekadar pertarungan melawan lawan-lawan biasa.
Saat menontonnya, saya merasa porsi kemunculan X alias Slur masih sangat minim untuk langsung diposisikan sebagai ancaman utama..
Dengan durasi yang sempit, film ini tampak kewalahan membagi porsi antara pengenalan kru toko kelontong dan pembangunan aura teror Slur, sehingga tensi rivalitas besarnya terasa terburu-buru.
Kalau karakter antagonis belum mendapatkan pengembangan yang cukup, konflik utamanya bisa terasa belum sepenuhnya matang.
Namun, saya juga memahami bahwa film ini mungkin sedang membuka jalan untuk cerita berikutnya. Apalagi, dunia Sakamoto Days memiliki banyak karakter dan konflik yang tidak mungkin semuanya diselesaikan dalam satu film.
Meski begitu, bagi saya pribadi, pengenalan karakter antagonis tetap perlu dibuat cukup kuat agar penonton memiliki alasan untuk benar-benar tertarik mengikuti konflik selanjutnya.
6. Apakah Live Action Ini Bisa Dinikmati oleh Penonton Baru?
Menurut saya, ini juga menjadi pertanyaan yang menarik.
Sebagai penggemar anime Sakamoto Days, saya tentu memiliki keuntungan karena sudah mengenal konsep dan karakter-karakternya. Jadi, ketika ada bagian cerita yang terasa cepat, saya masih bisa mengikuti arahnya.
Namun, bagaimana dengan penonton yang belum pernah menonton animenya?
Saya rasa film ini tetap memiliki daya tarik dari sisi aksi dan komedi. Premis tentang mantan pembunuh bayaran yang ingin hidup damai bersama keluarganya sebenarnya cukup mudah dipahami, bahkan tanpa harus mengetahui cerita manga terlebih dahulu.
Karakter seperti Taro Sakamoto juga memiliki motivasi yang jelas: ia ingin melindungi keluarga dan menjalani kehidupan normal. Shin Asakura menjadi rekan yang membantu menghubungkan kehidupan Sakamoto sekarang dengan masa lalunya, sedangkan Lu Shaotang menambah dinamika kelompok mereka.
Namun, beberapa karakter pendukung dan konflik yang lebih besar mungkin terasa kurang mendalam jika penonton belum mengenal materi aslinya.
Bagi saya, adaptasi yang bagus bukan berarti harus menyalin seluruh isi manga secara persis. Yang lebih penting adalah bagaimana film tersebut bisa menyampaikan cerita yang utuh dalam durasi terbatas, tanpa menghilangkan hal-hal yang membuat karya aslinya disukai.
Dan untuk Sakamoto Days, saya merasa film ini sudah cukup berhasil memberikan pengalaman yang menghibur, terutama bagi penggemar yang ingin melihat karakter favorit mereka hadir dalam versi live action.
Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Sakamoto Days Live Action
Kelebihan
Nuansa karya aslinya masih terasa. Film ini mempertahankan perpaduan aksi, komedi, dan situasi absurd yang menjadi daya tarik Sakamoto Days.
Adegan aksi cukup menghibur. Koreografi pertarungannya dinamis dan menjadi salah satu daya tarik utama film.
Karakter utama memiliki konsep yang menarik. Taro Sakamoto sebagai mantan pembunuh bayaran yang ingin hidup damai bersama keluarga memberikan perpaduan unik antara aksi dan komedi.
Hubungan antarkarakter memberikan warna. Interaksi Sakamoto, Shin Asakura, dan Lu Shaotang membuat cerita tidak hanya berfokus pada pertarungan.
Cocok untuk penggemar anime. Bagi penonton yang sudah mengenal Sakamoto Days, film ini memberikan kesempatan untuk menikmati karakter dan dunianya dalam format berbeda.
Kekurangan
Pengembangan karakter pendukung terbatas. Karakter seperti Lu Shaotang, Heisuke Mashimo, dan Natsuki Seba memiliki latar belakang yang lebih luas dalam materi aslinya, tetapi tidak semuanya bisa dikembangkan secara mendalam dalam film.
Beberapa bagian cerita terasa cepat. Durasi film membatasi ruang untuk membangun latar belakang dan hubungan antarkarakter.
X atau Slur belum terasa mengancam. Porsi kemunculannya di film ini tergolong minim, sehingga tensi bahaya dan rivalitas besarnya belum terbangun secara maksimal.
Penonton baru mungkin kurang memahami beberapa karakter. Penggemar manga atau anime lebih mudah mengikuti cerita karena sudah mengenal materi aslinya.
Tidak semua detail manga bisa diadaptasi. Hal ini wajar untuk sebuah film, tetapi tetap bisa menjadi kekurangan bagi penggemar yang berharap melihat lebih banyak bagian dari cerita aslinya.
Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?
Sekarang pertanyaannya adalah, apakah Sakamoto Days Live Action layak ditonton atau lebih baik dilewati saja?
Menurut saya, film ini layak ditonton, terutama buat kalian yang menyukai anime Jepang dan penggemar Sakamoto Days.
Awalnya saya cukup ragu karena pengalaman menonton beberapa adaptasi live action anime sebelumnya membuat saya tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi. Namun, setelah melihat trailer yang cukup menjanjikan, saya akhirnya mencoba menontonnya dan hasilnya cukup memuaskan.
Buat saya, film ini membuktikan bahwa adaptasi live action anime masih bisa terasa menghibur selama memahami apa yang membuat karya aslinya menarik. Tidak harus semuanya dibuat realistis atau serius, karena terkadang justru keunikan dan kegilaan dari materi aslinya yang perlu dipertahankan.
Memang, ada kekurangan dari sisi pengembangan karakter seperti Lu Shaotang, Heisuke Mashimo, dan Natsuki Seba, serta keterbatasan porsi karakter antagonis X. Namun, kekurangan tersebut tidak sampai menghilangkan kesan positif saya terhadap film ini.
Meski di forum dan situs IMDB rating film ini hanya mendapat skor rata-rata sekitar 6/10, angka tersebut rasanya tidak sepenuhnya mencerminkan keseruan yang ditawarkan.
Bagi saya pribadi, film ini cukup berhasil memenuhi ekspektasi sebagai penggemar anime Sakamoto Days. Jadi, kalau kalian menyukai anime Jepang, terutama yang menggabungkan aksi dengan komedi absurd, film ini bisa menjadi pilihan tontonan yang menarik.
Layak ditonton? Menurut saya, iya.




