Featured Post

Recommended

Review Film Harusnya Horror: Harusnya Lucu Atau Horror ?

  Belakangan ini genre film horror komedi begitu banyak yang muncul di layar lebar bioskop indonesia, mulai dari jenis film remake film dari...

Review Film Crawler: Poster Keren, Isi Film Bikin Menyesal Nonton

Review Film Crawler: Poster Keren, Isi Film Bikin Menyesal Nonton

Review Film Crawlers


Hari ini saya sedang berada di Semarang karena hotel tempat saya menginap kebetulan dekat dengan bioskop Indo XXI Semarang. Mumpung lokasinya dekat, sekalian saja saya mencoba menonton salah satu film yang sedang tersedia di sana. Pilihan saya jatuh ke film Crawler.

Jujur, pertama kali melihat poster film ini, saya berpikir kalau film ini bakal masuk ke genre horor. Apalagi premisnya berkaitan dengan laba-laba mematikan yang menyerang sebuah gedung apartemen. Menurut saya, ide seperti ini sebenarnya cukup menarik untuk dijadikan film horor, karena siapa sih yang tidak takut kalau tiba-tiba ada laba-laba berbahaya di tempat tinggalnya sendiri?

Oiya, ada satu hal yang ingin saya ceritakan sebelum masuk ke pembahasan filmnya. Ini pertama kalinya saya mencoba menonton di Indo XXI Semarang, dan pengalaman menontonnya menurut saya cukup jauh berbeda dibandingkan dengan NSC yang biasa saya kunjungi.

Dari segi kenyamanan kursi, kualitas sound studio, sampai visual di dalam studio, semuanya terasa berbeda. Kualitas visualnya juga bagus banget. Jadi, untuk pengalaman menonton di bioskopnya sendiri, saya cukup puas.

Tapi bagaimana dengan film yang saya tonton?

Ketika masuk ke studio, ternyata hanya ada sekitar lima orang yang menonton film ini, dan di saat itu aku udah mulai coba untuk menurunkan expetasiku.

Sayangnya, setelah menonton film ini, saya justru punya banyak hal yang ingin saya keluhkan.


Sinopsis Singkat: Crawler


Film Crawler berkisah tentang Serena (Matilda Lutz), seorang pengelola gedung apartemen Paradiso Palms yang harus menghadapi wabah laba-laba mematikan. Situasi yang awalnya terlihat seperti wabah biasa berubah menjadi ancaman serius ketika laba-laba berbisa mulai berkembang biak dan menyerang penghuni gedung.

Masalah semakin parah ketika gedung tersebut dikarantina, membuat para penghuni kesulitan untuk keluar dan menyelamatkan diri. Serena yang mengenal seluk-beluk gedung itu menjadi harapan bagi para penghuni untuk menemukan jalan keluar.

Namun, ada satu masalah besar: Serena sendiri harus menghadapi ketakutannya terhadap laba-laba di tengah situasi yang semakin berbahaya.

POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Harusnya Bisa Jadi Menarik Dari Film ini


1. Premisnya Sebenarnya Menarik, Tapi Eksekusinya...


Nah, kalau melihat premisnya saja, sebenarnya saya cukup tertarik dengan film ini. Bayangkan saja, kita terjebak di dalam gedung apartemen yang dipenuhi laba-laba berbahaya, sementara akses keluar dibatasi karena karantina.

Menurut saya, gedung apartemen adalah tempat yang cocok untuk cerita horor atau survival seperti ini. Ada lorong sempit, lift, ventilasi, ruangan gelap, sampai berbagai sudut yang bisa menjadi tempat persembunyian laba-laba. Belum lagi kalau kita membayangkan harus melewati tempat-tempat tersebut tanpa tahu apakah ada laba-laba yang menunggu di sana.

Situasinya sebenarnya bisa dibuat menegangkan. Penonton bisa dibuat ikut merasa waswas setiap kali karakter harus melewati lorong atau masuk ke ruangan yang belum diketahui kondisinya.

Selain itu, saya juga melihat potensi dari karakter Serena sebagai pengelola gedung. Pengetahuannya tentang tata letak apartemen seharusnya bisa menjadi keunggulan penting untuk bertahan hidup. Hal yang biasanya dianggap sebagai pekerjaan biasa justru bisa menjadi penentu keselamatan banyak orang.

2. Film yang Bikin Saya Menyesal Sudah Menontonnya


Jujur, saya jarang sampai merasa tidak menemukan satu pun hal yang benar-benar menarik dari sebuah film. Saya termasuk tipe orang yang terkadang justru menyukai film ketika orang lain menganggapnya buruk.

Makanya, ketika saya mengatakan bahwa film ini benar-benar buruk menurut saya, itu bukan sekadar karena ceritanya tidak sesuai ekspektasi.

Saya datang dengan harapan bisa mendapatkan tontonan horor yang seru. Setidaknya, dengan premis serangan laba-laba mematikan di dalam gedung apartemen, saya berharap film ini bisa memberikan ketegangan dan membuat saya ikut merasakan situasi para karakternya.

Namun, hasil akhirnya justru membuat saya kecewa.

Bagi saya, masalahnya bukan sekadar film ini tidak menakutkan. Saya juga tidak merasa mendapatkan pengalaman menonton yang memuaskan secara keseluruhan. Padahal, ide dasarnya punya potensi untuk dikembangkan menjadi film survival yang menegangkan.

Rasanya sayang sekali ketika sebuah film sudah memiliki konsep yang cukup mudah menarik perhatian, tetapi hasil akhirnya justru tidak mampu memenuhi harapan saya.

3. Akting, Musik, dan Produksinya Tidak Menyelamatkan Film Ini


Kalau melihat komentar negatif penonton lain yang saya temukan, ada yang sampai menyebut film ini seolah tidak punya plot, akting, musik, maupun produksi yang layak.

Saya sendiri bisa memahami kenapa ada penonton yang bereaksi sekeras itu. Dari pengalaman menonton saya, film ini memang tidak memberikan kesan positif yang cukup kuat untuk membuat saya melupakan kekurangannya.

Namun, saya tidak ingin berpura-pura menganalisis setiap aspek teknis secara mendalam ketika hal yang paling terasa bagi saya adalah kekecewaan terhadap filmnya secara keseluruhan.

Yang jelas, buat saya, film ini gagal memberikan pengalaman menonton yang sebanding dengan premis yang ditawarkan.

Apalagi, ketika sebuah film mengandalkan ancaman makhluk berbahaya dan situasi bertahan hidup, ketegangan menjadi salah satu hal yang sangat penting. Kalau penonton tidak merasa tegang atau terbawa dalam situasi mencekam menurut saya itu sebuah hal fatal.

4. Satu-Satunya Kelebihan: Posternya Keren


Kalau ditanya apa kelebihan film Crawler menurut saya, jawabannya cukup sederhana: posternya keren.

Iya, cuma itu yang paling bisa saya apresiasi dari film ini.

Justru poster itulah yang awalnya membuat saya tertarik dan memutuskan untuk menonton. Saya membayangkan film tentang laba-laba mematikan ini bakal memberikan pengalaman horor yang menarik.

Sayangnya, harapan yang muncul sebelum menonton tidak bertahan setelah filmnya selesai.

Ini juga menjadi pengingat buat saya bahwa poster yang menarik memang bisa membuat orang penasaran, tetapi tetap tidak menjamin filmnya akan bagus.

5. Jadi, Apa yang Bisa Saya Harapkan dari Film Ini?


Menurut saya, Crawler sebenarnya memiliki modal awal yang cukup menarik. Latar gedung apartemen, ancaman laba-laba berbahaya, dan karakter yang harus menghadapi ketakutannya sendiri bisa menjadi kombinasi yang bagus.


Saya membayangkan film ini bisa memanfaatkan ruang-ruang sempit untuk menciptakan rasa klaustrofobik, membuat penonton waswas terhadap setiap sudut ruangan, dan memperlihatkan perjuangan karakter untuk bertahan hidup.

Tapi pada akhirnya, semua itu masih sebatas potensi yang saya lihat dari premisnya.

Sebagai penonton, saya tidak datang ke bioskop hanya untuk membayangkan betapa bagusnya film ini jika dibuat dengan lebih baik. Saya datang untuk menikmati film yang benar-benar ditampilkan di layar.

Dankalau setelah menonton saya justru lebih banyak memikirkan betapa kecewanya saya, berarti ada sesuatu yang tidak berhasil buat saya sebagai penonton.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Crawler


Kelebihan:

  • Poster filmnya menarik dan berhasil membuat saya penasaran.
  • Premis serangan laba-laba mematikan di gedung apartemen sebenarnya punya potensi untuk menjadifilm survival yang menegangkan.
  • Pengalaman menonton di Indo XXI Semarang sendiri terasa nyaman, terutama dari segi kursi, sound studio, dan kualitas visual bioskopnya.

Kekurangan:

  • Eksekusi film tidak memenuhi ekspektasi saya terhadap premisnya.
  • Pengalaman menonton secara keseluruhan terasa mengecewakan.
  • Potensi cerita tentang bertahan hidup di gedung yang dipenuhi laba-laba tidak cukup membuat saya puas sebagai penonton.

Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?


Sekarang pertanyaannya adalah, apakah film Crawler layak ditonton atau lebih baik dilewati saja?

Kalau berdasarkan pengalaman saya, film ini sangat tidak layak untuk ditonton.

Jujur, saya berharap bisa memutar kembali waktu dan memilih film lain saja. Poster yang awalnya membuat saya penasaran ternyata menjadi satu-satunya hal yang benar-benar bisa saya apresiasi.

Di IMDb, film ini tercatat memiliki rating 4,8/10 dari 154 penilaian, berdasarkan informasi yang saya lihat. Rating tersebut tentu bukan satu-satunya patokan untuk menilai sebuah film, tetapi pengalaman pribadi saya setelah menontonnya memang sejalan dengan kekecewaan tersebut.

Kalau kalian tertarik hanya karena posternya atau karena premisnya terdengar seru, menurut saya sebaiknya pikirkan lagi sebelum memutuskan untuk menonton.

Untuk pengalaman bioskop di Indo XXI Semarang, saya justru punya kesan yang jauh lebih positif dibandingkan film yang saya tonton.

Jadi, untuk Crawler, saya memilih untuk bilang: lewati saja, dan simpan waktu serta uang kalian untuk film lain.
Review Film Other Mommy: Horor dengan Visual Ceria yang Ternyata Mengerikan

Review Film Other Mommy: Horor dengan Visual Ceria yang Ternyata Mengerikan

 

Review Film Other Mommy

Belakangan ini saya memang cukup jarang menonton film horror. Bukan karena tidak suka, tapi entah kenapa saya lebih sering memilih genre lain ketika datang ke bioskop.

Nah, kebetulan hari ini saya mendapatkan libur kerja dan saya berpikir untuk mencoba datang ke NSC Kudus dan mencari film yang mungkin menarik untuk ditonton.

Setelah melihat beberapa pilihan film yang sedang tayang, akhirnya pilihan saya jatuh ke Other Mommy.

Saya menonton film ini sendirian dan ternyata jumlah penonton di dalam studio juga tidak terlalu banyak. Kalau saya perkirakan mungkin hanya sekitar 15 orang saja yang ikut menonton film ini.

Jujur, awalnya saya tidak memasang ekspektasi tinggi. Melihat premisnya, saya sempat mengira film ini hanya akan mendaur ulang formula jumpscare klise ala Insidious. Namun saat durasi berjalan, Other Mommy justru menyuguhkan kejutan yang berhasil membalikkan asumsi awal saya.

Di luar dugaan, film ini menyuguhkan pengalaman menonton yang memuaskan lewat beberapa pendekatan tematik tak biasa, meskipun secara teknis belum bisa dikatakan sempurna.


Sinopsis Singkat: Other Mommy


Other Mommy bercerita tentang seorang anak perempuan berusia 8 tahun bernama Bela yang hidup di tengah masalah keluarganya.

Suatu hari Bela mulai berhadapan dengan sosok misterius yang muncul dari dalam lemarinya.

Sosok tersebut kemudian ia sebut sebagai “Other Mommy” atau “Ibu yang Lain”.

Awalnya mungkin terlihat seperti teman imajinasi atau sosok yang hanya muncul dari kamar seorang anak.

Tetapi semakin lama, keberadaan Other Mommy justru semakin mengancam.

Bukan hanya Bela yang berada dalam bahaya, tetapi seluruh keluarganya juga ikut terlibat dalam teror yang semakin sulit dijelaskan.

Dan dari sinilah misteri mengenai sosok Other Mommy mulai berkembang.


POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini


1. Awalnya Saya Mengira Film Ini Bakal Jadi Tiruan Insidious


Jujur, ini adalah pikiran saya ketika pertama kali melihat premis filmnya.

Anak kecil, sosok misterius, muncul dari lemari, kemudian mulai meneror keluarga.

Entah kenapa saya langsung teringat dengan beberapa film horror supernatural yang sudah pernah saya tonton, terutama Insidious.

Saya sempat berpikir,

“Jangan-jangan ini cuma versi lain dari Insidious.”

Dan kalau memang filmnya hanya mengandalkan formula seperti itu, saya rasa saya tidak akan terlalu menikmati filmnya.

Tapi ternyata dugaan saya cukup meleset.

Semakin film berjalan, saya justru menemukan pendekatan yang menurut saya lebih menarik.


Film ini tidak hanya mengandalkan sosok menyeramkan atau jumpscare.


Ada unsur misteri dan bahkan sedikit nuansa fiksi ilmiah yang menurut saya membuat konsep Other Mommy terasa berbeda.


Jadi meskipun premis awalnya membuat saya teringat film horror lain, semakin lama saya menonton justru semakin penasaran dengan apa sebenarnya sosok Other Mommy ini.


2. Horornya Justru Bersembunyi di Balik Warna-Warna Cerah


Nah, ini salah satu hal yang paling saya suka dari Other Mommy.


Biasanya ketika kita berbicara mengenai film horror, yang langsung terbayang adalah suasana gelap, rumah tua, warna yang dibuat kusam, kemudian musik yang perlahan membuat kita merasa tidak nyaman.


Tapi film ini menurut saya punya pendekatan yang cukup menarik.


Di beberapa bagian, film tetap menggunakan warna yang cukup cerah dan terlihat seperti dunia anak-anak.


Justru dari situ saya merasa ada sesuatu yang aneh.


Karena ketika sesuatu yang seharusnya terlihat ceria mulai dipadukan dengan sesuatu yang mengerikan, kontrasnya terasa lebih kuat.


Buat saya, ini jauh lebih menarik daripada kalau seluruh film dibuat gelap dari awal sampai akhir.


Filmnya seperti mengatakan bahwa sesuatu yang terlihat aman dan menyenangkan belum tentu benar-benar aman.


Dan menurut saya pendekatan seperti ini cukup cocok dengan cerita tentang seorang anak kecil yang berhadapan dengan sosok misterius.


3. Ketegangannya Sudah Terasa Sejak Awal


Saya juga cukup suka dengan bagaimana film ini membangun ketegangannya.


Saya tidak merasa harus menunggu terlalu lama sampai film mulai menunjukkan sisi horornya.


Dari awal, saya sudah mendapatkan tanda-tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres.


Dan menurut saya ini penting.


Saya pribadi kurang suka kalau film horror terlalu lama membangun suasana tetapi tidak memberikan sesuatu yang membuat saya penasaran.


Bukan berarti film harus langsung memberikan jumpscare setiap beberapa menit.


Justru menurut saya ketegangan bisa dibangun dengan membuat penonton bertanya-tanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi.


Dan Other Mommy cukup berhasil melakukan hal tersebut.


Saya dibuat penasaran dengan sosok yang muncul dari lemari itu.


Sebenarnya dia apa?


Apa yang dia inginkan?


Dan kenapa keberadaannya bisa memberikan pengaruh yang begitu besar terhadap Bela dan keluarganya?


Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang membuat saya terus mengikuti filmnya.


4. Other Mommy Bukan Sekadar Hantu yang Bersembunyi di Kegelapan


Kalau bicara soal sosok Other Mommy, menurut saya ini justru salah satu kekuatan film.


Yang membuatnya menyeramkan bukan hanya karena penampilannya.


Dia juga tidak selalu harus bersembunyi di balik tempat gelap untuk membuat suasana terasa menakutkan.


Ketika sosok tersebut muncul, saya merasa kehadirannya memang dibuat untuk mengganggu rasa aman para karakter.


Apalagi karena sosok ini berhubungan langsung dengan Bela yang masih seorang anak kecil.


Menurut saya, hal tersebut membuat ancamannya terasa lebih mengganggu.


Bukan hanya karena ada “hantu” di dalam rumah.


Tapi ada sesuatu yang perlahan masuk ke kehidupan seorang anak dan kemudian memengaruhi keluarganya.


Kalau saya harus menggambarkannya, Other Mommy terasa seperti lebih dari sekadar sosok supernatural biasa.


Ada kesan bahwa karakter ini mewakili sesuatu yang lebih besar tentang ketakutan, kebohongan dan hal-hal yang disembunyikan.


Dan menurut saya, inilah yang membuat filmnya lebih menarik ketika dipikirkan setelah selesai menonton.


5. Jumpscare-nya Menurut Saya Berhasil


Untuk film horror, tentu saja saya tidak bisa melewatkan pembahasan soal jumpscare.


Dan menurut saya Other Mommy cukup berhasil dalam bagian ini.


Salah satu yang paling saya ingat adalah ketika sosok Other Mommy muncul dari lemari.


Itu benar-benar cukup mengagetkan.


Bukan cuma karena kemunculannya, tetapi sound yang digunakan juga ikut membantu membuat momen tersebut terasa lebih kuat.


Menurut saya jumpscare yang bagus bukan hanya soal tiba-tiba muncul sesuatu di layar.


Sound dan timing juga punya peran besar.


Kalau visualnya sudah dibuat menyeramkan tetapi sound-nya tidak mendukung, efeknya bisa terasa biasa saja.


Di film ini saya merasa keduanya cukup bekerja sama.


Dan hasilnya?


Saya yang menonton sendirian di bioskop cukup sepi tentu saja jadi lebih merasakan efeknya.


Walaupun penontonnya hanya sekitar 15 orang, justru suasana studio yang sepi membuat saya lebih mudah terbawa ke dalam film.


6. Color Grading dan Pengambilan Gambarnya Juga Mendukung


Selain jumpscare, saya cukup suka dengan cara film ini menggunakan visual untuk membangun suasana.


Color grading-nya menurut saya cukup menarik karena film tidak harus selalu dibuat gelap untuk memberikan kesan horror.


Ada bagian yang terlihat cerah dan penuh warna, tetapi justru terasa tidak nyaman karena kita tahu ada sesuatu yang mengancam di baliknya.


Pengambilan gambarnya juga membantu menjaga rasa penasaran.


Buat saya, ini salah satu kelebihan teknis film yang cukup terasa ketika menonton di bioskop.


Saya memang bukan orang yang terlalu paham secara teknis soal sinematografi atau color grading.


Tapi sebagai penonton, saya bisa merasakan ketika visual film berhasil membuat saya ikut masuk ke dalam suasana ceritanya.


Dan Other Mommy berhasil melakukan itu.


7. Ceritanya Terasa Lebih Segar dari yang Saya Perkirakan


Kalau kembali ke ekspektasi awal saya, sebenarnya saya cukup terkejut.


Saya datang dengan pikiran bahwa film ini mungkin akan menjadi film horror supernatural yang formula ceritanya sudah sering digunakan.


Tapi ternyata ada beberapa elemen yang membuat ceritanya terasa lebih segar.


Ada misteri yang membuat saya ingin tahu lebih jauh mengenai Other Mommy.


Ada hubungan antara sosok tersebut dengan Bela dan keluarganya.


Dan ada juga tema yang menurut saya sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan nyata.


Tentang bagaimana sebuah keluarga bisa terlihat baik-baik saja dari luar, padahal sebenarnya ada masalah yang mereka sembunyikan di balik pintu rumah mereka sendiri.


Menurut saya ini bagian yang menarik.


Karena pada akhirnya, horror tidak selalu harus berbicara tentang hantu.


Kadang sesuatu yang lebih menakutkan justru adalah masalah manusia itu sendiri.


8. Bagian Akhirnya Cukup Membekas


Saya tidak mau terlalu membahas detail ending karena menurut saya bagian ini lebih baik dirasakan sendiri ketika menonton.


Tapi menurut saya, bagian akhir film cukup menyentuh.


Ada kesan seperti cliffhanger, tetapi saya justru melihatnya dengan cara yang sedikit berbeda.


Menurut saya ending tersebut bisa dibaca sebagai metafora tentang kehidupan nyata.


Bagaimana seseorang bisa saja terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi sebenarnya ada sesuatu yang mengerikan terjadi di dalam rumahnya sendiri.


Dan terkadang kita memilih untuk berpura-pura semuanya baik-baik saja.


Menurut saya, interpretasi seperti ini membuat filmnya terasa lebih dari sekadar film horror tentang sosok yang muncul dari lemari.


Saya cukup suka ketika film horror memberikan ruang bagi penonton untuk memikirkan kembali apa yang baru saja mereka tonton setelah film selesai.


Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Other Mommy


Kelebihan


- Cerita horror terasa cukup fresh

Awalnya saya mengira film ini hanya akan menjadi tiruan film horror supernatural yang sudah sering kita lihat, tetapi ternyata ada beberapa ide yang membuatnya terasa berbeda.


- Jumpscare berhasil

Kemunculan Other Mommy dari lemari menjadi salah satu momen yang menurut saya benar-benar berhasil membuat kaget.


- Sound sangat mendukung

Sound menjadi salah satu elemen yang membuat beberapa adegan horror terasa lebih kuat.


- Color grading menarik

Film tidak hanya menggunakan warna gelap untuk menciptakan suasana horror. Warna-warna yang lebih cerah justru menciptakan kontras yang menarik.


- Sosok Other Mommy cukup menyeramkan

Menurut saya kekuatan karakternya bukan hanya dari penampilan, tetapi dari bagaimana keberadaannya mengganggu rasa aman karakter utama.


- Ketegangan terasa sejak awal

Film tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk mulai memberikan rasa penasaran dan ancaman kepada penonton.


Kekurangan


Satu-satunya kelemahan yang saya rasakan adalah faktor rewatchability yang rendah. Begitu misteri di balik Other Mommy terungkap, tensi dan lapis intriknya cenderung menguap, sehingga sensasi magisnya hanya benar-benar bekerja efektif pada penayangan pertama.


Walaupun saya mengakui film ini memiliki visual, sound, konsep horror dan atmosfer yang bagus, setelah selesai menonton saya tidak mendapatkan perasaan seperti,

“Wah, saya harus nonton film ini lagi.”


Bagi saya, pengalaman pertama menontonnya memang cukup menyenangkan dan beberapa bagian berhasil membuat saya terkejut.


Tetapi setelah film selesai, rasa penasarannya juga sudah cukup terjawab.


Jadi secara pribadi, saya tidak merasa memiliki alasan yang cukup kuat untuk melakukan rewatch.


Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?


Nah, ini mungkin bagian yang agak membingungkan.

Secara keseluruhan, Other Mommy berhasil mengeksekusi elemen audiovisual dan jumpscare-nya dengan solid, meski sensasinya bersifat one-time experience yang tidak menyisakan dorongan untuk menonton ulang.

Jadi kalau ditanya apakah film ini layak ditonton atau dilewati saja, jawaban saya mungkin...

Biasa saja.


Bukan berarti filmnya jelek.

Justru saya cukup menikmati pengalaman menontonnya, apalagi saya memang jarang menonton film horror dan kebetulan hari ini sedang libur kerja.


Saya datang ke NSC Kudus sendirian, masuk ke studio yang cukup sepi, dan ternyata mendapatkan film yang dari awal sudah berhasil membuat saya penasaran.

Saya suka dengan konsep Other Mommy, saya suka bagaimana film menggunakan warna-warna cerah untuk sesuatu yang horror, saya suka jumpscare-nya, dan sound-nya juga menurut saya sangat membantu.


Tapi setelah semuanya selesai?

Saya tidak merasa ingin menontonnya kembali.

Jadi untuk saya pribadi, Other Mommy adalah film horror yang cukup menarik untuk dicoba sekali, terutama kalau kalian suka film horror supernatural dengan konsep yang sedikit berbeda.

Kalau kalian sedang mencari tontonan horror untuk mengisi waktu dan kebetulan film ini sedang tayang, menurut saya boleh dicoba.

Tapi kalau kalian bertanya apakah film ini wajib banget ditonton?


Menurut saya tidak sampai segitunya.

Di IMDb, film ini mendapatkan rating sekitar 7/10, tetapi menurut saya rating tersebut tetap kembali kepada selera masing-masing penonton.

Untuk saya sendiri...


sekali nonton cukup.

Dan mungkin setelah pulang dari bioskop saya akan tetap mengingat Other Mommy sebagai salah satu film horror yang ternyata jauh lebih menarik daripada ekspektasi awal saya.

Review Film Forgotten Island Animasi Paling Cocok Untuk Healing Sepulang Kerja

Review Film Forgotten Island Animasi Paling Cocok Untuk Healing Sepulang Kerja

 

Review Film Forgotten Island

Belakangan ini film animasi tidak hanya datang dari Jepang atau Amerika saja. Semakin kesini saya mulai menemukan beberapa film animasi dari negara lain yang ternyata cukup menarik untuk ditonton.

Salah satunya adalah Forgotten Island.

Jujur, awalnya saya tidak terlalu tahu akan seperti apa film ini. Ditambah film ini berasal dari filipina hal yang cukup jarang aku tonton animasinya.

Saya menonton film ini sendirian di NSC Kudus, pada jam terakhir yang saya ambil yaitu sekitar pukul 16.00. Kondisi bioskop waktu itu cukup sepi dan tidak terlalu banyak orang yang memilih menonton film ini.

Tapi justru karena itulah pengalaman menontonnya terasa cukup menyenangkan.

Saya menontonnya sepulang kerja dan dari awal film dimulai saya sudah merasa kalau film ini cocok banget untuk ditonton setelah menjalani aktivitas seharian.

Gerakan animasinya menyenangkan untuk dilihat, musik dan sound-nya juga menurut saya sangat mendukung suasana film. Entah kenapa setelah selesai menonton saya merasa seperti baru saja mendapatkan waktu untuk healing sebentar setelah bekerja.

Dan ternyata...

Saya sangat menyukai film ini.


Sinopsis Singkat: Forgotten Island

Cerita Forgotten Island berfokus pada Jo dan Raissa, dua sahabat yang baru saja lulus sekolah dan sedang menghadapi perubahan besar dalam hidup mereka.


Di malam terakhir sebelum mereka harus menjalani jalan masing-masing, keduanya menemukan sebuah portal misterius yang membawa mereka menuju sebuah pulau fantasi bernama Nakali.


Masalahnya, pulau tersebut bukan tempat biasa.


Di dalam Nakali terdapat berbagai makhluk yang berasal dari mitologi dan cerita rakyat Filipina. Jo dan Raissa kemudian menyadari bahwa untuk bisa kembali ke rumah, mereka harus menghadapi konsekuensi yang cukup berat.


Kenangan tentang persahabatan mereka menjadi sesuatu yang dipertaruhkan.


Semakin lama mereka berada di sana, semakin besar kemungkinan mereka kehilangan kenangan tentang satu sama lain.


Dan dari sinilah petualangan mereka dimulai.


Mereka harus mencari cara untuk kembali pulang sebelum persahabatan yang sudah mereka bangun selama bertahun-tahun perlahan menghilang.


POV: Opini Pribadi dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini Menurutku


1. Film Yang Enak Banget Ditonton Sepulang Kerja


Saya mulai dari pengalaman pribadi saya ketika menonton film ini.


Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya menonton Forgotten Island sendirian di NSC Kudus sekitar jam 16.00 setelah selesai bekerja.


Biasanya kalau habis kerja saya sudah lumayan capek. Kadang ketika menonton film setelah bekerja, bukannya merasa rileks malah merasa ingin cepat pulang karena badan sudah lelah.


Tapi anehnya hal itu tidak saya rasakan ketika menonton Forgotten Island.


Dari awal film berjalan, saya justru merasa cukup santai menikmati visualnya.


Gerakan animasinya terasa hidup dan menyenangkan untuk dilihat. Ditambah dengan musik dan sound yang menurut saya cocok dengan suasana film, pengalaman menontonnya terasa seperti istirahat sebentar dari rutinitas.


Mungkin karena filmnya memang memiliki suasana petualangan dan fantasi yang ringan, jadi saya tidak perlu terlalu banyak berpikir berat ketika menontonnya.


Saya tinggal duduk, menikmati animasinya, mendengarkan musiknya, dan mengikuti perjalanan Jo dan Raissa.

Dan jujur...


buat saya ini salah satu film yang cocok banget ditonton setelah pulang kerja.


Bukan karena filmnya tidak memiliki cerita yang serius, tetapi cara film ini menyampaikan ceritanya membuat saya merasa nyaman mengikutinya.


2. Gaya Animasi Yang Langsung Menarik Perhatian Saya


Nah, ini salah satu alasan kenapa saya cukup suka dengan Forgotten Island.


Saya sangat menyukai gaya animasinya.


Kalau saya harus memberikan perbandingan dari apa yang pernah saya tonton, beberapa gerakan dan visualnya membuat saya teringat dengan Demon Slayer dan Puss in Boots.


Bukan berarti gaya animasinya sama persis.


Tetapi ada beberapa bagian yang membuat saya merasa gerakan karakter dan action-nya memiliki bobot yang berbeda dibandingkan animasi yang biasanya saya tonton.


Gerakannya terasa lebih dinamis.


Ketika karakter bergerak atau berada dalam situasi yang membutuhkan banyak gerakan, saya merasa animasinya tidak kaku. Ada energi di dalam gerakannya.


Dan ini salah satu hal yang membuat saya betah melihat filmnya.


Buat saya pribadi, film animasi tidak cukup hanya memiliki gambar yang bagus. Kalau gerakan karakternya terasa kaku atau tidak memiliki "berat", saya biasanya cepat kehilangan ketertarikan.


Tapi Forgotten Island justru sebaliknya.


Saya beberapa kali malah lebih fokus memperhatikan bagaimana karakter bergerak dan bagaimana dunia fantasi di dalam film tersebut ditampilkan.


3. Musik dan Sound-nya Bikin Pengalaman Menonton Jadi Lebih Menyenangkan


Selain animasi, saya juga cukup menikmati musik dan sound dalam film ini.


Saya memang bukan orang yang terlalu paham secara teknis mengenai sound design dalam film.


Tapi sebagai penonton biasa, saya bisa merasakan ketika musik dan suara yang digunakan berhasil membuat sebuah adegan terasa lebih hidup.


Dan itu yang saya rasakan di Forgotten Island.


Musiknya tidak terasa hanya sebagai pelengkap.


Ketika digabungkan dengan visual animasi dan perjalanan para karakternya, semuanya terasa menyatu.


Mungkin ini juga salah satu alasan kenapa pengalaman menonton film ini setelah pulang kerja terasa seperti healing.


Saya tidak datang ke bioskop dengan ekspektasi yang terlalu tinggi.


Saya hanya ingin duduk dan menonton film.


Tapi ternyata saya malah mendapatkan pengalaman menonton yang cukup menyenangkan.


4. Sebagai Orang Indonesia, Menonton Animasi Dengan Budaya Filipina Itu Menarik


Ini mungkin bagian yang paling menarik secara personal buat saya.


Saya memang lebih sering menonton animasi dari Jepang atau Amerika.


Jadi ketika menonton animasi yang mengambil banyak inspirasi dari budaya dan mitologi Filipina, rasanya cukup berbeda.


Saya jadi melihat bahwa cerita rakyat dan makhluk mitologi di Asia Tenggara ternyata bisa menjadi bahan yang sangat menarik untuk sebuah film animasi besar.


Salah satu yang paling menarik perhatian saya adalah Manananggal.


Sosok ini menurut saya benar-benar terlihat mengerikan.


Dan karena saya tidak terlalu familiar dengan cerita rakyat Filipina sebelumnya, saya juga merasa seperti sedang diperkenalkan dengan sesuatu yang baru.


Hal seperti ini yang membuat pengalaman menonton Forgotten Island terasa berbeda bagi saya.


Biasanya saya menonton animasi Jepang dengan berbagai cerita dan mitologi Jepang, atau animasi Amerika dengan budaya mereka sendiri.


Sekarang saya mencoba menonton animasi yang membawa budaya Filipina sebagai salah satu bagian penting dari dunianya.


Dan menurut saya itu keren.


Apalagi film ini tidak terasa seperti hanya menempelkan budaya Filipina sebagai hiasan.


Dunia Nakali memang dibangun berdasarkan cerita rakyat dan makhluk mitologi Filipina, sehingga budaya tersebut terasa menjadi bagian dari identitas filmnya.


5. Ceritanya Bukan Cuma Tentang Petualangan


Awalnya saya mengira saya akan mendapatkan film animasi petualangan biasa.


Dua sahabat masuk ke dunia lain, bertemu berbagai makhluk aneh, kemudian mencari jalan untuk pulang.


Tapi ternyata inti ceritanya lebih emosional dari yang saya bayangkan.


Masalah utama Jo dan Raissa bukan hanya bagaimana caranya keluar dari Nakali.


Mereka juga harus mempertahankan kenangan tentang persahabatan mereka.


Menurut saya, konsep ini cukup sederhana tetapi efektif.


Karena ketika kita bicara tentang persahabatan, salah satu hal yang paling penting memang adalah kenangan yang kita miliki bersama.


Bayangkan kalau semua pengalaman bersama seseorang perlahan hilang.


Orangnya masih ada.


Tapi kita sudah tidak ingat siapa dia.


Menurut saya konsep seperti ini yang membuat filmnya bisa terasa emosional tanpa harus selalu mengandalkan drama yang berlebihan.


Dan saya sendiri sempat merasa terharu ketika mengikuti hubungan Jo dan Raissa.


6. Saya Bisa Tertawa, Tapi Beberapa Bagian Juga Bikin Terharu


Saya suka ketika sebuah film bisa membuat saya merasakan lebih dari satu emosi.


Forgotten Island menurut saya berhasil melakukan hal tersebut.


Ada bagian yang membuat saya tertawa karena tingkah para karakternya, tetapi ada juga bagian yang membuat suasananya berubah menjadi lebih emosional.


Perpindahan seperti ini menurut saya cukup penting untuk film animasi.


Kalau sepanjang film hanya dibuat lucu, lama-lama jokes-nya bisa terasa melelahkan.


Kalau sepanjang film hanya serius dan emosional, pengalaman menontonnya juga bisa terasa berat.


Di Forgotten Island, saya merasa ada keseimbangan antara petualangan, humor, dan hubungan emosional Jo dengan Raissa.


Itulah yang membuat saya tidak merasa bosan ketika mengikuti perjalanan mereka.


Dan jujur saja...


Saya sempat berkaca-kaca.


Bukan sampai menangis sesenggukan ya, tetapi ada beberapa bagian yang cukup menyentuh buat saya.


7. Manananggal-nya Benar-Benar Menarik


Kalau bicara soal karakter yang paling menonjol dari sisi horor atau ancaman, saya rasa Manananggal menjadi salah satu yang paling menarik.


Saya memang tidak terlalu familiar dengan makhluk mitologi Filipina ini sebelumnya.


Tapi ketika melihat bagaimana sosok tersebut digunakan dalam film, saya merasa desainnya memang cukup mengerikan.


Yang saya suka adalah film ini tidak hanya menjadikan makhluk mitologi sebagai sesuatu yang terlihat keren secara visual.


Manananggal benar-benar terasa seperti bagian dari dunia Nakali.


Dan menurut saya ini membuat unsur mitologi dalam film terasa lebih menarik.


Saya jadi penasaran dengan cerita rakyat Filipina lainnya setelah menonton film ini.


Mungkin ini salah satu hal kecil yang menurut saya berhasil dilakukan filmnya.


Bukan cuma membuat saya terhibur, tetapi juga membuat saya ingin tahu lebih banyak tentang budaya yang sebelumnya tidak terlalu saya kenal.


Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Forgotten Island


Kelebihan


- Gaya animasi yang sangat menarik

Gerakan karakter terasa dinamis dan memiliki bobot. Buat saya ini menjadi salah satu daya tarik terbesar film.


- Musik dan sound sangat mendukung

Musik dan sound membuat pengalaman menonton terasa lebih hidup dan menjadi salah satu alasan film ini terasa menyenangkan ditonton sepulang kerja.


- Membawa budaya dan mitologi Filipina

Sebagai penonton Indonesia yang lebih sering menonton animasi Jepang dan Amerika, saya merasa mendapatkan sesuatu yang baru dari film ini.


- Ceritanya bisa lucu sekaligus menyentuh

Saya bisa tertawa di beberapa bagian tetapi juga mendapatkan momen yang cukup emosional.


- Hubungan Jo dan Raissa menjadi inti cerita yang menarik

Konsep mengenai kenangan dan persahabatan membuat perjalanan mereka terasa lebih emosional daripada sekadar petualangan mencari jalan pulang.


Kekurangan


Jujur, untuk bagian kekurangan saya tidak memiliki terlalu banyak keluhan terhadap film ini.


Saya menikmati sebagian besar pengalaman menontonnya.


Kalau harus mencari kekurangan, mungkin beberapa bagian cerita bisa terasa cukup familiar bagi penonton yang sudah sering menonton film animasi bertema petualangan dan dunia fantasi.


Tetapi untuk saya pribadi, hal tersebut tidak terlalu mengganggu karena film ini memiliki identitas sendiri melalui budaya dan mitologi Filipina yang dibawanya.


Jadi dibandingkan memikirkan kekurangannya, saya justru lebih banyak menikmati apa yang ditawarkan film ini.


Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?


Setelah selesai menonton Forgotten Island, saya bisa bilang kalau saya sangat menyukai film ini.


Bahkan kalau suatu saat film ini tersedia kembali untuk ditonton, saya tidak akan keberatan untuk menontonnya lagi.


Awalnya saya hanya datang ke bioskop setelah pulang kerja dan menonton sendirian di jam 16.00 dalam kondisi bioskop yang cukup sepi.


Saya tidak menyangka pengalaman menontonnya malah terasa seperti healing.


Visualnya menyenangkan, gerakan animasinya bagus, musik dan sound-nya juga membuat film terasa lebih hidup.


Dan yang paling saya suka adalah saya mendapatkan pengalaman menonton sesuatu yang berbeda.


Sebagai orang Indonesia, saya memang lebih sering menonton animasi Jepang dan Amerika.


Jadi melihat sebuah film animasi yang membawa budaya dan mitologi Filipina sebagai bagian penting dari ceritanya menurut saya merupakan pengalaman yang menarik.


Terakhir saya merasakan hal seperti ini ketika menonton Jumbo, dimana saya juga cukup kagum melihat bagaimana budaya lokal bisa dibawa ke dalam sebuah film animasi.


Tapi Forgotten Island memberikan pengalaman yang berbeda.


Film ini membuat saya tertawa, menikmati petualangannya, kagum dengan visualnya, dan di beberapa bagian bahkan membuat saya terharu.


Kalau kalian menyukai film animasi dengan visual yang bagus, cerita persahabatan, petualangan dan sedikit unsur mitologi, menurut saya Forgotten Island sangat layak untuk ditonton.


Bahkan kalau kalian belum terlalu familiar dengan animasi dari luar Jepang atau Amerika seperti saya, menurut saya justru film ini bisa menjadi salah satu pilihan untuk mencoba sesuatu yang berbeda.


Dan untuk saya pribadi?


Ini salah satu film yang akan saya tonton lagi kalau ada kesempatan.


Saya kasih rekomendasi tinggi untuk film ini.


Bukan hanya karena animasinya bagus, tapi karena setelah selesai menonton saya benar-benar merasa...


“Wah, enak juga ya nonton film begini sepulang kerja.”


Di imbd sendiri film ini dapat rating 7.8/10 dari 4.8k review per hari ini saat postingan ini  di post.

Review Colony — Film Zombie Korea Dengan Zombie Yang Berbeda

Review Colony — Film Zombie Korea Dengan Zombie Yang Berbeda

 

Review Colony

Kalau bicara soal film atau series Korea, ada beberapa aktor yang memang menurut saya selalu menarik untuk diikuti. Salah satunya adalah Ji Chang-wook.

Saya sendiri mulai menyukai Ji Chang-wook sejak menonton drama The K2. Dari sana saya mulai mengikuti beberapa film dan drama yang dia mainkan. Menurut saya salah satu hal yang membuat Ji Chang-wook menarik adalah kemampuan aktingnya yang cukup fleksibel, terutama ketika harus memainkan karakter yang berhubungan dengan action.

Nah, kali ini saya kembali menemukan salah satu film yang dibintangi oleh Ji Chang-wook yaitu Colony.

Berbeda dengan beberapa film sebelumnya yang saya tonton di bioskop, kali ini saya menonton Colony langsung dari rumah melalui Netflix bersama pasangan saya.

Dan kesan pertama saya ketika film ini mulai berjalan adalah...

“Wah, ini kok auranya mirip Train to Busan?”

Mulai dari tone warna, suasana tempat, sampai bagaimana kamera mengambil gambar ketika suasana mulai mencekam, saya cukup sering teringat dengan film Train to Busan.

Apalagi film ini memang masih berada di genre zombie dan survival.

Jadi sejak awal saya sudah memiliki ekspektasi yang cukup tinggi.

Bukan hanya karena Ji Chang-wook, tetapi juga karena film ini mencoba memberikan sesuatu yang berbeda dari film zombie pada umumnya.

Pertanyaannya, apakah akhirnya film ini bisa memberikan pengalaman yang menarik?

Sinopsis Singkat: Colony

Cerita bermula dari seorang profesor bernama Se Jeong yang menghadiri sebuah konferensi bioteknologi.

Namun konferensi tersebut berubah menjadi sebuah bencana ketika sebuah virus yang mengalami mutasi dengan sangat cepat dilepaskan.

Dalam waktu singkat wabah mulai menyebar dan orang-orang yang terinfeksi mulai mengalami perubahan.

Situasi menjadi semakin kacau ketika pihak berwenang akhirnya memblokir seluruh fasilitas untuk mencegah penyebaran wabah.

Se Jeong yang terjebak di dalam situasi tersebut kemudian harus berusaha bertahan hidup sekaligus mencari cara untuk menghentikan wabah sebelum semuanya terlambat.

Dan dari sinilah perjuangan untuk bertahan hidup dimulai.

POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Kesan Pertama: Auranya Mengingatkan Saya Dengan Train to Busan

Seperti yang saya bilang sebelumnya, hal pertama yang saya rasakan ketika menonton film ini adalah suasananya.

Tone warna dan pengambilan gambarnya membuat saya beberapa kali teringat dengan Train to Busan.

Bukan berarti film ini sama persis, tetapi ada aura yang menurut saya cukup mirip.

Terutama ketika kamera mulai memperlihatkan suasana tempat yang sudah kacau dan karakter mulai berusaha mencari jalan keluar.

Ada rasa sempit, terjebak dan tidak tahu apa yang akan muncul setelah ini.

Dan menurut saya hal seperti ini cukup penting dalam film zombie.

Karena film zombie tidak hanya membutuhkan zombie yang bagus, tetapi juga membutuhkan suasana yang membuat penonton merasa ikut terjebak bersama karakter di dalam film.

Saya sendiri menonton film ini bersama pasangan, jadi suasana mencekamnya lumayan terasa.

Beberapa kali kami benar-benar menunggu apakah setelah pintu dibuka akan muncul zombie atau tidak.

Zombie Di Film Ini Tidak Seperti Zombie Pada Umumnya

Nah ini justru bagian yang paling saya sukai dari Colony.

Kalau biasanya zombie hanya memiliki satu tujuan yaitu mengejar manusia, menggigit, kemudian membuat orang lain ikut terinfeksi, di film ini konsepnya menurut saya jauh lebih menarik.

Zombie yang ada di Colony seperti terus mengalami perkembangan.

Mereka bukan hanya sekedar manusia yang terinfeksi virus.

Kemampuan mereka bisa berkembang dari waktu ke waktu.

Mulai dari penciuman, penglihatan sampai tingkat kecerdasan.

Dan menurut saya ini memberikan sesuatu yang cukup berbeda.

Awalnya saya berpikir, “oh ini zombie biasa.”

Tapi semakin film berjalan, saya mulai menyadari kalau zombie yang ada di film ini ternyata memiliki kemampuan yang berbeda.

Dan semakin lama justru semakin kuat.

Menurut saya ini salah satu alasan kenapa filmnya cukup menarik untuk diikuti sampai akhir.

Karena kita sebagai penonton tidak pernah benar-benar tahu kemampuan apa lagi yang akan ditunjukkan oleh zombie tersebut.

Saya Suka Ada Penjelasan Tentang Virusnya

Salah satu hal yang sering membuat saya kurang suka dengan film zombie adalah ketika virusnya hanya dijadikan alasan supaya orang-orang berubah menjadi zombie.

Sudah.

Tidak dijelaskan lagi.

Tapi di Colony saya merasa penjelasan mengenai virus dan perubahan yang terjadi masih cukup mendapatkan perhatian.

Ada semacam latar belakang dan eksposisi mengenai bagaimana wabah tersebut bisa berkembang.

Menurut saya ini membuat film terasa lebih seperti film zombie dengan teknologi tinggi daripada sekedar film zombie biasa.

Ada unsur biologi, eksperimen, mutasi dan bagaimana virus tersebut memengaruhi manusia.

Jadi selain mendapatkan adegan action, saya juga mendapatkan sedikit teori mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Ji Chang-wook Menurut Saya Tetap Menjadi Daya Tarik Utama

Tentu saja saya tidak bisa melewatkan bagian ini.

Saya memang menonton film ini salah satu alasan utamanya karena ada Ji Chang-wook.

Sejak The K2, saya memang cukup suka dengan kemampuan aktingnya.

Dan di Colony menurut saya aktingnya tetap bagus.

Walaupun saya tidak akan mengatakan karakter di film ini merupakan karakter terbaik yang pernah dia mainkan, tetapi saya tetap bisa merasakan kemampuan aktingnya ketika situasi mulai berubah menjadi semakin kacau.

Terutama ketika karakter harus menghadapi kondisi yang tidak bisa diprediksi.

Dan menurut saya chemistry antar pemain juga cukup bagus.

Tidak terasa seperti semua karakter hanya dimasukkan untuk menjadi korban zombie.

Karakter Perempuan Utamanya Juga Tidak Lemah

Salah satu hal yang saya cukup suka adalah karakter perempuan utama di film ini tidak dibuat sebagai karakter yang hanya menunggu diselamatkan.

Justru pengetahuan yang dia miliki sebagai seorang profesor biologi manusia dan hewan menjadi salah satu senjata untuk menghadapi zombie.

Jadi dia tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik.

Dia menggunakan pengetahuan yang dia miliki untuk memahami apa yang terjadi.

Menurut saya ini keputusan yang cukup bagus.

Karena ketika melawan zombie yang semakin kuat, akan terasa aneh kalau manusia hanya mengandalkan senjata dan kekuatan fisik.

Di film ini pengetahuan menjadi salah satu bagian penting dalam usaha mereka bertahan hidup.

Zombie-nya Justru Terlalu Kuat

Nah, ini masuk ke bagian yang menurut saya menjadi kekurangan.

Saya suka konsep zombie yang berbeda.

Saya suka mereka berkembang.

Saya suka kemampuan mereka.

Tapi di beberapa bagian menurut saya zombie dan antagonisnya terasa terlalu kuat.

Sampai saya beberapa kali berpikir,

“Ini manusia mau ngelawan pakai apa?”

Karena semakin lama kemampuan zombie semakin berkembang, sementara karakter manusia terasa cukup terbatas.

Menurut saya akan lebih menarik kalau kekuatan antara manusia dan zombie dibuat sedikit lebih seimbang.

Bukan berarti zombienya harus lemah, tetapi harus ada kesempatan bagi karakter manusia untuk melakukan perlawanan dengan cara yang lebih masuk akal.

Kurang Karakter Pendukung Yang Benar-Benar Kuat

Kalau dibandingkan dengan Train to Busan, menurut saya Colony masih kurang dalam masalah karakter pendukung.

Train to Busan menurut saya memiliki beberapa karakter yang benar-benar terasa kuat dan berkesan.

Ada karakter yang ketika zombie datang tidak hanya menjadi korban, tetapi justru ikut menghadapi zombie dengan cara mereka masing-masing.

Di Colony saya merasa bagian ini masih kurang.

Karakter utamanya memang cukup menarik, tapi saya merasa belum mendapatkan karakter pendukung yang benar-benar bisa membuat saya berkata,

“Nah ini karakter keren.”

Dan ketika karakter pendukungnya tidak terlalu kuat, hubungan emosional dengan karakter-karakter tersebut juga menurut saya tidak sekuat film zombie Korea lainnya.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Colony

Kelebihan

1. Zombie memiliki konsep yang berbeda

Menurut saya ini adalah kelebihan terbesar film.

Zombie tidak hanya menjadi manusia yang terinfeksi, tetapi memiliki perkembangan kemampuan dari waktu ke waktu.

2. Cerita tidak terasa seperti film zombie biasa

Walaupun premisnya tetap tentang virus dan wabah, film memberikan tambahan unsur bioteknologi, mutasi dan eksperimen.

3. Visual dan tone warna sangat mendukung suasana

Tone warna yang digunakan membuat film terasa gelap dan mencekam.

Buat saya pribadi bahkan beberapa kali terasa seperti melihat kembali aura Train to Busan.

4. Akting para pemain bagus

Terutama Ji Chang-wook yang menurut saya masih menjadi salah satu daya tarik utama film ini.

5. Action cukup banyak

Film ini tidak hanya berisi dialog dan penjelasan tentang virus.

Ada cukup banyak adegan kejar-kejaran, pertarungan dan survival yang membuat tempo film tetap terasa cepat.

Kekurangan

1. Karakter pendukung kurang kuat

Saya berharap ada beberapa karakter pendukung yang lebih berkesan seperti yang bisa kita temukan di film zombie Korea lainnya.

2. Zombie terlalu kuat

Ini sebenarnya sekaligus menjadi kelebihan dan kekurangan.

Konsep zombie yang kuat memang menarik, tetapi di beberapa bagian terasa terlalu overpower.

3. Beberapa bagian terasa terlalu cepat

Karena film ingin memasukkan unsur teori, action dan perkembangan zombie sekaligus, ada beberapa bagian yang menurut saya terasa cukup cepat.

Saya masih bisa mengikuti ceritanya, tapi ada beberapa momen dimana saya berharap film memberikan waktu sedikit lebih banyak untuk menjelaskan situasinya.

Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?

Setelah selesai menonton Colony, menurut saya film ini adalah salah satu film zombie yang cukup menarik untuk dicoba.

Saya sendiri awalnya menonton karena Ji Chang-wook, tetapi ternyata setelah film berjalan saya justru lebih tertarik dengan konsep zombie dan bagaimana virus tersebut bisa berkembang.

Menurut saya konsep zombie yang memiliki kemampuan berbeda dari biasanya menjadi daya tarik utama film ini.

Mulai dari penciuman, penglihatan sampai kecerdasan yang semakin berkembang membuat saya penasaran sebenarnya akan seperti apa kemampuan mereka selanjutnya.

Dan yang paling penting, film ini tidak hanya mengandalkan zombie untuk membuat penonton takut.

Visual, tone warna, suara dan suasana film benar-benar membantu membuat rasa mencekamnya terasa.

Apalagi saya menontonnya bersama pasangan.

Menurut saya ini justru salah satu film yang cukup cocok untuk ditonton bareng pasangan di rumah. Lampu dimatikan, malam hari, kemudian nonton film zombie seperti ini... suasananya dapat banget.

Beberapa kali saya dan pasangan sama-sama menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Kalau kalian adalah penggemar film zombie, survival atau sci-fi, menurut saya film ini bisa kalian masukkan ke daftar tontonan.

Terutama kalau kalian suka film zombie yang tidak hanya sekedar,

“digigit → jadi zombie → kejar manusia.”

Karena Colony mencoba memberikan sesuatu yang lebih dari itu.

Untuk saya sendiri, Ji Chang-wook masih menjadi salah satu alasan utama kenapa film ini menarik untuk ditonton, tetapi setelah melihat keseluruhan film, saya bisa bilang bahwa film ini memang cukup layak untuk mendapatkan perhatian.

Jadi kalau ditanya apakah saya merekomendasikan Colony?

Iya, saya rekomendasikan.

Apalagi kalau ditonton bareng pasangan, menurut saya malah lebih seru karena suasana mencekam dan menegangkannya bisa dirasakan bareng-bareng.

Buat saya pribadi, ini bukan film zombie yang sempurna, masih ada kekurangan dari karakter pendukung dan beberapa bagian yang terasa terlalu kuat untuk zombienya.

Tapi secara keseluruhan?

Film zombie berteknologi tinggi yang cukup menarik dan berbeda dari ekspektasi saya.

Kalau kalian punya Netflix dan sedang mencari tontonan zombie untuk malam hari...

boleh banget coba Colony.

Walaupun di IMDB ratingnya hanya 6.5/10 tapi rating ini tidak menggambarkan kualitas film ini.

Review Plankton: The Movie — Melihat Bikini Bottom Dari Sudut Pandang Plankton

Review Plankton: The Movie — Melihat Bikini Bottom Dari Sudut Pandang Plankton

Review Plankton: The Movie

Kalau biasanya saya menonton film di NSC Kudus, kali ini ada sedikit yang berbeda karena kebetulan saya sedang liburan ke Jogja. Sembari liburan tentunya saya coba untuk mencari hiburan lain salah satunya adalah menonton film di bioskop, dan kali ini film yang saya pilih adalah Plankton: The Movie yang saya tonton di XXI Pakuan Mall.

Kalau dibandingkan dengan NSC Kudus, suasana di XXI Pakuan Mall ini jelas jauh lebih rame. Apalagi ketika saya masuk ke studio untuk menonton film ini, saya bisa melihat banyak sekali anak-anak bersama keluarganya yang memang datang untuk menonton film Plankton. Yahh namanya juga film SpongeBob, target penontonnya memang cukup luas, dari anak-anak sampai orang dewasa yang mungkin masa kecilnya juga ditemani oleh SpongeBob dan teman-temannya.

Tapi sebenarnya ekspetasi saya ketika masuk ke studio bukan berharap mendapatkan film yang luar biasa atau cerita yang sangat kompleks. Saya justru ingin merasakan sesuatu yang selama ini cukup sering terlintas di pikiran saya ketika menonton SpongeBob.

Bagaimana kalau kita melihat Bikini Bottom dari POV karakter lain?

Karena selama ini kalau kita menonton SpongeBob, hampir semuanya selalu berpusat kepada SpongeBob. Padahal di Bikini Bottom sendiri ada banyak sekali karakter yang sebenarnya menarik untuk diceritakan. Salah satunya tentu saja adalah Plankton.

Saya dulu bisa dibilang adalah penggemar berat SpongeBob. Penekanan pada kata “dulu” karena semakin saya dewasa, semakin jarang saya mengikuti serialnya. Dulu hampir setiap episode saya tonton, bahkan sampai hafal beberapa episode dan karakter yang muncul di dalamnya.

Tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai merasa SpongeBob sudah tidak seperti dulu. Bukan berarti jelek, tapi menurut saya ada sesuatu yang hilang. Apalagi setelah muncul beberapa spin-off seperti Kamp Koral dan The Patrick Star Show, saya semakin merasa kalau serial utama SpongeBob sudah tidak lagi memberikan sesuatu yang menurut saya unik seperti dulu.

Saya bahkan sempat berhenti mengikuti serialnya sekitar tahun 2021.

Karena itulah ketika melihat ada film yang berfokus kepada Plankton, saya cukup tertarik. Bukan karena saya terlalu berharap film ini akan sebagus film SpongeBob pertama tahun 2004, tetapi karena saya ingin melihat bagaimana rasanya kalau cerita SpongeBob dibuat dari sudut pandang karakter lain.

Nah, apakah akhirnya film ini bisa memberikan sesuatu yang berbeda?

Sinopsis Singkat: Plankton: The Movie

Cerita bermula ketika Plankton kembali gagal mencuri resep rahasia Krabby Patty dari Krusty Krab.

Namun ketika pulang ke Chum Bucket, Plankton justru mendapatkan kejutan. Karen, istrinya, ternyata telah melakukan renovasi besar-besaran terhadap Chum Bucket dan membuat restoran tersebut menjadi ramai pengunjung tanpa harus mencuri resep Krabby Patty.

Harusnya Plankton senang dong?

Ternyata tidak.

Plankton justru merasa kalau apa yang dilakukan Karen membuat dirinya kehilangan identitas sebagai seorang penjahat. Karena sudah merasa terus diabaikan dan diremehkan, Karen akhirnya menendang Plankton keluar dan memutuskan untuk menguasai dunia dengan caranya sendiri.

Dari sinilah masalah baru dimulai dan Plankton harus menghadapi Karen sekaligus mencoba menyelamatkan Bikini Bottom.

POV: Opini Jujur Saya dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Akhirnya Kita Bisa Melihat Cerita Dari Sudut Pandang Plankton

Ini sebenarnya alasan utama kenapa saya mau menonton film ini.

Setelah bertahun-tahun melihat SpongeBob, Patrick, Squidward, Mr. Krabs dan karakter lainnya, menurut saya menarik sekali kalau salah satu karakter diberikan kesempatan untuk menjadi pusat cerita.

Plankton sendiri sebenarnya karakter yang cukup menarik. Dia selalu dianggap sebagai penjahat kecil yang gagal mencuri resep Krabby Patty, selalu kalah dari Mr. Krabs dan sering menjadi bahan lelucon.

Tapi ketika karakter seperti ini diberikan film sendiri, kita akhirnya bisa melihat sisi lain dari kehidupannya.

Terutama hubungannya dengan Karen.

Menurut saya justru dinamika Plankton dan Karen menjadi salah satu bagian yang paling menarik dari film ini. Karena selama ini Karen lebih sering menjadi pasangan yang membantu Plankton menjalankan rencana jahatnya, sementara di film ini hubungan mereka mendapatkan porsi yang jauh lebih besar.

Dan jujur saya cukup tertarik dengan bagaimana Karen akhirnya menjadi pusat konflik.

Pengisi Suara Masih Menjadi Salah Satu Kekuatan Utama

Untuk masalah voice acting menurut saya tidak ada yang perlu terlalu dipermasalahkan.

Jill Talley sebagai Karen, Tom Kenny sebagai SpongeBob dan Mr. Lawrence sebagai Plankton masih terasa sangat familiar.

Bahkan mungkin karena suara mereka sudah sangat melekat dengan karakter masing-masing, saya masih bisa menikmati film ini walaupun secara cerita tidak semuanya saya suka.

Terutama Mr. Lawrence sebagai Plankton.

Menurut saya suara Plankton memang salah satu bagian penting dari karakter ini. Mau dia sedang marah, frustasi, membuat rencana jahat atau melakukan sesuatu yang bodoh, tetap terasa seperti Plankton yang saya kenal sejak kecil.

Ternyata Saya Masih Bisa Tertawa

Jujur saja saya masuk ke film ini dengan ekspektasi yang cukup rendah.

Saya pikir saya bakal duduk diam sampai film selesai karena beberapa humor dari trailer menurut saya tidak terlalu menarik.

Tapi ternyata saya salah.

Ada cukup banyak bagian yang membuat saya tertawa.

Memang sebagian besar humornya masih sangat cocok untuk anak-anak, tetapi beberapa lelucon justru menurut saya cukup menghibur untuk orang dewasa.

Bahkan ada satu bagian yang membuat saya benar-benar tertawa cukup keras.

Saya tidak akan membocorkan bagian tersebut karena menurut saya lebih bagus kalau kalian menemukan sendiri ketika menontonnya.

Tapi intinya saya cukup kaget karena ternyata film ini masih bisa membuat saya tertawa setelah bertahun-tahun saya merasa sudah tidak terlalu menikmati SpongeBob seperti dulu.

Banyak Referensi Untuk Penggemar Lama

Nah ini juga salah satu bagian yang cukup saya sukai.

Film ini memberikan cukup banyak referensi terhadap serial maupun film SpongeBob sebelumnya.

Dan menariknya beberapa referensi tersebut tidak terasa terlalu dipaksakan.

Saya sendiri sudah bertahun-tahun tidak mengikuti serial SpongeBob secara rutin, tetapi ketika melihat beberapa referensi yang muncul, saya masih bisa mengingat kira-kira dari season atau episode mana karakter atau lelucon tersebut berasal.

Buat saya ini semacam nostalgia kecil.

Tidak sampai membuat saya kembali menjadi penggemar berat SpongeBob seperti dulu, tapi setidaknya membuat saya tersenyum ketika melihat sesuatu yang familiar.

Ada Beberapa Bagian Animasi Yang Menarik

Walaupun nanti saya akan membahas animasinya sebagai salah satu kekurangan, bukan berarti semuanya buruk.

Ada beberapa bagian yang menurut saya justru cukup bagus secara visual.

Terutama ketika film mencoba menggunakan gaya animasi yang berbeda-beda pada beberapa bagian tertentu.

Ada momen dimana saya berpikir, “nah ini baru menarik.”

Bahkan ada satu bagian di sekitar pertengahan film yang menurut saya merupakan bagian terbaik dari keseluruhan film.

Saya tidak mau spoiler, tapi menurut saya sekitar bagian tersebut adalah rangkuman yang cukup bagus mengenai konflik Plankton dan Karen.

Sayangnya setelah bagian tersebut, film kembali berjalan seperti biasa.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Plankton: The Movie Menurut Saya

Kelebihan

1. POV Plankton terasa menarik

Menurut saya ide membuat film yang berfokus kepada Plankton merupakan ide yang cukup menarik.

Karakter yang selama ini hanya menjadi penjahat kecil akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menjadi karakter utama.

2. Hubungan Plankton dan Karen cukup menarik

Saya justru lebih tertarik dengan hubungan kedua karakter ini dibandingkan dengan konflik besarnya.

Ada dinamika yang cukup berbeda dibandingkan apa yang biasanya kita lihat di serial SpongeBob.

3. Masih ada beberapa humor yang berhasil

Tidak semua lelucon berhasil, tetapi beberapa diantaranya benar-benar membuat saya tertawa.

Terutama beberapa lelucon yang menurut saya cukup tidak terduga.

4. Referensi SpongeBob cukup banyak

Untuk penggemar lama, saya rasa beberapa referensi ini bisa menjadi nilai tambah.

Saya sendiri beberapa kali merasa nostalgia karena melihat sesuatu yang mengingatkan saya pada episode SpongeBob yang dulu sering saya tonton.

5. Voice acting masih solid

Suara Plankton, Karen dan SpongeBob masih terasa familiar dan menurut saya tetap menjadi salah satu kekuatan film ini.

Kekurangan

1. Animasi terasa aneh

Saya tidak mau mengatakan animasinya jelek karena tentu saja banyak sekali orang yang bekerja keras untuk membuat film ini.

Tapi kalau dibandingkan dengan Sponge on the Run, saya pribadi merasa kualitas visualnya mengalami penurunan.

Menurut saya akan jauh lebih menarik kalau film ini menggunakan animasi 2D seperti serial SpongeBob atau setidaknya menggunakan kualitas visual seperti film sebelumnya.

Karena beberapa kali saya merasa desain karakter dan pergerakannya terasa agak aneh.

2. Arah karakter Plankton agak membingungkan

Nah ini agak sulit dibahas tanpa spoiler.

Tapi saya kurang begitu menyukai beberapa keputusan yang diambil terhadap karakter Plankton.

Terutama ketika berkaitan dengan perubahan sikap Karen.

Plankton yang seharusnya menjadi karakter utama justru beberapa kali melakukan sesuatu yang membuat saya berpikir,

“Lah... ngapain lu?”

Dan kalau saya harus menggambarkan Plankton dalam film ini dengan satu kata...

brengsek.

Bukan dalam arti karakternya gagal, tapi memang ada beberapa keputusan yang membuat saya cukup kesal melihatnya.

3. SpongeBob sudah terlalu bodoh

Apakah cuma saya yang merasa SpongeBob sekarang sudah terlalu bodoh?

Saya tahu memang dari dulu SpongeBob sudah konyol dan bodoh. Itu memang bagian dari karakternya.

Tapi menurut saya ada perbedaan antara karakter yang bodoh karena konyol dengan karakter yang dibuat terlalu bodoh hanya supaya leluconnya bisa berjalan.

Dan di film ini menurut saya SpongeBob sudah masuk ke level yang agak berlebihan.

Saya sampai berpikir kalau menurut imajinasi saya sendiri, mungkin sejak episode “Squilliam Returns” Season 3 itu adalah salah satu titik dimana SpongeBob mulai benar-benar menjadi terlalu bodoh.

Astaga... saya tahu SpongeBob memang seperti itu sejak dulu, tapi di film ini menurut saya agak berlebihan.

4. Ada beberapa peluang lelucon visual yang terlewatkan

Ini juga salah satu hal yang saya rasakan.

Beberapa lelucon sebenarnya sudah memiliki setup yang bagus, tetapi menurut saya akan jauh lebih lucu kalau ditambah dengan visual atau grafis yang lebih absurd.

Karena SpongeBob sendiri dari dulu sebenarnya terkenal bukan hanya karena dialognya, tetapi juga karena ekspresi, gerakan tubuh dan visual absurd yang muncul tiba-tiba.

Dan menurut saya film ini masih bisa memaksimalkan bagian tersebut.

Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?

Jadi setelah menonton Plankton: The Movie, bagaimana pendapat saya?

Yahhh... so so lah.

Menurut saya film ini bukan film SpongeBob yang buruk, tapi juga bukan film yang membuat saya berpikir,

“Wah akhirnya SpongeBob kembali seperti dulu.”

Justru saya cukup senang karena film ini mencoba melakukan sesuatu yang berbeda dengan mengambil karakter Plankton sebagai pusat cerita.

Hubungan Plankton dan Karen juga menurut saya cukup menarik dan ada beberapa bagian yang benar-benar membuat saya tertawa.

Tapi di sisi lain, masalah animasi, beberapa keputusan terhadap karakter Plankton, SpongeBob yang menurut saya terlalu bodoh dan beberapa peluang humor visual yang terlewat membuat film ini terasa belum maksimal.

Kalau kalian adalah fans berat SpongeBob, mungkin film ini masih bisa kalian coba tonton, apalagi kalau penasaran dengan kehidupan Plankton dan Karen dari sudut pandang mereka sendiri.

Untuk rating IMDb sendiri, film ini berada di 5,3/10, dan kalau dari pendapat pribadi saya, rating tersebut menurut saya cukup menggambarkan pengalaman saya ketika menonton film ini.

Jadi kalau ditanya “Plankton: The Movie wajib ditonton?”

Menurut saya...

Kalau penasaran, tonton. Kalau tidak, yaaa... bisa dilewati.