Review Plankton: The Movie — Melihat Bikini Bottom Dari Sudut Pandang Plankton
Animasi Biasa Aja komedi Rating RendahKalau biasanya saya menonton film di NSC Kudus, kali ini ada sedikit yang berbeda karena kebetulan saya sedang liburan ke Jogja. Sembari liburan tentunya saya coba untuk mencari hiburan lain salah satunya adalah menonton film di bioskop, dan kali ini film yang saya pilih adalah Plankton: The Movie yang saya tonton di XXI Pakuan Mall.
Kalau dibandingkan dengan NSC Kudus, suasana di XXI Pakuan Mall ini jelas jauh lebih rame. Apalagi ketika saya masuk ke studio untuk menonton film ini, saya bisa melihat banyak sekali anak-anak bersama keluarganya yang memang datang untuk menonton film Plankton. Yahh namanya juga film SpongeBob, target penontonnya memang cukup luas, dari anak-anak sampai orang dewasa yang mungkin masa kecilnya juga ditemani oleh SpongeBob dan teman-temannya.
Tapi sebenarnya ekspetasi saya ketika masuk ke studio bukan berharap mendapatkan film yang luar biasa atau cerita yang sangat kompleks. Saya justru ingin merasakan sesuatu yang selama ini cukup sering terlintas di pikiran saya ketika menonton SpongeBob.
Bagaimana kalau kita melihat Bikini Bottom dari POV karakter lain?
Karena selama ini kalau kita menonton SpongeBob, hampir semuanya selalu berpusat kepada SpongeBob. Padahal di Bikini Bottom sendiri ada banyak sekali karakter yang sebenarnya menarik untuk diceritakan. Salah satunya tentu saja adalah Plankton.
Saya dulu bisa dibilang adalah penggemar berat SpongeBob. Penekanan pada kata “dulu” karena semakin saya dewasa, semakin jarang saya mengikuti serialnya. Dulu hampir setiap episode saya tonton, bahkan sampai hafal beberapa episode dan karakter yang muncul di dalamnya.
Tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai merasa SpongeBob sudah tidak seperti dulu. Bukan berarti jelek, tapi menurut saya ada sesuatu yang hilang. Apalagi setelah muncul beberapa spin-off seperti Kamp Koral dan The Patrick Star Show, saya semakin merasa kalau serial utama SpongeBob sudah tidak lagi memberikan sesuatu yang menurut saya unik seperti dulu.
Saya bahkan sempat berhenti mengikuti serialnya sekitar tahun 2021.
Karena itulah ketika melihat ada film yang berfokus kepada Plankton, saya cukup tertarik. Bukan karena saya terlalu berharap film ini akan sebagus film SpongeBob pertama tahun 2004, tetapi karena saya ingin melihat bagaimana rasanya kalau cerita SpongeBob dibuat dari sudut pandang karakter lain.
Nah, apakah akhirnya film ini bisa memberikan sesuatu yang berbeda?
Sinopsis Singkat: Plankton: The Movie
Cerita bermula ketika Plankton kembali gagal mencuri resep rahasia Krabby Patty dari Krusty Krab.
Namun ketika pulang ke Chum Bucket, Plankton justru mendapatkan kejutan. Karen, istrinya, ternyata telah melakukan renovasi besar-besaran terhadap Chum Bucket dan membuat restoran tersebut menjadi ramai pengunjung tanpa harus mencuri resep Krabby Patty.
Harusnya Plankton senang dong?
Ternyata tidak.
Plankton justru merasa kalau apa yang dilakukan Karen membuat dirinya kehilangan identitas sebagai seorang penjahat. Karena sudah merasa terus diabaikan dan diremehkan, Karen akhirnya menendang Plankton keluar dan memutuskan untuk menguasai dunia dengan caranya sendiri.
Dari sinilah masalah baru dimulai dan Plankton harus menghadapi Karen sekaligus mencoba menyelamatkan Bikini Bottom.
POV: Opini Jujur Saya dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini
Akhirnya Kita Bisa Melihat Cerita Dari Sudut Pandang Plankton
Ini sebenarnya alasan utama kenapa saya mau menonton film ini.
Setelah bertahun-tahun melihat SpongeBob, Patrick, Squidward, Mr. Krabs dan karakter lainnya, menurut saya menarik sekali kalau salah satu karakter diberikan kesempatan untuk menjadi pusat cerita.
Plankton sendiri sebenarnya karakter yang cukup menarik. Dia selalu dianggap sebagai penjahat kecil yang gagal mencuri resep Krabby Patty, selalu kalah dari Mr. Krabs dan sering menjadi bahan lelucon.
Tapi ketika karakter seperti ini diberikan film sendiri, kita akhirnya bisa melihat sisi lain dari kehidupannya.
Terutama hubungannya dengan Karen.
Menurut saya justru dinamika Plankton dan Karen menjadi salah satu bagian yang paling menarik dari film ini. Karena selama ini Karen lebih sering menjadi pasangan yang membantu Plankton menjalankan rencana jahatnya, sementara di film ini hubungan mereka mendapatkan porsi yang jauh lebih besar.
Dan jujur saya cukup tertarik dengan bagaimana Karen akhirnya menjadi pusat konflik.
Pengisi Suara Masih Menjadi Salah Satu Kekuatan Utama
Untuk masalah voice acting menurut saya tidak ada yang perlu terlalu dipermasalahkan.
Jill Talley sebagai Karen, Tom Kenny sebagai SpongeBob dan Mr. Lawrence sebagai Plankton masih terasa sangat familiar.
Bahkan mungkin karena suara mereka sudah sangat melekat dengan karakter masing-masing, saya masih bisa menikmati film ini walaupun secara cerita tidak semuanya saya suka.
Terutama Mr. Lawrence sebagai Plankton.
Menurut saya suara Plankton memang salah satu bagian penting dari karakter ini. Mau dia sedang marah, frustasi, membuat rencana jahat atau melakukan sesuatu yang bodoh, tetap terasa seperti Plankton yang saya kenal sejak kecil.
Ternyata Saya Masih Bisa Tertawa
Jujur saja saya masuk ke film ini dengan ekspektasi yang cukup rendah.
Saya pikir saya bakal duduk diam sampai film selesai karena beberapa humor dari trailer menurut saya tidak terlalu menarik.
Tapi ternyata saya salah.
Ada cukup banyak bagian yang membuat saya tertawa.
Memang sebagian besar humornya masih sangat cocok untuk anak-anak, tetapi beberapa lelucon justru menurut saya cukup menghibur untuk orang dewasa.
Bahkan ada satu bagian yang membuat saya benar-benar tertawa cukup keras.
Saya tidak akan membocorkan bagian tersebut karena menurut saya lebih bagus kalau kalian menemukan sendiri ketika menontonnya.
Tapi intinya saya cukup kaget karena ternyata film ini masih bisa membuat saya tertawa setelah bertahun-tahun saya merasa sudah tidak terlalu menikmati SpongeBob seperti dulu.
Banyak Referensi Untuk Penggemar Lama
Nah ini juga salah satu bagian yang cukup saya sukai.
Film ini memberikan cukup banyak referensi terhadap serial maupun film SpongeBob sebelumnya.
Dan menariknya beberapa referensi tersebut tidak terasa terlalu dipaksakan.
Saya sendiri sudah bertahun-tahun tidak mengikuti serial SpongeBob secara rutin, tetapi ketika melihat beberapa referensi yang muncul, saya masih bisa mengingat kira-kira dari season atau episode mana karakter atau lelucon tersebut berasal.
Buat saya ini semacam nostalgia kecil.
Tidak sampai membuat saya kembali menjadi penggemar berat SpongeBob seperti dulu, tapi setidaknya membuat saya tersenyum ketika melihat sesuatu yang familiar.
Ada Beberapa Bagian Animasi Yang Menarik
Walaupun nanti saya akan membahas animasinya sebagai salah satu kekurangan, bukan berarti semuanya buruk.
Ada beberapa bagian yang menurut saya justru cukup bagus secara visual.
Terutama ketika film mencoba menggunakan gaya animasi yang berbeda-beda pada beberapa bagian tertentu.
Ada momen dimana saya berpikir, “nah ini baru menarik.”
Bahkan ada satu bagian di sekitar pertengahan film yang menurut saya merupakan bagian terbaik dari keseluruhan film.
Saya tidak mau spoiler, tapi menurut saya sekitar bagian tersebut adalah rangkuman yang cukup bagus mengenai konflik Plankton dan Karen.
Sayangnya setelah bagian tersebut, film kembali berjalan seperti biasa.
Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Plankton: The Movie Menurut Saya
Kelebihan
1. POV Plankton terasa menarik
Menurut saya ide membuat film yang berfokus kepada Plankton merupakan ide yang cukup menarik.
Karakter yang selama ini hanya menjadi penjahat kecil akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menjadi karakter utama.
2. Hubungan Plankton dan Karen cukup menarik
Saya justru lebih tertarik dengan hubungan kedua karakter ini dibandingkan dengan konflik besarnya.
Ada dinamika yang cukup berbeda dibandingkan apa yang biasanya kita lihat di serial SpongeBob.
3. Masih ada beberapa humor yang berhasil
Tidak semua lelucon berhasil, tetapi beberapa diantaranya benar-benar membuat saya tertawa.
Terutama beberapa lelucon yang menurut saya cukup tidak terduga.
4. Referensi SpongeBob cukup banyak
Untuk penggemar lama, saya rasa beberapa referensi ini bisa menjadi nilai tambah.
Saya sendiri beberapa kali merasa nostalgia karena melihat sesuatu yang mengingatkan saya pada episode SpongeBob yang dulu sering saya tonton.
5. Voice acting masih solid
Suara Plankton, Karen dan SpongeBob masih terasa familiar dan menurut saya tetap menjadi salah satu kekuatan film ini.
Kekurangan
1. Animasi terasa aneh
Saya tidak mau mengatakan animasinya jelek karena tentu saja banyak sekali orang yang bekerja keras untuk membuat film ini.
Tapi kalau dibandingkan dengan Sponge on the Run, saya pribadi merasa kualitas visualnya mengalami penurunan.
Menurut saya akan jauh lebih menarik kalau film ini menggunakan animasi 2D seperti serial SpongeBob atau setidaknya menggunakan kualitas visual seperti film sebelumnya.
Karena beberapa kali saya merasa desain karakter dan pergerakannya terasa agak aneh.
2. Arah karakter Plankton agak membingungkan
Nah ini agak sulit dibahas tanpa spoiler.
Tapi saya kurang begitu menyukai beberapa keputusan yang diambil terhadap karakter Plankton.
Terutama ketika berkaitan dengan perubahan sikap Karen.
Plankton yang seharusnya menjadi karakter utama justru beberapa kali melakukan sesuatu yang membuat saya berpikir,
“Lah... ngapain lu?”
Dan kalau saya harus menggambarkan Plankton dalam film ini dengan satu kata...
brengsek.
Bukan dalam arti karakternya gagal, tapi memang ada beberapa keputusan yang membuat saya cukup kesal melihatnya.
3. SpongeBob sudah terlalu bodoh
Apakah cuma saya yang merasa SpongeBob sekarang sudah terlalu bodoh?
Saya tahu memang dari dulu SpongeBob sudah konyol dan bodoh. Itu memang bagian dari karakternya.
Tapi menurut saya ada perbedaan antara karakter yang bodoh karena konyol dengan karakter yang dibuat terlalu bodoh hanya supaya leluconnya bisa berjalan.
Dan di film ini menurut saya SpongeBob sudah masuk ke level yang agak berlebihan.
Saya sampai berpikir kalau menurut imajinasi saya sendiri, mungkin sejak episode “Squilliam Returns” Season 3 itu adalah salah satu titik dimana SpongeBob mulai benar-benar menjadi terlalu bodoh.
Astaga... saya tahu SpongeBob memang seperti itu sejak dulu, tapi di film ini menurut saya agak berlebihan.
4. Ada beberapa peluang lelucon visual yang terlewatkan
Ini juga salah satu hal yang saya rasakan.
Beberapa lelucon sebenarnya sudah memiliki setup yang bagus, tetapi menurut saya akan jauh lebih lucu kalau ditambah dengan visual atau grafis yang lebih absurd.
Karena SpongeBob sendiri dari dulu sebenarnya terkenal bukan hanya karena dialognya, tetapi juga karena ekspresi, gerakan tubuh dan visual absurd yang muncul tiba-tiba.
Dan menurut saya film ini masih bisa memaksimalkan bagian tersebut.
Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?
Jadi setelah menonton Plankton: The Movie, bagaimana pendapat saya?
Yahhh... so so lah.
Menurut saya film ini bukan film SpongeBob yang buruk, tapi juga bukan film yang membuat saya berpikir,
“Wah akhirnya SpongeBob kembali seperti dulu.”
Justru saya cukup senang karena film ini mencoba melakukan sesuatu yang berbeda dengan mengambil karakter Plankton sebagai pusat cerita.
Hubungan Plankton dan Karen juga menurut saya cukup menarik dan ada beberapa bagian yang benar-benar membuat saya tertawa.
Tapi di sisi lain, masalah animasi, beberapa keputusan terhadap karakter Plankton, SpongeBob yang menurut saya terlalu bodoh dan beberapa peluang humor visual yang terlewat membuat film ini terasa belum maksimal.
Kalau kalian adalah fans berat SpongeBob, mungkin film ini masih bisa kalian coba tonton, apalagi kalau penasaran dengan kehidupan Plankton dan Karen dari sudut pandang mereka sendiri.
Untuk rating IMDb sendiri, film ini berada di 5,3/10, dan kalau dari pendapat pribadi saya, rating tersebut menurut saya cukup menggambarkan pengalaman saya ketika menonton film ini.
Jadi kalau ditanya “Plankton: The Movie wajib ditonton?”
Menurut saya...
Kalau penasaran, tonton. Kalau tidak, yaaa... bisa dilewati.


.jpg)