Review Plankton: The Movie — Melihat Bikini Bottom Dari Sudut Pandang Plankton

Review Plankton: The Movie — Melihat Bikini Bottom Dari Sudut Pandang Plankton

Review Plankton: The Movie

Kalau biasanya saya menonton film di NSC Kudus, kali ini ada sedikit yang berbeda karena kebetulan saya sedang liburan ke Jogja. Sembari liburan tentunya saya coba untuk mencari hiburan lain salah satunya adalah menonton film di bioskop, dan kali ini film yang saya pilih adalah Plankton: The Movie yang saya tonton di XXI Pakuan Mall.

Kalau dibandingkan dengan NSC Kudus, suasana di XXI Pakuan Mall ini jelas jauh lebih rame. Apalagi ketika saya masuk ke studio untuk menonton film ini, saya bisa melihat banyak sekali anak-anak bersama keluarganya yang memang datang untuk menonton film Plankton. Yahh namanya juga film SpongeBob, target penontonnya memang cukup luas, dari anak-anak sampai orang dewasa yang mungkin masa kecilnya juga ditemani oleh SpongeBob dan teman-temannya.

Tapi sebenarnya ekspetasi saya ketika masuk ke studio bukan berharap mendapatkan film yang luar biasa atau cerita yang sangat kompleks. Saya justru ingin merasakan sesuatu yang selama ini cukup sering terlintas di pikiran saya ketika menonton SpongeBob.

Bagaimana kalau kita melihat Bikini Bottom dari POV karakter lain?

Karena selama ini kalau kita menonton SpongeBob, hampir semuanya selalu berpusat kepada SpongeBob. Padahal di Bikini Bottom sendiri ada banyak sekali karakter yang sebenarnya menarik untuk diceritakan. Salah satunya tentu saja adalah Plankton.

Saya dulu bisa dibilang adalah penggemar berat SpongeBob. Penekanan pada kata “dulu” karena semakin saya dewasa, semakin jarang saya mengikuti serialnya. Dulu hampir setiap episode saya tonton, bahkan sampai hafal beberapa episode dan karakter yang muncul di dalamnya.

Tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai merasa SpongeBob sudah tidak seperti dulu. Bukan berarti jelek, tapi menurut saya ada sesuatu yang hilang. Apalagi setelah muncul beberapa spin-off seperti Kamp Koral dan The Patrick Star Show, saya semakin merasa kalau serial utama SpongeBob sudah tidak lagi memberikan sesuatu yang menurut saya unik seperti dulu.

Saya bahkan sempat berhenti mengikuti serialnya sekitar tahun 2021.

Karena itulah ketika melihat ada film yang berfokus kepada Plankton, saya cukup tertarik. Bukan karena saya terlalu berharap film ini akan sebagus film SpongeBob pertama tahun 2004, tetapi karena saya ingin melihat bagaimana rasanya kalau cerita SpongeBob dibuat dari sudut pandang karakter lain.

Nah, apakah akhirnya film ini bisa memberikan sesuatu yang berbeda?

Sinopsis Singkat: Plankton: The Movie

Cerita bermula ketika Plankton kembali gagal mencuri resep rahasia Krabby Patty dari Krusty Krab.

Namun ketika pulang ke Chum Bucket, Plankton justru mendapatkan kejutan. Karen, istrinya, ternyata telah melakukan renovasi besar-besaran terhadap Chum Bucket dan membuat restoran tersebut menjadi ramai pengunjung tanpa harus mencuri resep Krabby Patty.

Harusnya Plankton senang dong?

Ternyata tidak.

Plankton justru merasa kalau apa yang dilakukan Karen membuat dirinya kehilangan identitas sebagai seorang penjahat. Karena sudah merasa terus diabaikan dan diremehkan, Karen akhirnya menendang Plankton keluar dan memutuskan untuk menguasai dunia dengan caranya sendiri.

Dari sinilah masalah baru dimulai dan Plankton harus menghadapi Karen sekaligus mencoba menyelamatkan Bikini Bottom.

POV: Opini Jujur Saya dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Akhirnya Kita Bisa Melihat Cerita Dari Sudut Pandang Plankton

Ini sebenarnya alasan utama kenapa saya mau menonton film ini.

Setelah bertahun-tahun melihat SpongeBob, Patrick, Squidward, Mr. Krabs dan karakter lainnya, menurut saya menarik sekali kalau salah satu karakter diberikan kesempatan untuk menjadi pusat cerita.

Plankton sendiri sebenarnya karakter yang cukup menarik. Dia selalu dianggap sebagai penjahat kecil yang gagal mencuri resep Krabby Patty, selalu kalah dari Mr. Krabs dan sering menjadi bahan lelucon.

Tapi ketika karakter seperti ini diberikan film sendiri, kita akhirnya bisa melihat sisi lain dari kehidupannya.

Terutama hubungannya dengan Karen.

Menurut saya justru dinamika Plankton dan Karen menjadi salah satu bagian yang paling menarik dari film ini. Karena selama ini Karen lebih sering menjadi pasangan yang membantu Plankton menjalankan rencana jahatnya, sementara di film ini hubungan mereka mendapatkan porsi yang jauh lebih besar.

Dan jujur saya cukup tertarik dengan bagaimana Karen akhirnya menjadi pusat konflik.

Pengisi Suara Masih Menjadi Salah Satu Kekuatan Utama

Untuk masalah voice acting menurut saya tidak ada yang perlu terlalu dipermasalahkan.

Jill Talley sebagai Karen, Tom Kenny sebagai SpongeBob dan Mr. Lawrence sebagai Plankton masih terasa sangat familiar.

Bahkan mungkin karena suara mereka sudah sangat melekat dengan karakter masing-masing, saya masih bisa menikmati film ini walaupun secara cerita tidak semuanya saya suka.

Terutama Mr. Lawrence sebagai Plankton.

Menurut saya suara Plankton memang salah satu bagian penting dari karakter ini. Mau dia sedang marah, frustasi, membuat rencana jahat atau melakukan sesuatu yang bodoh, tetap terasa seperti Plankton yang saya kenal sejak kecil.

Ternyata Saya Masih Bisa Tertawa

Jujur saja saya masuk ke film ini dengan ekspektasi yang cukup rendah.

Saya pikir saya bakal duduk diam sampai film selesai karena beberapa humor dari trailer menurut saya tidak terlalu menarik.

Tapi ternyata saya salah.

Ada cukup banyak bagian yang membuat saya tertawa.

Memang sebagian besar humornya masih sangat cocok untuk anak-anak, tetapi beberapa lelucon justru menurut saya cukup menghibur untuk orang dewasa.

Bahkan ada satu bagian yang membuat saya benar-benar tertawa cukup keras.

Saya tidak akan membocorkan bagian tersebut karena menurut saya lebih bagus kalau kalian menemukan sendiri ketika menontonnya.

Tapi intinya saya cukup kaget karena ternyata film ini masih bisa membuat saya tertawa setelah bertahun-tahun saya merasa sudah tidak terlalu menikmati SpongeBob seperti dulu.

Banyak Referensi Untuk Penggemar Lama

Nah ini juga salah satu bagian yang cukup saya sukai.

Film ini memberikan cukup banyak referensi terhadap serial maupun film SpongeBob sebelumnya.

Dan menariknya beberapa referensi tersebut tidak terasa terlalu dipaksakan.

Saya sendiri sudah bertahun-tahun tidak mengikuti serial SpongeBob secara rutin, tetapi ketika melihat beberapa referensi yang muncul, saya masih bisa mengingat kira-kira dari season atau episode mana karakter atau lelucon tersebut berasal.

Buat saya ini semacam nostalgia kecil.

Tidak sampai membuat saya kembali menjadi penggemar berat SpongeBob seperti dulu, tapi setidaknya membuat saya tersenyum ketika melihat sesuatu yang familiar.

Ada Beberapa Bagian Animasi Yang Menarik

Walaupun nanti saya akan membahas animasinya sebagai salah satu kekurangan, bukan berarti semuanya buruk.

Ada beberapa bagian yang menurut saya justru cukup bagus secara visual.

Terutama ketika film mencoba menggunakan gaya animasi yang berbeda-beda pada beberapa bagian tertentu.

Ada momen dimana saya berpikir, “nah ini baru menarik.”

Bahkan ada satu bagian di sekitar pertengahan film yang menurut saya merupakan bagian terbaik dari keseluruhan film.

Saya tidak mau spoiler, tapi menurut saya sekitar bagian tersebut adalah rangkuman yang cukup bagus mengenai konflik Plankton dan Karen.

Sayangnya setelah bagian tersebut, film kembali berjalan seperti biasa.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Plankton: The Movie Menurut Saya

Kelebihan

1. POV Plankton terasa menarik

Menurut saya ide membuat film yang berfokus kepada Plankton merupakan ide yang cukup menarik.

Karakter yang selama ini hanya menjadi penjahat kecil akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menjadi karakter utama.

2. Hubungan Plankton dan Karen cukup menarik

Saya justru lebih tertarik dengan hubungan kedua karakter ini dibandingkan dengan konflik besarnya.

Ada dinamika yang cukup berbeda dibandingkan apa yang biasanya kita lihat di serial SpongeBob.

3. Masih ada beberapa humor yang berhasil

Tidak semua lelucon berhasil, tetapi beberapa diantaranya benar-benar membuat saya tertawa.

Terutama beberapa lelucon yang menurut saya cukup tidak terduga.

4. Referensi SpongeBob cukup banyak

Untuk penggemar lama, saya rasa beberapa referensi ini bisa menjadi nilai tambah.

Saya sendiri beberapa kali merasa nostalgia karena melihat sesuatu yang mengingatkan saya pada episode SpongeBob yang dulu sering saya tonton.

5. Voice acting masih solid

Suara Plankton, Karen dan SpongeBob masih terasa familiar dan menurut saya tetap menjadi salah satu kekuatan film ini.

Kekurangan

1. Animasi terasa aneh

Saya tidak mau mengatakan animasinya jelek karena tentu saja banyak sekali orang yang bekerja keras untuk membuat film ini.

Tapi kalau dibandingkan dengan Sponge on the Run, saya pribadi merasa kualitas visualnya mengalami penurunan.

Menurut saya akan jauh lebih menarik kalau film ini menggunakan animasi 2D seperti serial SpongeBob atau setidaknya menggunakan kualitas visual seperti film sebelumnya.

Karena beberapa kali saya merasa desain karakter dan pergerakannya terasa agak aneh.

2. Arah karakter Plankton agak membingungkan

Nah ini agak sulit dibahas tanpa spoiler.

Tapi saya kurang begitu menyukai beberapa keputusan yang diambil terhadap karakter Plankton.

Terutama ketika berkaitan dengan perubahan sikap Karen.

Plankton yang seharusnya menjadi karakter utama justru beberapa kali melakukan sesuatu yang membuat saya berpikir,

“Lah... ngapain lu?”

Dan kalau saya harus menggambarkan Plankton dalam film ini dengan satu kata...

brengsek.

Bukan dalam arti karakternya gagal, tapi memang ada beberapa keputusan yang membuat saya cukup kesal melihatnya.

3. SpongeBob sudah terlalu bodoh

Apakah cuma saya yang merasa SpongeBob sekarang sudah terlalu bodoh?

Saya tahu memang dari dulu SpongeBob sudah konyol dan bodoh. Itu memang bagian dari karakternya.

Tapi menurut saya ada perbedaan antara karakter yang bodoh karena konyol dengan karakter yang dibuat terlalu bodoh hanya supaya leluconnya bisa berjalan.

Dan di film ini menurut saya SpongeBob sudah masuk ke level yang agak berlebihan.

Saya sampai berpikir kalau menurut imajinasi saya sendiri, mungkin sejak episode “Squilliam Returns” Season 3 itu adalah salah satu titik dimana SpongeBob mulai benar-benar menjadi terlalu bodoh.

Astaga... saya tahu SpongeBob memang seperti itu sejak dulu, tapi di film ini menurut saya agak berlebihan.

4. Ada beberapa peluang lelucon visual yang terlewatkan

Ini juga salah satu hal yang saya rasakan.

Beberapa lelucon sebenarnya sudah memiliki setup yang bagus, tetapi menurut saya akan jauh lebih lucu kalau ditambah dengan visual atau grafis yang lebih absurd.

Karena SpongeBob sendiri dari dulu sebenarnya terkenal bukan hanya karena dialognya, tetapi juga karena ekspresi, gerakan tubuh dan visual absurd yang muncul tiba-tiba.

Dan menurut saya film ini masih bisa memaksimalkan bagian tersebut.

Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?

Jadi setelah menonton Plankton: The Movie, bagaimana pendapat saya?

Yahhh... so so lah.

Menurut saya film ini bukan film SpongeBob yang buruk, tapi juga bukan film yang membuat saya berpikir,

“Wah akhirnya SpongeBob kembali seperti dulu.”

Justru saya cukup senang karena film ini mencoba melakukan sesuatu yang berbeda dengan mengambil karakter Plankton sebagai pusat cerita.

Hubungan Plankton dan Karen juga menurut saya cukup menarik dan ada beberapa bagian yang benar-benar membuat saya tertawa.

Tapi di sisi lain, masalah animasi, beberapa keputusan terhadap karakter Plankton, SpongeBob yang menurut saya terlalu bodoh dan beberapa peluang humor visual yang terlewat membuat film ini terasa belum maksimal.

Kalau kalian adalah fans berat SpongeBob, mungkin film ini masih bisa kalian coba tonton, apalagi kalau penasaran dengan kehidupan Plankton dan Karen dari sudut pandang mereka sendiri.

Untuk rating IMDb sendiri, film ini berada di 5,3/10, dan kalau dari pendapat pribadi saya, rating tersebut menurut saya cukup menggambarkan pengalaman saya ketika menonton film ini.

Jadi kalau ditanya “Plankton: The Movie wajib ditonton?”

Menurut saya...

Kalau penasaran, tonton. Kalau tidak, yaaa... bisa dilewati.

Review Film Operasi Pesta Copet: Latar Pestapora yang Nyata, Tapi Sayang Ceritanya Standar

Review Film Operasi Pesta Copet: Latar Pestapora yang Nyata, Tapi Sayang Ceritanya Standar

 

Review Film Operasi Pesta Copet

Hari ini saya mencoba untuk menonton film yang di bintangi oleh Iqbal Ramadhan yaitu Operasi Pesta Copet. Sebenarnya alasan saya menonton film ini lebih karena penasaran, apalagi saya melihat beberapa informasi mengenai film ini yang cukup menarik perhatian saya. Salah satunya adalah lokasi syutingnya yang memang mengambil tempat langsung di acara Pestapora.

Karena penasaran akhirnya saya mencoba menonton film ini di NSC Kudus. Dan kebetulan ketika saya mau membeli tiket ternyata hanya tersisa satu jadwal yaitu jam 11 siang. Akhirnya ya sudah saya ambil saja jadwal tersebut, toh sekalian penasaran seperti apa filmnya.

Yang membuat saya semakin penasaran sebenarnya bukan hanya karena Iqbal Ramadhan yang menjadi salah satu pemeran utama, tetapi juga karena konsep film ini yang mengambil latar langsung dari sebuah festival musik yang memang sangat ramai. Jadi saya penasaran bagaimana sebuah festival sebesar Pestapora bisa dimasukkan ke dalam sebuah cerita film tentang komplotan copet.

Nah setelah selesai menonton, menurut saya film ini cukup cocok untuk kalian yang memang ingin menonton film dengan santai tanpa harus terlalu berpikir keras mengenai ceritanya. Tapi kalau kalian datang dengan ekspetasi ingin mendapatkan film kriminal yang tegang, penuh plot twist dan mempunyai kritik sosial yang sangat kuat, mungkin kalian akan sedikit kecewa.

Sinopsis Singkat: Operasi Pesta Copet

Film Operasi Pesta Copet bercerita mengenai sekelompok komplotan copet yang menjadikan keramaian festival musik sebagai lokasi operasi mereka.

Mereka melihat keramaian festival sebagai kesempatan untuk melakukan aksi pencopetan terbesar mereka. Masing-masing dari mereka juga mempunyai kebutuhan hidup masing-masing yang menjadi alasan kenapa mereka melakukan aksi tersebut.

Dan yang menarik dari film ini adalah lokasi festival yang digunakan bukan sekedar dibuat ulang menggunakan set atau CGI, tetapi memang mengambil lokasi langsung dari Pestapora.

Karena itu sepanjang film kita bisa melihat berbagai macam hal yang berhubungan dengan festival tersebut, termasuk beberapa penampilan dan hal-hal kecil yang menurut saya bisa menjadi semacam easter egg bagi orang-orang yang memang mengikuti Pestapora atau musik Indonesia.


POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Atmosfer Pestapora Yang Terasa Sangat Nyata

Menurut saya salah satu daya tarik terbesar dari film ini justru datang dari penggunaan lokasi Pestapora itu sendiri.

Karena memang festivalnya benar-benar terasa seperti festival musik yang sedang berlangsung. Keramaian penonton, panggung, orang-orang yang berlalu lalang sampai berbagai macam band yang muncul membuat film ini terasa lebih hidup.

Buat saya ini merupakan salah satu kelebihan yang cukup besar.

Apalagi ketika melihat beberapa band atau musisi yang memang tampil di Pestapora, rasanya seperti sedang menonton dokumentasi dari festival tersebut tetapi kemudian dimasukkan ke dalam sebuah cerita film.

Bisa dibilang ada cukup banyak easter egg yang mungkin lebih bisa dinikmati oleh orang yang memang mengikuti Pestapora atau musik-musik Indonesia.

Jadi kalau kalian datang karena penasaran bagaimana Pestapora digunakan sebagai lokasi syuting film, menurut saya bagian ini cukup menarik untuk dilihat langsung di bioskop.

Pemilihan Pemain dan Akting Yang Natural

Untuk masalah pemain menurut saya juga cukup menarik.

Beberapa cast seperti Melodi, Silet dan Kristo Immanuel menurut saya mempunyai akting yang cukup natural. Ada beberapa adegan dimana saya merasa mereka tidak terlihat seperti sedang berakting di depan kamera.

Ini menjadi salah satu hal yang saya suka karena ketika sebuah film komedi mempunyai pemain yang terlalu terlihat sedang memainkan karakter, biasanya justru membuat adegannya terasa dibuat-buat.

Tapi di film ini ada beberapa bagian dimana interaksi antar pemain terasa cukup natural.

Iqbal Ramadhan sendiri juga menjadi salah satu alasan kenapa film ini cukup menarik untuk ditonton, terutama bagi kalian yang memang sudah mengikuti film-film yang dibintangi oleh Iqbal.

Pengambilan Gambar Saat Adegan Mencopet

Nah ini salah satu bagian teknis yang menurut saya justru cukup bagus.

Ketika adegan pencopetan berlangsung, perpindahan gambar dari satu shot ke shot berikutnya menurut saya sangat smooth.

Kecepatan perpindahan kameranya juga membuat adegan pencopetan terlihat lebih menarik untuk diikuti.

Karena pada dasarnya adegan copet itu membutuhkan gerakan yang cepat, jadi kalau editing dan kameranya kurang bagus tentu adegannya bisa terlihat biasa saja.

Tapi menurut saya di bagian ini cukup berhasil membuat aksi pencopetan terasa lebih dinamis.

Walaupun dari sisi ceritanya sendiri tidak terlalu menegangkan, setidaknya secara visual adegan tersebut masih enak untuk ditonton.

Ceritanya Cukup Ringan

Kalau dari segi cerita menurut saya film ini sebenarnya sangat biasa.

Tidak terlalu banyak hal yang membuat saya merasa tegang atau penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tapi balik lagi, mungkin memang tujuan utama film ini bukan untuk memberikan pengalaman menonton film kriminal yang berat.

Film ini lebih terasa seperti film hiburan yang bisa kalian tonton dengan santai.

Jadi kalau kalian datang ke bioskop setelah capek bekerja atau hanya ingin menghabiskan waktu sambil menonton film yang ringan, menurut saya film ini masih cocok.

Tapi jangan datang dengan ekspetasi bahwa kalian akan mendapatkan cerita pencurian dengan ketegangan seperti film heist pada umumnya.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Operasi Pesta Copet

  • Kelebihan:

1. Penggunaan lokasi Pestapora sangat masif dan nyata

Ini menurut saya merupakan kelebihan terbesar dari film ini.

Penggunaan Pestapora sebagai latar membuat film terasa lebih hidup dan berbeda dari film komedi biasa.


2. Pemilihan pemain cukup cocok

Beberapa pemain seperti Melodi, Silet dan Kristo Immanuel menurut saya mempunyai akting yang natural sehingga interaksi antar karakternya terasa tidak terlalu dibuat-buat.


3. Pengambilan gambar adegan pencopetan bagus

Perpindahan kamera dan editing ketika adegan mencopet menurut saya cukup smooth dan membuat adegannya terlihat lebih dinamis.


4. Cocok untuk tontonan santai

Film ini tidak terlalu berat dan tidak membuat saya harus berpikir terlalu keras untuk memahami ceritanya.

Jadi memang lebih cocok untuk hiburan ringan.


  • Kekurangan


1. Kritik sosialnya kurang terasa

Ini salah satu hal yang cukup saya sayangkan.

Saya sempat melihat beberapa podcast atau pembahasan dimana Iqbal Ramadhan memberikan isyarat bahwa film ini juga mempunyai kritik sosial mengenai ketidakadilan sosial yang terjadi di masyarakat.

Tapi setelah saya menonton filmnya sendiri, saya pribadi tidak terlalu merasakan kritik sosial tersebut.

Menurut saya justru aspek komedi dan hiburannya jauh lebih menonjol dibandingkan pesan sosialnya.

Mungkin pesan tersebut memang ada dan bisa ditafsirkan oleh sebagian penonton, tetapi untuk saya pribadi penyampaiannya masih kurang kuat.


2. Komedinya terlalu sering

Untuk komedinya menurut saya cukup subjektif.

Ada beberapa bagian yang memang membuat saya tertawa, tapi ada juga beberapa bagian yang menurut saya terasa terlalu dipaksakan.

Karena hampir setiap beberapa menit ada saja bagian yang mencoba memasukkan komedi, akhirnya ada beberapa joke yang menurut saya malah terasa kurang natural.

Tapi balik lagi, masalah lucu atau tidaknya sebuah komedi memang sangat subjektif. Bisa saja bagian yang menurut saya tidak terlalu lucu justru menjadi bagian favorit penonton lainnya.


3. Alurnya cukup standar

Menurut saya dari awal sampai akhir alurnya cukup mudah ditebak.

Tidak terlalu banyak kejutan besar atau plot twist yang membuat saya benar-benar kaget.

Kalau kalian terbiasa menonton film dengan cerita heist atau kriminal yang mempunyai banyak kejutan, mungkin kalian akan merasa bahwa film ini cukup sederhana.

Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja

Secara pribadi setelah selesai menonton Operasi Pesta Copet, saya merasa cukup santai.

Saya tidak merasa rugi menonton film ini karena memang dari awal saya juga tidak memasang ekspetasi terlalu tinggi. Saya lebih penasaran dengan bagaimana Pestapora digunakan sebagai lokasi syuting dan bagaimana festival tersebut dimasukkan ke dalam cerita.

Dan menurut saya bagian tersebut justru menjadi salah satu daya tarik terbesar film ini.

Tetapi kalau ditanya apakah saya akan menonton ulang film ini?

Mungkin tidak.

Bukan berarti filmnya jelek, tetapi menurut saya setelah sekali menonton sudah cukup. Ceritanya tidak memiliki terlalu banyak kejutan yang membuat saya ingin kembali menontonnya.

Kalau kalian adalah fans fanatik Iqbal Ramadhan, mungkin kalian bisa mencoba menonton film ini karena salah satu daya tariknya memang ada di jajaran pemainnya.

Tapi kalau kalian mencari film kriminal dengan nuansa ketegangan yang kuat, aksi pencurian yang menegangkan atau berharap mendapatkan plot twist yang mengejutkan, menurut saya film ini tidak terlalu menawarkan hal tersebut.

Untuk saya pribadi, Operasi Pesta Copet cukup sebagai tontonan santai sekali jalan.

Untuk skor IMDb sendiri saat saya melihatnya berada di 7,5/10, tetapi jumlah yang memberikan rating masih sangat sedikit yaitu sekitar 98 orang, jadi menurut saya angka tersebut masih belum bisa terlalu dijadikan patokan karena jumlah penilainya masih sangat kecil.

Review Film Harusnya Horror: Harusnya Lucu Atau Horror ?

Review Film Harusnya Horror: Harusnya Lucu Atau Horror ?

 

Review Harusnya Horror

Belakangan ini genre film horror komedi begitu banyak yang muncul di layar lebar bioskop indonesia, mulai dari jenis film remake film dari garapan sutradara terkenal sampai film yang di garap oleh sutradara baru. 

Salah satu yang di nantikan kemarin di bulan agustus tanggal 20 tahun 2026 adalah penayangan perdana dari film yang di bintangi oleh Reza Arap Oktovian, film yang di garap langsung dan  di sutradarai oleh Reza Arap Oktovian ini mengusung genre horror komedi yang sudah tidak asing di indonesia. 

Sebagai penikmat film komedi horror saya tentu saja tidak ingin ketinggalan hype dari film pertama karya reza oktovian ini, pada penayangan di hari ke 5 saya coba datang ke bioskop untuk menonton film Harusnya Horror, Sekarang pertanyaannya adalah apakah film ini sebagus dan selucu itu atau malah biasa saja ? 

berikut adalah review pribadi dari diri saya sendiri dan menurut keyakinan saya.


Sinopsis Singkat: Harusnya Horror

Sebuah kelompok konten kreator yang di perankan oleh Tierison, Gerry Ang, Yuka Theo sedang mengalami masalah finansial, kemudian suatu hari mereka mencoba untuk membuat konten horror dan tanpa sengaja bertemu dengan hantu yang di perankan oleh Reza Oktovian, disini hantu yang di perankan beranam mas, dan mas mendapatkan tugas dari akhirat untuk menakut nakuti 100 ribu manusia agar si mas dapat melanjutkan untuk menonton episode terakhir anime favoritnya, pada akhirnya mereka berkolaborasi untuk membuat konten penelusuran agar misi dari mas untuk menakuti 100 ribu manusia tercapai.


POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini


  • Atmosfer di bioskop : 
aku mulai dari suasana bioskop saat menonton film ini, jujur pada penayangan di hari ke 5 aku menonton di NSC Kudus dan di beberapa film lain aku juga sering menoton di NSC kudus, kondisi saat aku masuk ke dalam bioskop tidak begitu ramai orang yang menonton film ini, hanya beberapa orang, di awal cerita film, suasana di bioskop masih begitu hening aku tidak merasakan hawa mencekam horror dari film ini berbeda ketika aku menonton beberapa film horror indonesia seperti Kodrat, lalu KKN Desa Penari di awal film di putar mulai dari color grading musik dan pengambilan angle shot kamera sudah dapat membuat badan terasa merinding seakan bersiap jika bakal terjadi jumpscare, dan hal itu aku tidak merasakannya saat pemutaran awal dari film Harusnya Horror.
  • Eksekusi Jumpscare dan komedi : 
Dari awal sampe pertengahan cerita tidak terlalu banyak bahkan bisa di bilang sangat minim jumpscare lebih banyak para pemainnya untuk mencoba membuat film ini terlihat lebih ke arah komedi, satu satunya yang menurut saya horror disini adalah penampilan reza oktovian sendiri dengan dandanan pucatnya, untuk komedinya menurut saya di beberapa bagian saya merasa saya tidak releated  dengan jokes komedinya, sifat komedi yang di bawa pada film ini lebih merujuk ke komedi tongkrongan, di beberapa review dan komen orang yang telah menonton film ini, kebanyakan juga mengatakan kalau film ini lebih di tujukan bagi fans yang menonton live streaming reza oktovian, beberapa jokes juga miss eksekusinya menurut saya pribadi tapi balik lagi selera humor itu bersifat subjektif. tapi menurut saya drama yang di usung film ini luamayan menarik dan bagus di beberapa bagian scene.
  • Akting pemain : 
Dari beberapa pemain yang memerankan karakternya menurutku ada beberapa yang bagus aktingnya seperti tierison, kemudian aloy, kemudian lula, kita mulai dari jot atau tierison untuk aktor yang baru dan ini menjadi film perdananya akting dari jot ini sudah cukup memuaskan dari cara dia berekspresi dan intonasi dalam dialognya hal itu juga yang bikin saya cukup terkesan ketika menonton film ini, untuk lula awalnya aku mengira lula adalah aktris yang sudah terbiasa bermain di film layar lebar tapi setelah aku riset ini merupakan film pertamanya juga menurtuku akting dari lula sangat bagus dan natural banget.untuk pemain lain seperti garry aku rasa dari gaya dan  ekspresinya masih begitu kaku dan di beberapa scene expresi yang di keluarkan garry tidak menggambarkan situasi dan keadaan scene yang sedang terjadi, dan terakhir pemeran utamanya reza oktovian di beberapa scene reza cukup bagus dalam aktingnya dan peng ekspresian karakter tapi di beberapa scene juga aktingnya terlihat kurang konsisten.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Harusnya Horror

  • Kelebihan: 
- Aspek drama dari film ini yang kuat, ketimbang komedi dan horrornya drama dari film ini malah terlihat begitu menonjol.

- Kualitas teknik visual secara CGI kemudian penataan set dan pencahayaan dari film ini cukup solid dan memuaskan.

- Performa dari jot dan lula di luar ekspetasi untuk pemain baru di dunia akting dan langsung terjun kelayar lebar kualitas akting dari dua pemain ini sudah sangat bagus dan mungkin bisa untuk di coba di film lain untuk kedepannya.

- Fans Service  bagi kalian yang mengikuti live streaming reza oktovian mungkin film ini sangat cocok bagi kalian, dari segi jokes komedi yang mungkin di tujukan  untuk fans mereka, film ini cocok sebagai pelampiasan kerinduan bagi fans yang tidak bisa melihat mereka live streaming marapthon lagi.

  • Kekurangan:
- Komedi yang kurang kena untuk penonton awam yang tidak mengikuti marapthon seperti saya beberapa jokes komedinya tidak terlalu lucu bahkan terkesan mencoba untuk menjadi lucu.

- Akting beberapa pemain yang tidak konsisten halini sebenarnya tidak terlalu mengherankan mengingat basic mereka bukan  berasal dari dunia akting tapi bagi penonton yang datang ke bioskop dan ingin menonton film akan merasa akting beberapa pemain kurang konsisten dan tidak memuaskan.

- Konep cerita yang tidak baru, sebenarnya konspe cerita dimana ada live streaming hantu sudah begitu banyak jadi menurutku ini bukan tipe cerita yang baru di dunia film.

Kesimpulan: Layak  Di Tonton Atau Lewati Saja

Secara keseluruhan film Harusnya Horror ini, untuk kalian yang menyukai atau fans berat dari marapthon atau reza oktovian tidak mungkin akan melewatkan film perdana yang di sutradarai langsung oleh reza oktovian, tapi bagi kalian orang yang awam dan ingin menonton film yang bagus dan seru saranku untuk lewatkan saja film ini, untuk ratingnya di IMDB film ini mendapat rating 2.8/10.