Review Film Operasi Pesta Copet: Latar Pestapora yang Nyata, Tapi Sayang Ceritanya Standar

Review Film Operasi Pesta Copet: Latar Pestapora yang Nyata, Tapi Sayang Ceritanya Standar

 

Review Film Operasi Pesta Copet

Hari ini saya mencoba untuk menonton film yang di bintangi oleh Iqbal Ramadhan yaitu Operasi Pesta Copet. Sebenarnya alasan saya menonton film ini lebih karena penasaran, apalagi saya melihat beberapa informasi mengenai film ini yang cukup menarik perhatian saya. Salah satunya adalah lokasi syutingnya yang memang mengambil tempat langsung di acara Pestapora.

Karena penasaran akhirnya saya mencoba menonton film ini di NSC Kudus. Dan kebetulan ketika saya mau membeli tiket ternyata hanya tersisa satu jadwal yaitu jam 11 siang. Akhirnya ya sudah saya ambil saja jadwal tersebut, toh sekalian penasaran seperti apa filmnya.

Yang membuat saya semakin penasaran sebenarnya bukan hanya karena Iqbal Ramadhan yang menjadi salah satu pemeran utama, tetapi juga karena konsep film ini yang mengambil latar langsung dari sebuah festival musik yang memang sangat ramai. Jadi saya penasaran bagaimana sebuah festival sebesar Pestapora bisa dimasukkan ke dalam sebuah cerita film tentang komplotan copet.

Nah setelah selesai menonton, menurut saya film ini cukup cocok untuk kalian yang memang ingin menonton film dengan santai tanpa harus terlalu berpikir keras mengenai ceritanya. Tapi kalau kalian datang dengan ekspetasi ingin mendapatkan film kriminal yang tegang, penuh plot twist dan mempunyai kritik sosial yang sangat kuat, mungkin kalian akan sedikit kecewa.

Sinopsis Singkat: Operasi Pesta Copet

Film Operasi Pesta Copet bercerita mengenai sekelompok komplotan copet yang menjadikan keramaian festival musik sebagai lokasi operasi mereka.

Mereka melihat keramaian festival sebagai kesempatan untuk melakukan aksi pencopetan terbesar mereka. Masing-masing dari mereka juga mempunyai kebutuhan hidup masing-masing yang menjadi alasan kenapa mereka melakukan aksi tersebut.

Dan yang menarik dari film ini adalah lokasi festival yang digunakan bukan sekedar dibuat ulang menggunakan set atau CGI, tetapi memang mengambil lokasi langsung dari Pestapora.

Karena itu sepanjang film kita bisa melihat berbagai macam hal yang berhubungan dengan festival tersebut, termasuk beberapa penampilan dan hal-hal kecil yang menurut saya bisa menjadi semacam easter egg bagi orang-orang yang memang mengikuti Pestapora atau musik Indonesia.


POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Atmosfer Pestapora Yang Terasa Sangat Nyata

Menurut saya salah satu daya tarik terbesar dari film ini justru datang dari penggunaan lokasi Pestapora itu sendiri.

Karena memang festivalnya benar-benar terasa seperti festival musik yang sedang berlangsung. Keramaian penonton, panggung, orang-orang yang berlalu lalang sampai berbagai macam band yang muncul membuat film ini terasa lebih hidup.

Buat saya ini merupakan salah satu kelebihan yang cukup besar.

Apalagi ketika melihat beberapa band atau musisi yang memang tampil di Pestapora, rasanya seperti sedang menonton dokumentasi dari festival tersebut tetapi kemudian dimasukkan ke dalam sebuah cerita film.

Bisa dibilang ada cukup banyak easter egg yang mungkin lebih bisa dinikmati oleh orang yang memang mengikuti Pestapora atau musik-musik Indonesia.

Jadi kalau kalian datang karena penasaran bagaimana Pestapora digunakan sebagai lokasi syuting film, menurut saya bagian ini cukup menarik untuk dilihat langsung di bioskop.

Pemilihan Pemain dan Akting Yang Natural

Untuk masalah pemain menurut saya juga cukup menarik.

Beberapa cast seperti Melodi, Silet dan Kristo Immanuel menurut saya mempunyai akting yang cukup natural. Ada beberapa adegan dimana saya merasa mereka tidak terlihat seperti sedang berakting di depan kamera.

Ini menjadi salah satu hal yang saya suka karena ketika sebuah film komedi mempunyai pemain yang terlalu terlihat sedang memainkan karakter, biasanya justru membuat adegannya terasa dibuat-buat.

Tapi di film ini ada beberapa bagian dimana interaksi antar pemain terasa cukup natural.

Iqbal Ramadhan sendiri juga menjadi salah satu alasan kenapa film ini cukup menarik untuk ditonton, terutama bagi kalian yang memang sudah mengikuti film-film yang dibintangi oleh Iqbal.

Pengambilan Gambar Saat Adegan Mencopet

Nah ini salah satu bagian teknis yang menurut saya justru cukup bagus.

Ketika adegan pencopetan berlangsung, perpindahan gambar dari satu shot ke shot berikutnya menurut saya sangat smooth.

Kecepatan perpindahan kameranya juga membuat adegan pencopetan terlihat lebih menarik untuk diikuti.

Karena pada dasarnya adegan copet itu membutuhkan gerakan yang cepat, jadi kalau editing dan kameranya kurang bagus tentu adegannya bisa terlihat biasa saja.

Tapi menurut saya di bagian ini cukup berhasil membuat aksi pencopetan terasa lebih dinamis.

Walaupun dari sisi ceritanya sendiri tidak terlalu menegangkan, setidaknya secara visual adegan tersebut masih enak untuk ditonton.

Ceritanya Cukup Ringan

Kalau dari segi cerita menurut saya film ini sebenarnya sangat biasa.

Tidak terlalu banyak hal yang membuat saya merasa tegang atau penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tapi balik lagi, mungkin memang tujuan utama film ini bukan untuk memberikan pengalaman menonton film kriminal yang berat.

Film ini lebih terasa seperti film hiburan yang bisa kalian tonton dengan santai.

Jadi kalau kalian datang ke bioskop setelah capek bekerja atau hanya ingin menghabiskan waktu sambil menonton film yang ringan, menurut saya film ini masih cocok.

Tapi jangan datang dengan ekspetasi bahwa kalian akan mendapatkan cerita pencurian dengan ketegangan seperti film heist pada umumnya.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Operasi Pesta Copet

  • Kelebihan:

1. Penggunaan lokasi Pestapora sangat masif dan nyata

Ini menurut saya merupakan kelebihan terbesar dari film ini.

Penggunaan Pestapora sebagai latar membuat film terasa lebih hidup dan berbeda dari film komedi biasa.


2. Pemilihan pemain cukup cocok

Beberapa pemain seperti Melodi, Silet dan Kristo Immanuel menurut saya mempunyai akting yang natural sehingga interaksi antar karakternya terasa tidak terlalu dibuat-buat.


3. Pengambilan gambar adegan pencopetan bagus

Perpindahan kamera dan editing ketika adegan mencopet menurut saya cukup smooth dan membuat adegannya terlihat lebih dinamis.


4. Cocok untuk tontonan santai

Film ini tidak terlalu berat dan tidak membuat saya harus berpikir terlalu keras untuk memahami ceritanya.

Jadi memang lebih cocok untuk hiburan ringan.


  • Kekurangan


1. Kritik sosialnya kurang terasa

Ini salah satu hal yang cukup saya sayangkan.

Saya sempat melihat beberapa podcast atau pembahasan dimana Iqbal Ramadhan memberikan isyarat bahwa film ini juga mempunyai kritik sosial mengenai ketidakadilan sosial yang terjadi di masyarakat.

Tapi setelah saya menonton filmnya sendiri, saya pribadi tidak terlalu merasakan kritik sosial tersebut.

Menurut saya justru aspek komedi dan hiburannya jauh lebih menonjol dibandingkan pesan sosialnya.

Mungkin pesan tersebut memang ada dan bisa ditafsirkan oleh sebagian penonton, tetapi untuk saya pribadi penyampaiannya masih kurang kuat.


2. Komedinya terlalu sering

Untuk komedinya menurut saya cukup subjektif.

Ada beberapa bagian yang memang membuat saya tertawa, tapi ada juga beberapa bagian yang menurut saya terasa terlalu dipaksakan.

Karena hampir setiap beberapa menit ada saja bagian yang mencoba memasukkan komedi, akhirnya ada beberapa joke yang menurut saya malah terasa kurang natural.

Tapi balik lagi, masalah lucu atau tidaknya sebuah komedi memang sangat subjektif. Bisa saja bagian yang menurut saya tidak terlalu lucu justru menjadi bagian favorit penonton lainnya.


3. Alurnya cukup standar

Menurut saya dari awal sampai akhir alurnya cukup mudah ditebak.

Tidak terlalu banyak kejutan besar atau plot twist yang membuat saya benar-benar kaget.

Kalau kalian terbiasa menonton film dengan cerita heist atau kriminal yang mempunyai banyak kejutan, mungkin kalian akan merasa bahwa film ini cukup sederhana.

Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja

Secara pribadi setelah selesai menonton Operasi Pesta Copet, saya merasa cukup santai.

Saya tidak merasa rugi menonton film ini karena memang dari awal saya juga tidak memasang ekspetasi terlalu tinggi. Saya lebih penasaran dengan bagaimana Pestapora digunakan sebagai lokasi syuting dan bagaimana festival tersebut dimasukkan ke dalam cerita.

Dan menurut saya bagian tersebut justru menjadi salah satu daya tarik terbesar film ini.

Tetapi kalau ditanya apakah saya akan menonton ulang film ini?

Mungkin tidak.

Bukan berarti filmnya jelek, tetapi menurut saya setelah sekali menonton sudah cukup. Ceritanya tidak memiliki terlalu banyak kejutan yang membuat saya ingin kembali menontonnya.

Kalau kalian adalah fans fanatik Iqbal Ramadhan, mungkin kalian bisa mencoba menonton film ini karena salah satu daya tariknya memang ada di jajaran pemainnya.

Tapi kalau kalian mencari film kriminal dengan nuansa ketegangan yang kuat, aksi pencurian yang menegangkan atau berharap mendapatkan plot twist yang mengejutkan, menurut saya film ini tidak terlalu menawarkan hal tersebut.

Untuk saya pribadi, Operasi Pesta Copet cukup sebagai tontonan santai sekali jalan.

Untuk skor IMDb sendiri saat saya melihatnya berada di 7,5/10, tetapi jumlah yang memberikan rating masih sangat sedikit yaitu sekitar 98 orang, jadi menurut saya angka tersebut masih belum bisa terlalu dijadikan patokan karena jumlah penilainya masih sangat kecil.