Review Colony — Film Zombie Korea Dengan Zombie Yang Berbeda

Review Colony — Film Zombie Korea Dengan Zombie Yang Berbeda

 

Review Colony

Kalau bicara soal film atau series Korea, ada beberapa aktor yang memang menurut saya selalu menarik untuk diikuti. Salah satunya adalah Ji Chang-wook.

Saya sendiri mulai menyukai Ji Chang-wook sejak menonton drama The K2. Dari sana saya mulai mengikuti beberapa film dan drama yang dia mainkan. Menurut saya salah satu hal yang membuat Ji Chang-wook menarik adalah kemampuan aktingnya yang cukup fleksibel, terutama ketika harus memainkan karakter yang berhubungan dengan action.

Nah, kali ini saya kembali menemukan salah satu film yang dibintangi oleh Ji Chang-wook yaitu Colony.

Berbeda dengan beberapa film sebelumnya yang saya tonton di bioskop, kali ini saya menonton Colony langsung dari rumah melalui Netflix bersama pasangan saya.

Dan kesan pertama saya ketika film ini mulai berjalan adalah...

“Wah, ini kok auranya mirip Train to Busan?”

Mulai dari tone warna, suasana tempat, sampai bagaimana kamera mengambil gambar ketika suasana mulai mencekam, saya cukup sering teringat dengan film Train to Busan.

Apalagi film ini memang masih berada di genre zombie dan survival.

Jadi sejak awal saya sudah memiliki ekspektasi yang cukup tinggi.

Bukan hanya karena Ji Chang-wook, tetapi juga karena film ini mencoba memberikan sesuatu yang berbeda dari film zombie pada umumnya.

Pertanyaannya, apakah akhirnya film ini bisa memberikan pengalaman yang menarik?

Sinopsis Singkat: Colony

Cerita bermula dari seorang profesor bernama Se Jeong yang menghadiri sebuah konferensi bioteknologi.

Namun konferensi tersebut berubah menjadi sebuah bencana ketika sebuah virus yang mengalami mutasi dengan sangat cepat dilepaskan.

Dalam waktu singkat wabah mulai menyebar dan orang-orang yang terinfeksi mulai mengalami perubahan.

Situasi menjadi semakin kacau ketika pihak berwenang akhirnya memblokir seluruh fasilitas untuk mencegah penyebaran wabah.

Se Jeong yang terjebak di dalam situasi tersebut kemudian harus berusaha bertahan hidup sekaligus mencari cara untuk menghentikan wabah sebelum semuanya terlambat.

Dan dari sinilah perjuangan untuk bertahan hidup dimulai.

POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Kesan Pertama: Auranya Mengingatkan Saya Dengan Train to Busan

Seperti yang saya bilang sebelumnya, hal pertama yang saya rasakan ketika menonton film ini adalah suasananya.

Tone warna dan pengambilan gambarnya membuat saya beberapa kali teringat dengan Train to Busan.

Bukan berarti film ini sama persis, tetapi ada aura yang menurut saya cukup mirip.

Terutama ketika kamera mulai memperlihatkan suasana tempat yang sudah kacau dan karakter mulai berusaha mencari jalan keluar.

Ada rasa sempit, terjebak dan tidak tahu apa yang akan muncul setelah ini.

Dan menurut saya hal seperti ini cukup penting dalam film zombie.

Karena film zombie tidak hanya membutuhkan zombie yang bagus, tetapi juga membutuhkan suasana yang membuat penonton merasa ikut terjebak bersama karakter di dalam film.

Saya sendiri menonton film ini bersama pasangan, jadi suasana mencekamnya lumayan terasa.

Beberapa kali kami benar-benar menunggu apakah setelah pintu dibuka akan muncul zombie atau tidak.

Zombie Di Film Ini Tidak Seperti Zombie Pada Umumnya

Nah ini justru bagian yang paling saya sukai dari Colony.

Kalau biasanya zombie hanya memiliki satu tujuan yaitu mengejar manusia, menggigit, kemudian membuat orang lain ikut terinfeksi, di film ini konsepnya menurut saya jauh lebih menarik.

Zombie yang ada di Colony seperti terus mengalami perkembangan.

Mereka bukan hanya sekedar manusia yang terinfeksi virus.

Kemampuan mereka bisa berkembang dari waktu ke waktu.

Mulai dari penciuman, penglihatan sampai tingkat kecerdasan.

Dan menurut saya ini memberikan sesuatu yang cukup berbeda.

Awalnya saya berpikir, “oh ini zombie biasa.”

Tapi semakin film berjalan, saya mulai menyadari kalau zombie yang ada di film ini ternyata memiliki kemampuan yang berbeda.

Dan semakin lama justru semakin kuat.

Menurut saya ini salah satu alasan kenapa filmnya cukup menarik untuk diikuti sampai akhir.

Karena kita sebagai penonton tidak pernah benar-benar tahu kemampuan apa lagi yang akan ditunjukkan oleh zombie tersebut.

Saya Suka Ada Penjelasan Tentang Virusnya

Salah satu hal yang sering membuat saya kurang suka dengan film zombie adalah ketika virusnya hanya dijadikan alasan supaya orang-orang berubah menjadi zombie.

Sudah.

Tidak dijelaskan lagi.

Tapi di Colony saya merasa penjelasan mengenai virus dan perubahan yang terjadi masih cukup mendapatkan perhatian.

Ada semacam latar belakang dan eksposisi mengenai bagaimana wabah tersebut bisa berkembang.

Menurut saya ini membuat film terasa lebih seperti film zombie dengan teknologi tinggi daripada sekedar film zombie biasa.

Ada unsur biologi, eksperimen, mutasi dan bagaimana virus tersebut memengaruhi manusia.

Jadi selain mendapatkan adegan action, saya juga mendapatkan sedikit teori mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Ji Chang-wook Menurut Saya Tetap Menjadi Daya Tarik Utama

Tentu saja saya tidak bisa melewatkan bagian ini.

Saya memang menonton film ini salah satu alasan utamanya karena ada Ji Chang-wook.

Sejak The K2, saya memang cukup suka dengan kemampuan aktingnya.

Dan di Colony menurut saya aktingnya tetap bagus.

Walaupun saya tidak akan mengatakan karakter di film ini merupakan karakter terbaik yang pernah dia mainkan, tetapi saya tetap bisa merasakan kemampuan aktingnya ketika situasi mulai berubah menjadi semakin kacau.

Terutama ketika karakter harus menghadapi kondisi yang tidak bisa diprediksi.

Dan menurut saya chemistry antar pemain juga cukup bagus.

Tidak terasa seperti semua karakter hanya dimasukkan untuk menjadi korban zombie.

Karakter Perempuan Utamanya Juga Tidak Lemah

Salah satu hal yang saya cukup suka adalah karakter perempuan utama di film ini tidak dibuat sebagai karakter yang hanya menunggu diselamatkan.

Justru pengetahuan yang dia miliki sebagai seorang profesor biologi manusia dan hewan menjadi salah satu senjata untuk menghadapi zombie.

Jadi dia tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik.

Dia menggunakan pengetahuan yang dia miliki untuk memahami apa yang terjadi.

Menurut saya ini keputusan yang cukup bagus.

Karena ketika melawan zombie yang semakin kuat, akan terasa aneh kalau manusia hanya mengandalkan senjata dan kekuatan fisik.

Di film ini pengetahuan menjadi salah satu bagian penting dalam usaha mereka bertahan hidup.

Zombie-nya Justru Terlalu Kuat

Nah, ini masuk ke bagian yang menurut saya menjadi kekurangan.

Saya suka konsep zombie yang berbeda.

Saya suka mereka berkembang.

Saya suka kemampuan mereka.

Tapi di beberapa bagian menurut saya zombie dan antagonisnya terasa terlalu kuat.

Sampai saya beberapa kali berpikir,

“Ini manusia mau ngelawan pakai apa?”

Karena semakin lama kemampuan zombie semakin berkembang, sementara karakter manusia terasa cukup terbatas.

Menurut saya akan lebih menarik kalau kekuatan antara manusia dan zombie dibuat sedikit lebih seimbang.

Bukan berarti zombienya harus lemah, tetapi harus ada kesempatan bagi karakter manusia untuk melakukan perlawanan dengan cara yang lebih masuk akal.

Kurang Karakter Pendukung Yang Benar-Benar Kuat

Kalau dibandingkan dengan Train to Busan, menurut saya Colony masih kurang dalam masalah karakter pendukung.

Train to Busan menurut saya memiliki beberapa karakter yang benar-benar terasa kuat dan berkesan.

Ada karakter yang ketika zombie datang tidak hanya menjadi korban, tetapi justru ikut menghadapi zombie dengan cara mereka masing-masing.

Di Colony saya merasa bagian ini masih kurang.

Karakter utamanya memang cukup menarik, tapi saya merasa belum mendapatkan karakter pendukung yang benar-benar bisa membuat saya berkata,

“Nah ini karakter keren.”

Dan ketika karakter pendukungnya tidak terlalu kuat, hubungan emosional dengan karakter-karakter tersebut juga menurut saya tidak sekuat film zombie Korea lainnya.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Colony

Kelebihan

1. Zombie memiliki konsep yang berbeda

Menurut saya ini adalah kelebihan terbesar film.

Zombie tidak hanya menjadi manusia yang terinfeksi, tetapi memiliki perkembangan kemampuan dari waktu ke waktu.

2. Cerita tidak terasa seperti film zombie biasa

Walaupun premisnya tetap tentang virus dan wabah, film memberikan tambahan unsur bioteknologi, mutasi dan eksperimen.

3. Visual dan tone warna sangat mendukung suasana

Tone warna yang digunakan membuat film terasa gelap dan mencekam.

Buat saya pribadi bahkan beberapa kali terasa seperti melihat kembali aura Train to Busan.

4. Akting para pemain bagus

Terutama Ji Chang-wook yang menurut saya masih menjadi salah satu daya tarik utama film ini.

5. Action cukup banyak

Film ini tidak hanya berisi dialog dan penjelasan tentang virus.

Ada cukup banyak adegan kejar-kejaran, pertarungan dan survival yang membuat tempo film tetap terasa cepat.

Kekurangan

1. Karakter pendukung kurang kuat

Saya berharap ada beberapa karakter pendukung yang lebih berkesan seperti yang bisa kita temukan di film zombie Korea lainnya.

2. Zombie terlalu kuat

Ini sebenarnya sekaligus menjadi kelebihan dan kekurangan.

Konsep zombie yang kuat memang menarik, tetapi di beberapa bagian terasa terlalu overpower.

3. Beberapa bagian terasa terlalu cepat

Karena film ingin memasukkan unsur teori, action dan perkembangan zombie sekaligus, ada beberapa bagian yang menurut saya terasa cukup cepat.

Saya masih bisa mengikuti ceritanya, tapi ada beberapa momen dimana saya berharap film memberikan waktu sedikit lebih banyak untuk menjelaskan situasinya.

Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?

Setelah selesai menonton Colony, menurut saya film ini adalah salah satu film zombie yang cukup menarik untuk dicoba.

Saya sendiri awalnya menonton karena Ji Chang-wook, tetapi ternyata setelah film berjalan saya justru lebih tertarik dengan konsep zombie dan bagaimana virus tersebut bisa berkembang.

Menurut saya konsep zombie yang memiliki kemampuan berbeda dari biasanya menjadi daya tarik utama film ini.

Mulai dari penciuman, penglihatan sampai kecerdasan yang semakin berkembang membuat saya penasaran sebenarnya akan seperti apa kemampuan mereka selanjutnya.

Dan yang paling penting, film ini tidak hanya mengandalkan zombie untuk membuat penonton takut.

Visual, tone warna, suara dan suasana film benar-benar membantu membuat rasa mencekamnya terasa.

Apalagi saya menontonnya bersama pasangan.

Menurut saya ini justru salah satu film yang cukup cocok untuk ditonton bareng pasangan di rumah. Lampu dimatikan, malam hari, kemudian nonton film zombie seperti ini... suasananya dapat banget.

Beberapa kali saya dan pasangan sama-sama menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Kalau kalian adalah penggemar film zombie, survival atau sci-fi, menurut saya film ini bisa kalian masukkan ke daftar tontonan.

Terutama kalau kalian suka film zombie yang tidak hanya sekedar,

“digigit → jadi zombie → kejar manusia.”

Karena Colony mencoba memberikan sesuatu yang lebih dari itu.

Untuk saya sendiri, Ji Chang-wook masih menjadi salah satu alasan utama kenapa film ini menarik untuk ditonton, tetapi setelah melihat keseluruhan film, saya bisa bilang bahwa film ini memang cukup layak untuk mendapatkan perhatian.

Jadi kalau ditanya apakah saya merekomendasikan Colony?

Iya, saya rekomendasikan.

Apalagi kalau ditonton bareng pasangan, menurut saya malah lebih seru karena suasana mencekam dan menegangkannya bisa dirasakan bareng-bareng.

Buat saya pribadi, ini bukan film zombie yang sempurna, masih ada kekurangan dari karakter pendukung dan beberapa bagian yang terasa terlalu kuat untuk zombienya.

Tapi secara keseluruhan?

Film zombie berteknologi tinggi yang cukup menarik dan berbeda dari ekspektasi saya.

Kalau kalian punya Netflix dan sedang mencari tontonan zombie untuk malam hari...

boleh banget coba Colony.

Walaupun di IMDB ratingnya hanya 6.5/10 tapi rating ini tidak menggambarkan kualitas film ini.

Review Film Mayday: Komedi Action Jadi Satu

Review Film Mayday: Komedi Action Jadi Satu

Review Film Mayday

Hari ini saya ingin mencoba review film bergenre perang yaitu Mayday. Film yang dibintangi oleh Ryan Reynolds ini sebenarnya bukan film yang saya tonton sendirian kali ini, saya menontonnya bersama pasangan saya di NSC Kudus.

Jujur dari awal saya sudah mempunyai ekspetasi sendiri ketika melihat film ini.

Saya mengira film ini akan menjadi film perang yang penuh dengan ketegangan, aksi heroic, suasana mencekam dan mungkin sepanjang film akan lebih banyak adegan serius tanpa terlalu banyak humor atau jokes.

Tapi ternyata saya salah.

Saya dan pasangan saya justru cukup banyak tertawa ketika menonton film ini. Karena dari awal saya mengira akan mendapatkan film perang yang serius, ternyata film ini justru mencampurkan aksi, drama dan komedi dengan cukup seimbang.

Bahkan saya sendiri cukup terkejut karena ternyata saya menikmati film ini jauh lebih banyak dari yang saya bayangkan.

Sinopsis Singkat: Mayday

Mayday bercerita mengenai Letnan Troy Brennan, seorang pilot Angkatan Laut Amerika Serikat yang menjalankan sebuah misi rahasia di wilayah Uni Soviet pada masa Perang Dingin.

Namun misi tersebut mengalami kekacauan dan pesawat yang digunakan Troy akhirnya jatuh di wilayah Rusia.

Dalam kondisi terjebak di belakang garis musuh dan berusaha menghindari penangkapan, Troy kemudian bertemu dengan seorang mantan agen KGB bernama Nikolai Ustinov.

Alih-alih menjadi musuh, keduanya justru terpaksa bekerja sama untuk bisa bertahan hidup.

Dari sinilah kemudian perjalanan mereka dimulai.

Dan menurut saya bagian menariknya bukan hanya bagaimana mereka mencoba bertahan hidup, tetapi juga hubungan antara Troy dan Nikolai yang perlahan berkembang sepanjang film.

POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Ternyata Film Ini Tidak Seserius Yang Saya Bayangkan

Seperti yang saya bilang di awal, saya masuk ke studio dengan ekspetasi bahwa film ini akan penuh dengan ketegangan. Saya membayangkan akan banyak adegan perang, baku tembak, kejar-kejaran dan situasi yang membuat saya tegang. Tapi ternyata tidak sepenuhnya seperti itu.

Film ini justru cukup banyak memberikan komedi. Dan yang menarik menurut saya, komedinya tidak terlalu terasa dipaksakan.

Ada beberapa interaksi antara karakter yang justru membuat saya dan pasangan saya tertawa.

Menurut saya ini salah satu keputusan yang cukup bagus karena kalau film ini hanya berisi adegan serius dari awal sampai akhir mungkin pengalaman menontonnya akan terasa jauh lebih berat.

Campuran antara drama, aksi dan komedi menurut saya berada di porsi yang cukup pas.

Tidak terlalu banyak sampai menghilangkan sisi serius film, tapi juga tidak terlalu sedikit sampai membuat film terasa kaku.

Chemistry Ryan Reynolds dan Kenneth Branagh

Menurut saya salah satu kekuatan terbesar film ini ada di hubungan dua karakter utamanya.

Ryan Reynolds sebagai Troy dan Kenneth Branagh sebagai Nikolai mempunyai chemistry yang menurut saya cukup menarik.

Keduanya mempunyai karakter yang sangat berbeda.

Troy lebih terasa seperti karakter yang penuh dengan gaya dan humor khas Ryan Reynolds.

Sedangkan Nikolai mempunyai pembawaan yang lebih tua, eksentrik dan mempunyai sisi dramatis yang cukup kuat.

Ketika kedua karakter tersebut bertemu, akhirnya muncul banyak interaksi yang menurut saya menjadi sumber komedi sekaligus membuat hubungan mereka berkembang.

Dan semakin lama hubungan keduanya justru menjadi salah satu bagian yang membuat saya tertarik mengikuti ceritanya.

Bukan hanya soal mereka bisa keluar dari masalah atau tidak, tetapi saya juga penasaran bagaimana hubungan mereka akan berkembang sampai akhir film.

Ryan Reynolds Tetap Ryan Reynolds

Kalau membicarakan Ryan Reynolds menurut saya tidak perlu diragukan lagi.

Aktor ini memang sudah sangat terkenal dengan kemampuan komedinya.

Bahkan kalau melihat beberapa filmnya, gaya humor dan cara dia membawakan dialog sudah sangat mudah dikenali.

Dan di film ini gaya tersebut masih terasa.

Saya bahkan sempat berpikir,

“Ini Ryan Reynolds banget.”

Kalau mau bercanda sedikit, Ryan Reynolds memang sukses di banyak film... kecuali Green Lantern. Just jokes.

Tapi menurut saya justru disinilah salah satu kekurangan film ini.

Saya berharap Ryan Reynolds bisa memberikan sesuatu yang sedikit lebih berbeda dari karakter-karakter yang biasanya dia mainkan.

Karena meskipun saya menikmati gaya tersebut, ada beberapa bagian dimana saya merasa karakter Troy terlalu mirip dengan karakter Ryan Reynolds yang sebelumnya.

Saya ingin melihat sisi Ryan Reynolds yang lebih deep dan mungkin lebih serius tanpa terlalu banyak mengandalkan gaya bercandanya.

Kenneth Branagh Justru Menjadi Salah Satu Sorotan

Menurut saya Kenneth Branagh justru cukup mencuri perhatian di film ini.

Dia mampu memberikan sisi dramatis sekaligus komedi dalam satu karakter.

Dan yang menarik, dia juga terlihat cukup meyakinkan ketika berada dalam adegan aksi.

Padahal kalau saya melihat Kenneth Branagh, mungkin hal pertama yang ada di pikiran saya bukan aktor film action.

Tapi di Mayday dia cukup berhasil menunjukkan sisi tersebut.

Interaksinya dengan Ryan Reynolds juga menjadi salah satu alasan kenapa film ini terasa hidup.

Menurut saya kalau hanya mengandalkan Ryan Reynolds saja, mungkin filmnya akan terlalu bergantung kepada komedi.

Tapi dengan adanya karakter Nikolai yang diperankan Kenneth Branagh, film ini mempunyai keseimbangan yang lebih baik antara drama dan humor.

Adegan Aksinya Tidak Terasa Sama Semua

Salah satu kelebihan lain menurut saya adalah setiap set adegan aksinya mempunyai gaya yang cukup berbeda.

Tidak terasa seperti setiap aksi hanya dibuat untuk sekedar memenuhi durasi film.

Salah satu yang paling saya ingat adalah adegan pertarungan di bar.

Gaya pertarungannya menurut saya mempunyai sedikit nuansa prop fu seperti yang sering kita lihat dalam film-film Jackie Chan, dimana benda-benda yang ada di sekitar lokasi bisa ikut digunakan dalam pertarungan.

Kemudian ada juga bagian kejar-kejaran tank yang menurut saya cukup menonjol.

Jadi walaupun film ini mempunyai banyak humor, ketika masuk ke bagian action film tetap bisa memberikan sesuatu yang menarik untuk dilihat.

Drama dan Komedinya Menurut Saya Pas

Ini mungkin bagian yang paling saya suka dari film ini.

Menurut saya campuran drama dan komedinya cukup seimbang.

Tidak terlalu banyak humor sampai membuat saya merasa film ini tidak serius.

Dan tidak terlalu banyak drama sampai membuat film terasa berat.

Saya dan pasangan saya beberapa kali tertawa ketika menonton film ini, tapi ketika film masuk ke bagian yang lebih serius, saya masih bisa mengikuti dan merasakan konfliknya.

Menurut saya keseimbangan seperti ini cukup penting.

Karena kalau sebuah film action comedy terlalu banyak komedi, akhirnya sisi action-nya bisa terasa tidak penting.

Sebaliknya kalau terlalu serius, humor yang diberikan bisa terasa hanya tempelan.

Tapi di Mayday menurut saya keduanya masih cukup menyatu.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Mayday

Kelebihan

1. Campuran drama, action dan komedi cukup pas

Ini menjadi salah satu kelebihan terbesar film menurut saya.

Komedi tidak terlalu berlebihan dan drama juga tidak terlalu berat.

2. Chemistry antar aktor sangat bagus

Ryan Reynolds dan Kenneth Branagh mempunyai interaksi yang menarik dan menjadi salah satu daya tarik utama film.

3. Adegan aksi mempunyai gaya yang berbeda

Pertarungan di bar sampai adegan kejar-kejaran tank memberikan variasi sehingga film tidak terasa hanya mengulang jenis action yang sama.

4. Akting para pemain cukup berkesan

Menurut saya hampir setiap karakter mempunyai sesuatu yang membuat mereka mudah diingat.

Terutama Kenneth Branagh yang menurut saya cukup mencuri perhatian.

5. Filmnya menghibur

Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi menurut saya penting.

Saya datang dengan ekspetasi tertentu dan ternyata sepanjang film saya justru cukup sering tertawa bersama pasangan saya.

Jadi dari sisi hiburan, film ini berhasil memberikan pengalaman yang menyenangkan.

Kekurangan

1. Karakter Ryan Reynolds terasa terlalu familiar

Menurut saya karakter yang dimainkan Ryan Reynolds masih terlalu dekat dengan karakter yang biasa dia mainkan.

Gaya bercandanya masih sangat terasa seperti Ryan Reynolds.

Saya sebenarnya berharap dia bisa memberikan karakter yang lebih deep dan keluar sedikit dari zona nyamannya.

2. Jangan berharap film perang yang terlalu serius

Ini sebenarnya bukan kekurangan mutlak, tapi kalau kalian masuk ke bioskop dengan harapan mendapatkan film perang yang sangat serius dan mencekam dari awal sampai akhir, mungkin kalian akan sedikit terkejut.

Karena film ini memang lebih tepat disebut sebagai campuran action, survival dan comedy dibandingkan film perang yang benar-benar serius.

Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?

Setelah selesai menonton Mayday, jujur saya tidak menyangka akan menikmati film ini sebanyak itu.

Awalnya justru pasangan saya yang memilih film ini dan saya hanya mengikuti saja dengan ekspetasi bahwa saya akan mendapatkan film perang standar.

Ternyata hasilnya berbeda.

Saya dan pasangan saya cukup banyak tertawa selama menonton film ini dan menurut saya itu menjadi salah satu kejutan yang menyenangkan.

Film ini juga mempunyai hubungan antar karakter yang cukup menarik, terutama antara Ryan Reynolds dan Kenneth Branagh.

Chemistry keduanya membuat film terasa lebih hidup dan bukan hanya sekedar film tentang seorang pilot yang berusaha bertahan hidup di belakang garis musuh.

Adegan action-nya juga menurut saya cukup bagus.

Setiap adegan mempunyai gaya tersendiri, mulai dari pertarungan di bar sampai adegan kejar-kejaran tank.

Ditambah lagi campuran drama dan komedinya menurut saya berada di porsi yang cukup pas.

Untuk kekurangannya sendiri, saya masih merasa Ryan Reynolds terlalu bermain di zona nyaman.

Saya berharap suatu saat bisa melihat dia memainkan karakter yang jauh lebih serius dan deep, keluar dari gaya karakter yang selama ini sering dia mainkan.

Tapi balik lagi, itu hanya opini saya.

Secara keseluruhan saya sangat merekomendasikan Mayday untuk kalian yang ingin menonton film action yang ringan, menghibur dan tidak terlalu serius.

Kalau kalian datang dengan pasangan seperti saya, menurut saya film ini juga cukup cocok karena ada action-nya, ada dramanya dan ada komedinya.

Untuk rating IMDb sendiri, saat saya melihatnya Mayday mendapatkan 6,8/10 dari sekitar 32 ribu rating.

Kalau dari saya pribadi?

Saya justru akan memberikan nilai 8/10.

Bukan karena film ini sempurna, tapi karena film ini berhasil melakukan sesuatu yang saya tidak ekspetasikan sejak awal.