Review Colony — Film Zombie Korea Dengan Zombie Yang Berbeda

Review Colony — Film Zombie Korea Dengan Zombie Yang Berbeda

 

Review Colony

Kalau bicara soal film atau series Korea, ada beberapa aktor yang memang menurut saya selalu menarik untuk diikuti. Salah satunya adalah Ji Chang-wook.

Saya sendiri mulai menyukai Ji Chang-wook sejak menonton drama The K2. Dari sana saya mulai mengikuti beberapa film dan drama yang dia mainkan. Menurut saya salah satu hal yang membuat Ji Chang-wook menarik adalah kemampuan aktingnya yang cukup fleksibel, terutama ketika harus memainkan karakter yang berhubungan dengan action.

Nah, kali ini saya kembali menemukan salah satu film yang dibintangi oleh Ji Chang-wook yaitu Colony.

Berbeda dengan beberapa film sebelumnya yang saya tonton di bioskop, kali ini saya menonton Colony langsung dari rumah melalui Netflix bersama pasangan saya.

Dan kesan pertama saya ketika film ini mulai berjalan adalah...

“Wah, ini kok auranya mirip Train to Busan?”

Mulai dari tone warna, suasana tempat, sampai bagaimana kamera mengambil gambar ketika suasana mulai mencekam, saya cukup sering teringat dengan film Train to Busan.

Apalagi film ini memang masih berada di genre zombie dan survival.

Jadi sejak awal saya sudah memiliki ekspektasi yang cukup tinggi.

Bukan hanya karena Ji Chang-wook, tetapi juga karena film ini mencoba memberikan sesuatu yang berbeda dari film zombie pada umumnya.

Pertanyaannya, apakah akhirnya film ini bisa memberikan pengalaman yang menarik?

Sinopsis Singkat: Colony

Cerita bermula dari seorang profesor bernama Se Jeong yang menghadiri sebuah konferensi bioteknologi.

Namun konferensi tersebut berubah menjadi sebuah bencana ketika sebuah virus yang mengalami mutasi dengan sangat cepat dilepaskan.

Dalam waktu singkat wabah mulai menyebar dan orang-orang yang terinfeksi mulai mengalami perubahan.

Situasi menjadi semakin kacau ketika pihak berwenang akhirnya memblokir seluruh fasilitas untuk mencegah penyebaran wabah.

Se Jeong yang terjebak di dalam situasi tersebut kemudian harus berusaha bertahan hidup sekaligus mencari cara untuk menghentikan wabah sebelum semuanya terlambat.

Dan dari sinilah perjuangan untuk bertahan hidup dimulai.

POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Kesan Pertama: Auranya Mengingatkan Saya Dengan Train to Busan

Seperti yang saya bilang sebelumnya, hal pertama yang saya rasakan ketika menonton film ini adalah suasananya.

Tone warna dan pengambilan gambarnya membuat saya beberapa kali teringat dengan Train to Busan.

Bukan berarti film ini sama persis, tetapi ada aura yang menurut saya cukup mirip.

Terutama ketika kamera mulai memperlihatkan suasana tempat yang sudah kacau dan karakter mulai berusaha mencari jalan keluar.

Ada rasa sempit, terjebak dan tidak tahu apa yang akan muncul setelah ini.

Dan menurut saya hal seperti ini cukup penting dalam film zombie.

Karena film zombie tidak hanya membutuhkan zombie yang bagus, tetapi juga membutuhkan suasana yang membuat penonton merasa ikut terjebak bersama karakter di dalam film.

Saya sendiri menonton film ini bersama pasangan, jadi suasana mencekamnya lumayan terasa.

Beberapa kali kami benar-benar menunggu apakah setelah pintu dibuka akan muncul zombie atau tidak.

Zombie Di Film Ini Tidak Seperti Zombie Pada Umumnya

Nah ini justru bagian yang paling saya sukai dari Colony.

Kalau biasanya zombie hanya memiliki satu tujuan yaitu mengejar manusia, menggigit, kemudian membuat orang lain ikut terinfeksi, di film ini konsepnya menurut saya jauh lebih menarik.

Zombie yang ada di Colony seperti terus mengalami perkembangan.

Mereka bukan hanya sekedar manusia yang terinfeksi virus.

Kemampuan mereka bisa berkembang dari waktu ke waktu.

Mulai dari penciuman, penglihatan sampai tingkat kecerdasan.

Dan menurut saya ini memberikan sesuatu yang cukup berbeda.

Awalnya saya berpikir, “oh ini zombie biasa.”

Tapi semakin film berjalan, saya mulai menyadari kalau zombie yang ada di film ini ternyata memiliki kemampuan yang berbeda.

Dan semakin lama justru semakin kuat.

Menurut saya ini salah satu alasan kenapa filmnya cukup menarik untuk diikuti sampai akhir.

Karena kita sebagai penonton tidak pernah benar-benar tahu kemampuan apa lagi yang akan ditunjukkan oleh zombie tersebut.

Saya Suka Ada Penjelasan Tentang Virusnya

Salah satu hal yang sering membuat saya kurang suka dengan film zombie adalah ketika virusnya hanya dijadikan alasan supaya orang-orang berubah menjadi zombie.

Sudah.

Tidak dijelaskan lagi.

Tapi di Colony saya merasa penjelasan mengenai virus dan perubahan yang terjadi masih cukup mendapatkan perhatian.

Ada semacam latar belakang dan eksposisi mengenai bagaimana wabah tersebut bisa berkembang.

Menurut saya ini membuat film terasa lebih seperti film zombie dengan teknologi tinggi daripada sekedar film zombie biasa.

Ada unsur biologi, eksperimen, mutasi dan bagaimana virus tersebut memengaruhi manusia.

Jadi selain mendapatkan adegan action, saya juga mendapatkan sedikit teori mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Ji Chang-wook Menurut Saya Tetap Menjadi Daya Tarik Utama

Tentu saja saya tidak bisa melewatkan bagian ini.

Saya memang menonton film ini salah satu alasan utamanya karena ada Ji Chang-wook.

Sejak The K2, saya memang cukup suka dengan kemampuan aktingnya.

Dan di Colony menurut saya aktingnya tetap bagus.

Walaupun saya tidak akan mengatakan karakter di film ini merupakan karakter terbaik yang pernah dia mainkan, tetapi saya tetap bisa merasakan kemampuan aktingnya ketika situasi mulai berubah menjadi semakin kacau.

Terutama ketika karakter harus menghadapi kondisi yang tidak bisa diprediksi.

Dan menurut saya chemistry antar pemain juga cukup bagus.

Tidak terasa seperti semua karakter hanya dimasukkan untuk menjadi korban zombie.

Karakter Perempuan Utamanya Juga Tidak Lemah

Salah satu hal yang saya cukup suka adalah karakter perempuan utama di film ini tidak dibuat sebagai karakter yang hanya menunggu diselamatkan.

Justru pengetahuan yang dia miliki sebagai seorang profesor biologi manusia dan hewan menjadi salah satu senjata untuk menghadapi zombie.

Jadi dia tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik.

Dia menggunakan pengetahuan yang dia miliki untuk memahami apa yang terjadi.

Menurut saya ini keputusan yang cukup bagus.

Karena ketika melawan zombie yang semakin kuat, akan terasa aneh kalau manusia hanya mengandalkan senjata dan kekuatan fisik.

Di film ini pengetahuan menjadi salah satu bagian penting dalam usaha mereka bertahan hidup.

Zombie-nya Justru Terlalu Kuat

Nah, ini masuk ke bagian yang menurut saya menjadi kekurangan.

Saya suka konsep zombie yang berbeda.

Saya suka mereka berkembang.

Saya suka kemampuan mereka.

Tapi di beberapa bagian menurut saya zombie dan antagonisnya terasa terlalu kuat.

Sampai saya beberapa kali berpikir,

“Ini manusia mau ngelawan pakai apa?”

Karena semakin lama kemampuan zombie semakin berkembang, sementara karakter manusia terasa cukup terbatas.

Menurut saya akan lebih menarik kalau kekuatan antara manusia dan zombie dibuat sedikit lebih seimbang.

Bukan berarti zombienya harus lemah, tetapi harus ada kesempatan bagi karakter manusia untuk melakukan perlawanan dengan cara yang lebih masuk akal.

Kurang Karakter Pendukung Yang Benar-Benar Kuat

Kalau dibandingkan dengan Train to Busan, menurut saya Colony masih kurang dalam masalah karakter pendukung.

Train to Busan menurut saya memiliki beberapa karakter yang benar-benar terasa kuat dan berkesan.

Ada karakter yang ketika zombie datang tidak hanya menjadi korban, tetapi justru ikut menghadapi zombie dengan cara mereka masing-masing.

Di Colony saya merasa bagian ini masih kurang.

Karakter utamanya memang cukup menarik, tapi saya merasa belum mendapatkan karakter pendukung yang benar-benar bisa membuat saya berkata,

“Nah ini karakter keren.”

Dan ketika karakter pendukungnya tidak terlalu kuat, hubungan emosional dengan karakter-karakter tersebut juga menurut saya tidak sekuat film zombie Korea lainnya.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Colony

Kelebihan

1. Zombie memiliki konsep yang berbeda

Menurut saya ini adalah kelebihan terbesar film.

Zombie tidak hanya menjadi manusia yang terinfeksi, tetapi memiliki perkembangan kemampuan dari waktu ke waktu.

2. Cerita tidak terasa seperti film zombie biasa

Walaupun premisnya tetap tentang virus dan wabah, film memberikan tambahan unsur bioteknologi, mutasi dan eksperimen.

3. Visual dan tone warna sangat mendukung suasana

Tone warna yang digunakan membuat film terasa gelap dan mencekam.

Buat saya pribadi bahkan beberapa kali terasa seperti melihat kembali aura Train to Busan.

4. Akting para pemain bagus

Terutama Ji Chang-wook yang menurut saya masih menjadi salah satu daya tarik utama film ini.

5. Action cukup banyak

Film ini tidak hanya berisi dialog dan penjelasan tentang virus.

Ada cukup banyak adegan kejar-kejaran, pertarungan dan survival yang membuat tempo film tetap terasa cepat.

Kekurangan

1. Karakter pendukung kurang kuat

Saya berharap ada beberapa karakter pendukung yang lebih berkesan seperti yang bisa kita temukan di film zombie Korea lainnya.

2. Zombie terlalu kuat

Ini sebenarnya sekaligus menjadi kelebihan dan kekurangan.

Konsep zombie yang kuat memang menarik, tetapi di beberapa bagian terasa terlalu overpower.

3. Beberapa bagian terasa terlalu cepat

Karena film ingin memasukkan unsur teori, action dan perkembangan zombie sekaligus, ada beberapa bagian yang menurut saya terasa cukup cepat.

Saya masih bisa mengikuti ceritanya, tapi ada beberapa momen dimana saya berharap film memberikan waktu sedikit lebih banyak untuk menjelaskan situasinya.

Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?

Setelah selesai menonton Colony, menurut saya film ini adalah salah satu film zombie yang cukup menarik untuk dicoba.

Saya sendiri awalnya menonton karena Ji Chang-wook, tetapi ternyata setelah film berjalan saya justru lebih tertarik dengan konsep zombie dan bagaimana virus tersebut bisa berkembang.

Menurut saya konsep zombie yang memiliki kemampuan berbeda dari biasanya menjadi daya tarik utama film ini.

Mulai dari penciuman, penglihatan sampai kecerdasan yang semakin berkembang membuat saya penasaran sebenarnya akan seperti apa kemampuan mereka selanjutnya.

Dan yang paling penting, film ini tidak hanya mengandalkan zombie untuk membuat penonton takut.

Visual, tone warna, suara dan suasana film benar-benar membantu membuat rasa mencekamnya terasa.

Apalagi saya menontonnya bersama pasangan.

Menurut saya ini justru salah satu film yang cukup cocok untuk ditonton bareng pasangan di rumah. Lampu dimatikan, malam hari, kemudian nonton film zombie seperti ini... suasananya dapat banget.

Beberapa kali saya dan pasangan sama-sama menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Kalau kalian adalah penggemar film zombie, survival atau sci-fi, menurut saya film ini bisa kalian masukkan ke daftar tontonan.

Terutama kalau kalian suka film zombie yang tidak hanya sekedar,

“digigit → jadi zombie → kejar manusia.”

Karena Colony mencoba memberikan sesuatu yang lebih dari itu.

Untuk saya sendiri, Ji Chang-wook masih menjadi salah satu alasan utama kenapa film ini menarik untuk ditonton, tetapi setelah melihat keseluruhan film, saya bisa bilang bahwa film ini memang cukup layak untuk mendapatkan perhatian.

Jadi kalau ditanya apakah saya merekomendasikan Colony?

Iya, saya rekomendasikan.

Apalagi kalau ditonton bareng pasangan, menurut saya malah lebih seru karena suasana mencekam dan menegangkannya bisa dirasakan bareng-bareng.

Buat saya pribadi, ini bukan film zombie yang sempurna, masih ada kekurangan dari karakter pendukung dan beberapa bagian yang terasa terlalu kuat untuk zombienya.

Tapi secara keseluruhan?

Film zombie berteknologi tinggi yang cukup menarik dan berbeda dari ekspektasi saya.

Kalau kalian punya Netflix dan sedang mencari tontonan zombie untuk malam hari...

boleh banget coba Colony.

Walaupun di IMDB ratingnya hanya 6.5/10 tapi rating ini tidak menggambarkan kualitas film ini.

Review Film Mayday: Komedi Action Jadi Satu

Review Film Mayday: Komedi Action Jadi Satu

Review Film Mayday

Hari ini saya ingin mencoba review film bergenre perang yaitu Mayday. Film yang dibintangi oleh Ryan Reynolds ini sebenarnya bukan film yang saya tonton sendirian kali ini, saya menontonnya bersama pasangan saya di NSC Kudus.

Jujur dari awal saya sudah mempunyai ekspetasi sendiri ketika melihat film ini.

Saya mengira film ini akan menjadi film perang yang penuh dengan ketegangan, aksi heroic, suasana mencekam dan mungkin sepanjang film akan lebih banyak adegan serius tanpa terlalu banyak humor atau jokes.

Tapi ternyata saya salah.

Saya dan pasangan saya justru cukup banyak tertawa ketika menonton film ini. Karena dari awal saya mengira akan mendapatkan film perang yang serius, ternyata film ini justru mencampurkan aksi, drama dan komedi dengan cukup seimbang.

Bahkan saya sendiri cukup terkejut karena ternyata saya menikmati film ini jauh lebih banyak dari yang saya bayangkan.

Sinopsis Singkat: Mayday

Mayday bercerita mengenai Letnan Troy Brennan, seorang pilot Angkatan Laut Amerika Serikat yang menjalankan sebuah misi rahasia di wilayah Uni Soviet pada masa Perang Dingin.

Namun misi tersebut mengalami kekacauan dan pesawat yang digunakan Troy akhirnya jatuh di wilayah Rusia.

Dalam kondisi terjebak di belakang garis musuh dan berusaha menghindari penangkapan, Troy kemudian bertemu dengan seorang mantan agen KGB bernama Nikolai Ustinov.

Alih-alih menjadi musuh, keduanya justru terpaksa bekerja sama untuk bisa bertahan hidup.

Dari sinilah kemudian perjalanan mereka dimulai.

Dan menurut saya bagian menariknya bukan hanya bagaimana mereka mencoba bertahan hidup, tetapi juga hubungan antara Troy dan Nikolai yang perlahan berkembang sepanjang film.

POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Ternyata Film Ini Tidak Seserius Yang Saya Bayangkan

Seperti yang saya bilang di awal, saya masuk ke studio dengan ekspetasi bahwa film ini akan penuh dengan ketegangan. Saya membayangkan akan banyak adegan perang, baku tembak, kejar-kejaran dan situasi yang membuat saya tegang. Tapi ternyata tidak sepenuhnya seperti itu.

Film ini justru cukup banyak memberikan komedi. Dan yang menarik menurut saya, komedinya tidak terlalu terasa dipaksakan.

Ada beberapa interaksi antara karakter yang justru membuat saya dan pasangan saya tertawa.

Menurut saya ini salah satu keputusan yang cukup bagus karena kalau film ini hanya berisi adegan serius dari awal sampai akhir mungkin pengalaman menontonnya akan terasa jauh lebih berat.

Campuran antara drama, aksi dan komedi menurut saya berada di porsi yang cukup pas.

Tidak terlalu banyak sampai menghilangkan sisi serius film, tapi juga tidak terlalu sedikit sampai membuat film terasa kaku.

Chemistry Ryan Reynolds dan Kenneth Branagh

Menurut saya salah satu kekuatan terbesar film ini ada di hubungan dua karakter utamanya.

Ryan Reynolds sebagai Troy dan Kenneth Branagh sebagai Nikolai mempunyai chemistry yang menurut saya cukup menarik.

Keduanya mempunyai karakter yang sangat berbeda.

Troy lebih terasa seperti karakter yang penuh dengan gaya dan humor khas Ryan Reynolds.

Sedangkan Nikolai mempunyai pembawaan yang lebih tua, eksentrik dan mempunyai sisi dramatis yang cukup kuat.

Ketika kedua karakter tersebut bertemu, akhirnya muncul banyak interaksi yang menurut saya menjadi sumber komedi sekaligus membuat hubungan mereka berkembang.

Dan semakin lama hubungan keduanya justru menjadi salah satu bagian yang membuat saya tertarik mengikuti ceritanya.

Bukan hanya soal mereka bisa keluar dari masalah atau tidak, tetapi saya juga penasaran bagaimana hubungan mereka akan berkembang sampai akhir film.

Ryan Reynolds Tetap Ryan Reynolds

Kalau membicarakan Ryan Reynolds menurut saya tidak perlu diragukan lagi.

Aktor ini memang sudah sangat terkenal dengan kemampuan komedinya.

Bahkan kalau melihat beberapa filmnya, gaya humor dan cara dia membawakan dialog sudah sangat mudah dikenali.

Dan di film ini gaya tersebut masih terasa.

Saya bahkan sempat berpikir,

“Ini Ryan Reynolds banget.”

Kalau mau bercanda sedikit, Ryan Reynolds memang sukses di banyak film... kecuali Green Lantern. Just jokes.

Tapi menurut saya justru disinilah salah satu kekurangan film ini.

Saya berharap Ryan Reynolds bisa memberikan sesuatu yang sedikit lebih berbeda dari karakter-karakter yang biasanya dia mainkan.

Karena meskipun saya menikmati gaya tersebut, ada beberapa bagian dimana saya merasa karakter Troy terlalu mirip dengan karakter Ryan Reynolds yang sebelumnya.

Saya ingin melihat sisi Ryan Reynolds yang lebih deep dan mungkin lebih serius tanpa terlalu banyak mengandalkan gaya bercandanya.

Kenneth Branagh Justru Menjadi Salah Satu Sorotan

Menurut saya Kenneth Branagh justru cukup mencuri perhatian di film ini.

Dia mampu memberikan sisi dramatis sekaligus komedi dalam satu karakter.

Dan yang menarik, dia juga terlihat cukup meyakinkan ketika berada dalam adegan aksi.

Padahal kalau saya melihat Kenneth Branagh, mungkin hal pertama yang ada di pikiran saya bukan aktor film action.

Tapi di Mayday dia cukup berhasil menunjukkan sisi tersebut.

Interaksinya dengan Ryan Reynolds juga menjadi salah satu alasan kenapa film ini terasa hidup.

Menurut saya kalau hanya mengandalkan Ryan Reynolds saja, mungkin filmnya akan terlalu bergantung kepada komedi.

Tapi dengan adanya karakter Nikolai yang diperankan Kenneth Branagh, film ini mempunyai keseimbangan yang lebih baik antara drama dan humor.

Adegan Aksinya Tidak Terasa Sama Semua

Salah satu kelebihan lain menurut saya adalah setiap set adegan aksinya mempunyai gaya yang cukup berbeda.

Tidak terasa seperti setiap aksi hanya dibuat untuk sekedar memenuhi durasi film.

Salah satu yang paling saya ingat adalah adegan pertarungan di bar.

Gaya pertarungannya menurut saya mempunyai sedikit nuansa prop fu seperti yang sering kita lihat dalam film-film Jackie Chan, dimana benda-benda yang ada di sekitar lokasi bisa ikut digunakan dalam pertarungan.

Kemudian ada juga bagian kejar-kejaran tank yang menurut saya cukup menonjol.

Jadi walaupun film ini mempunyai banyak humor, ketika masuk ke bagian action film tetap bisa memberikan sesuatu yang menarik untuk dilihat.

Drama dan Komedinya Menurut Saya Pas

Ini mungkin bagian yang paling saya suka dari film ini.

Menurut saya campuran drama dan komedinya cukup seimbang.

Tidak terlalu banyak humor sampai membuat saya merasa film ini tidak serius.

Dan tidak terlalu banyak drama sampai membuat film terasa berat.

Saya dan pasangan saya beberapa kali tertawa ketika menonton film ini, tapi ketika film masuk ke bagian yang lebih serius, saya masih bisa mengikuti dan merasakan konfliknya.

Menurut saya keseimbangan seperti ini cukup penting.

Karena kalau sebuah film action comedy terlalu banyak komedi, akhirnya sisi action-nya bisa terasa tidak penting.

Sebaliknya kalau terlalu serius, humor yang diberikan bisa terasa hanya tempelan.

Tapi di Mayday menurut saya keduanya masih cukup menyatu.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Mayday

Kelebihan

1. Campuran drama, action dan komedi cukup pas

Ini menjadi salah satu kelebihan terbesar film menurut saya.

Komedi tidak terlalu berlebihan dan drama juga tidak terlalu berat.

2. Chemistry antar aktor sangat bagus

Ryan Reynolds dan Kenneth Branagh mempunyai interaksi yang menarik dan menjadi salah satu daya tarik utama film.

3. Adegan aksi mempunyai gaya yang berbeda

Pertarungan di bar sampai adegan kejar-kejaran tank memberikan variasi sehingga film tidak terasa hanya mengulang jenis action yang sama.

4. Akting para pemain cukup berkesan

Menurut saya hampir setiap karakter mempunyai sesuatu yang membuat mereka mudah diingat.

Terutama Kenneth Branagh yang menurut saya cukup mencuri perhatian.

5. Filmnya menghibur

Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi menurut saya penting.

Saya datang dengan ekspetasi tertentu dan ternyata sepanjang film saya justru cukup sering tertawa bersama pasangan saya.

Jadi dari sisi hiburan, film ini berhasil memberikan pengalaman yang menyenangkan.

Kekurangan

1. Karakter Ryan Reynolds terasa terlalu familiar

Menurut saya karakter yang dimainkan Ryan Reynolds masih terlalu dekat dengan karakter yang biasa dia mainkan.

Gaya bercandanya masih sangat terasa seperti Ryan Reynolds.

Saya sebenarnya berharap dia bisa memberikan karakter yang lebih deep dan keluar sedikit dari zona nyamannya.

2. Jangan berharap film perang yang terlalu serius

Ini sebenarnya bukan kekurangan mutlak, tapi kalau kalian masuk ke bioskop dengan harapan mendapatkan film perang yang sangat serius dan mencekam dari awal sampai akhir, mungkin kalian akan sedikit terkejut.

Karena film ini memang lebih tepat disebut sebagai campuran action, survival dan comedy dibandingkan film perang yang benar-benar serius.

Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?

Setelah selesai menonton Mayday, jujur saya tidak menyangka akan menikmati film ini sebanyak itu.

Awalnya justru pasangan saya yang memilih film ini dan saya hanya mengikuti saja dengan ekspetasi bahwa saya akan mendapatkan film perang standar.

Ternyata hasilnya berbeda.

Saya dan pasangan saya cukup banyak tertawa selama menonton film ini dan menurut saya itu menjadi salah satu kejutan yang menyenangkan.

Film ini juga mempunyai hubungan antar karakter yang cukup menarik, terutama antara Ryan Reynolds dan Kenneth Branagh.

Chemistry keduanya membuat film terasa lebih hidup dan bukan hanya sekedar film tentang seorang pilot yang berusaha bertahan hidup di belakang garis musuh.

Adegan action-nya juga menurut saya cukup bagus.

Setiap adegan mempunyai gaya tersendiri, mulai dari pertarungan di bar sampai adegan kejar-kejaran tank.

Ditambah lagi campuran drama dan komedinya menurut saya berada di porsi yang cukup pas.

Untuk kekurangannya sendiri, saya masih merasa Ryan Reynolds terlalu bermain di zona nyaman.

Saya berharap suatu saat bisa melihat dia memainkan karakter yang jauh lebih serius dan deep, keluar dari gaya karakter yang selama ini sering dia mainkan.

Tapi balik lagi, itu hanya opini saya.

Secara keseluruhan saya sangat merekomendasikan Mayday untuk kalian yang ingin menonton film action yang ringan, menghibur dan tidak terlalu serius.

Kalau kalian datang dengan pasangan seperti saya, menurut saya film ini juga cukup cocok karena ada action-nya, ada dramanya dan ada komedinya.

Untuk rating IMDb sendiri, saat saya melihatnya Mayday mendapatkan 6,8/10 dari sekitar 32 ribu rating.

Kalau dari saya pribadi?

Saya justru akan memberikan nilai 8/10.

Bukan karena film ini sempurna, tapi karena film ini berhasil melakukan sesuatu yang saya tidak ekspetasikan sejak awal.

Review Film Toy Story 5: Nostalgia Masa Kecil yang Beradu dengan Era Digital

Review Film Toy Story 5: Nostalgia Masa Kecil yang Beradu dengan Era Digital

 

Review Film Toy Story 5: Nostalgia Masa Kecil yang Beradu dengan Era Digital

Hari ini saya akan mencoba untuk review film Toy Story 5 setelah saya menonton filmnya di NSC Kudus. Jujur cukup banyak yang menonton film ini bersama keluarga, bahkan beberapa kursi bisa dibilang penuh karena banyak yang mengambil paket untuk keluarga.

Dan sebenarnya ada satu hal yang membuat saya cukup tertarik untuk menonton film ini.

Saya merupakan salah satu orang yang sangat menyukai serial Toy Story. Dari Toy Story pertama sampai Toy Story 4 semuanya pernah saya tonton. Bahkan saking sukanya dengan serial ini, dulu saya juga sempat memainkan game Toy Story di PS 2.

Dari semua karakter yang ada di Toy Story, karakter yang paling saya suka tentu saja Woody.

Jadi ketika Toy Story 5 diumumkan, jujur saya punya perasaan yang agak campur aduk.

Di satu sisi saya senang karena bisa kembali melihat karakter-karakter Toy Story di layar lebar. Tapi di sisi lain saya merasa sebenarnya ending dari Toy Story 4 sudah cukup untuk menjadi akhir dari perjalanan cerita Toy Story.

Dan yang paling saya kuatirkan adalah Disney terlalu melakukan milking terhadap franchise Toy Story ini.

Karena menurut saya tidak semua film harus dibuat menjadi panjang hanya karena sebuah franchise masih mempunyai nama yang besar.

Sinopsis Singkat: Toy Story 5

Cerita Toy Story 5 kembali mempertemukan Woody, Buzz, Jessie dan teman-teman mereka dengan sebuah masalah baru.

Kali ini dunia mainan harus menghadapi ancaman yang berbeda dari film-film sebelumnya, yaitu kehadiran perangkat elektronik yang mulai mengambil perhatian anak-anak.

Mainan yang selama ini menjadi bagian dari masa bermain anak-anak mulai menghadapi kenyataan bahwa anak-anak sekarang lebih tertarik dengan perangkat elektronik dibandingkan bermain menggunakan mainan mereka.

Dari sinilah konflik utama film ini dimulai.

Kalau melihat sinopsis sederhananya, sebenarnya konsepnya cukup relevan dengan kehidupan anak-anak sekarang. Apalagi hampir semua anak saat ini sudah sangat dekat dengan gadget dan berbagai macam konten digital.

Jadi menurut saya konsep dasarnya cukup menarik.

POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Toy Story 5 Lebih Banyak Memberikan Spotlight Kepada Jessie

Menurut saya hal yang paling terasa berbeda dari film ini adalah posisi Woody.

Kalau kita melihat film-film Toy Story sebelumnya, Woody selalu menjadi salah satu karakter yang sangat penting dalam cerita.

Bahkan kalau kita bicara mengenai Toy Story, nama Woody rasanya sudah tidak bisa dipisahkan dari franchise ini.

Tapi di Toy Story 5, Woody lebih banyak menjadi karakter pendukung.

Justru kali ini film lebih memberikan spotlight kepada Jessie dan beberapa karakter mainan lainnya.

Menurut saya sebenarnya ini cukup menarik.

Karena setelah empat film, memang mungkin sudah saatnya karakter lain mendapatkan kesempatan untuk menjadi pusat cerita.

Dan saya juga bisa memahami kenapa Pixar ingin mencoba sesuatu yang berbeda.

Tapi sebagai penggemar Woody, jujur saya sedikit kecewa.

Saya datang ke bioskop dengan harapan bisa kembali melihat Woody menjadi pusat dari sebuah petualangan besar Toy Story.

Ternyata kali ini Woody justru lebih banyak berada di belakang cerita.

Jadi di satu sisi saya menghargai keputusan tersebut, tapi di sisi lain saya tetap merasa kehilangan sesuatu yang menjadi ciri khas Toy Story sebelumnya.

Cerita Tentang Anak-Anak dan Gadget

Menurut saya kalau kita sederhanakan, Toy Story 5 sebenarnya adalah cerita tentang Jessie dan bagaimana perangkat elektronik mulai mengambil alih waktu bermain anak-anak.

Film ini mencoba menunjukkan kenapa anak-anak seharusnya tetap bermain secara aktif dan tidak terus menerus bergantung kepada perangkat elektronik.

Dan menurut saya pesan tersebut memang cukup relevan dengan kondisi sekarang.

Anak-anak memang semakin dekat dengan smartphone, tablet dan berbagai macam konten digital.

Jadi saya sebenarnya tidak mempermasalahkan pesan yang ingin disampaikan.

Yang menjadi sedikit lucu buat saya adalah Disney sendiri merupakan salah satu perusahaan yang menghasilkan sangat banyak konten yang ditonton anak-anak melalui perangkat elektronik.

Jadi ketika film ini seolah mengatakan bahwa anak-anak jangan terlalu bergantung kepada perangkat elektronik, saya pribadi sempat berpikir,

“Disney sendiri kan salah satu penyumbang konten digital yang bikin anak anak nontonin hp mulu”

Tapi ya balik lagi, menurut saya pesan mengenai pentingnya bermain secara langsung tetap merupakan pesan yang cukup bagus untuk anak-anak.

Menurut Saya Ceritanya Cukup Membosankan

Nah ini bagian yang cukup jujur dari saya.

Saya dan istri saya sama-sama merasa cerita Toy Story 5 cukup membosankan.

Bukan berarti sepanjang film tidak ada bagian yang menarik, tetapi secara keseluruhan saya merasa tempo film ini sedikit lebih lambat dibandingkan film-film sebelumnya.

Kalau kita melihat Toy Story 1 sampai 4, selalu ada semacam petualangan yang membuat saya penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Toy Story 2 punya cerita Woody yang diculik.

Toy Story 3 membawa kita ke Sunnyside dan kemudian menghadirkan perjalanan yang cukup emosional.

Toy Story 4 juga mempunyai perjalanan Woody yang menurut saya terasa seperti penutup dari cerita karakternya.

Sedangkan di film kelima ini saya tidak mendapatkan perasaan yang sama.

Ceritanya tetap berjalan dan masih bisa diikuti, tapi rasa petualangannya menurut saya tidak sekuat film-film sebelumnya.

Apakah Toy Story 5 Buruk?

Menurut saya tidak.

Ini penting untuk saya jelaskan karena setelah membaca atau mendengar beberapa pendapat mengenai film ini, mungkin ada yang menganggap kalau saya tidak suka berarti filmnya buruk.

Menurut saya bukan seperti itu.

Toy Story 5 tetap merupakan film yang bagus.

Tidak banyak franchise yang mampu menghasilkan beberapa sekuel berkualitas secara berturut-turut seperti Toy Story.

Toy Story sendiri sudah mempunyai empat film sebelumnya yang menurut saya semuanya mempunyai identitas masing-masing.

Jadi ketika film kelima dibuat, ekspektasi saya memang sudah cukup tinggi.

Mungkin justru masalahnya ada disitu.

Karena saya sudah terlalu menyukai Toy Story 1 sampai 4, akhirnya film kelima ini terasa lebih sulit untuk memenuhi ekspektasi saya.

Jadi kalau kalian baru pertama kali menonton atau tidak mempunyai keterikatan emosional yang terlalu kuat dengan film-film sebelumnya, mungkin pengalaman kalian bisa berbeda dengan saya.

Sebagai Penggemar Woody, Saya Sedikit Kecewa

Ini mungkin bagian yang paling personal dari review saya.

Saya memang datang ke bioskop sebagai penggemar Toy Story, bukan hanya sebagai orang yang ingin melihat film animasi baru.

Saya tumbuh dengan karakter Woody.

Dari Toy Story pertama sampai Toy Story 4, Woody selalu menjadi salah satu karakter yang paling saya ingat.

Bahkan sampai saya memainkan game Toy Story di PS 2.

Jadi ketika saya melihat Woody hanya menjadi karakter support di film ini, rasanya sedikit aneh.

Tapi saya juga bisa melihat sisi positifnya.

Pixar akhirnya mencoba memberikan kesempatan kepada karakter seperti Jessie dan Buzz untuk lebih mendapatkan spotlight.

Dan menurut saya ini sebenarnya keputusan yang cukup menarik untuk franchise yang sudah berjalan selama ini.

Hanya saja mungkin saya membutuhkan waktu untuk menerima bahwa Toy Story sekarang tidak selalu harus berpusat kepada Woody.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Toy Story 5

Kelebihan

1. Memberikan spotlight kepada karakter lain

Menurut saya ini merupakan salah satu hal menarik dari Toy Story 5.

Jessie dan beberapa karakter lain akhirnya mendapatkan perhatian yang lebih besar, sementara Woody menjadi karakter pendukung.

2. Tema ceritanya relevan dengan kehidupan sekarang

Masalah anak-anak yang terlalu dekat dengan gadget dan kurang bermain secara aktif merupakan sesuatu yang memang sangat relevan dengan kehidupan sekarang.

3. Masih mempunyai daya tarik Toy Story

Walaupun menurut saya tidak sekuat film-film sebelumnya, tetap ada rasa nostalgia ketika melihat Woody, Buzz, Jessie dan karakter-karakter lama kembali.

Apalagi untuk orang yang memang sudah mengikuti Toy Story sejak film pertama.

4. Cocok ditonton bersama keluarga

Saya melihat sendiri cukup banyak keluarga yang menonton film ini di NSC Kudus.

Menurut saya memang target film ini sangat cocok untuk tontonan keluarga karena ceritanya masih mudah diikuti dan mempunyai pesan yang bisa dibicarakan bersama anak-anak.

Kekurangan

1. Woody terlalu sedikit mendapatkan peran

Ini tentu menjadi kekurangan terbesar bagi saya secara pribadi.

Sebagai penggemar Woody, saya merasa karakter ini terlalu sedikit mendapatkan porsi dibandingkan film-film sebelumnya.

2. Tempo cerita terasa lebih lambat

Menurut saya beberapa bagian terasa cukup lambat sehingga membuat saya dan istri saya merasa sedikit bosan ketika menontonnya.

3. Petualangannya tidak sekuat film sebelumnya

Toy Story sebelumnya selalu mempunyai rasa petualangan yang membuat saya penasaran.

Di film ini saya merasa sensasi tersebut tidak terlalu kuat.

4. Terasa seperti cerita yang dibuat untuk melanjutkan franchise

Ini mungkin lebih kepada perasaan saya sebagai penggemar.

Setelah Toy Story 4, saya sebenarnya merasa perjalanan Toy Story sudah cukup.

Jadi ketika film kelima dibuat, ada rasa seperti,

“Apakah cerita ini memang masih perlu dilanjutkan?”

Dan setelah menonton filmnya, jawaban saya pribadi masih belum benar-benar yakin.

Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?

Jadi setelah menonton Toy Story 5, menurut saya film ini masih layak untuk ditonton.

Apalagi kalau kalian memang penggemar Toy Story atau ingin mengajak anak dan keluarga menonton film di bioskop, menurut saya masih cukup menyenangkan.

Tapi kalau kalian bertanya kepada saya apakah film ini bisa memberikan kesan yang sama seperti Toy Story 1, 2 dan 3?

Untuk saya pribadi jawabannya tidak.

Bahkan saya merasa Toy Story 4 yang awalnya saya pikir sudah menjadi ending yang cukup untuk franchise ini justru terasa lebih pas sebagai penutup perjalanan Woody.

Toy Story 5 bukan film yang buruk, hanya saja menurut saya ini adalah film yang paling lemah dibandingkan lima film Toy Story yang sudah ada.

Saya masih menikmati beberapa bagian dari filmnya, terutama ketika melihat karakter-karakter lama kembali.

Tapi setelah selesai menonton, saya tidak mendapatkan perasaan yang sama seperti ketika selesai menonton film-film Toy Story sebelumnya.

Mungkin untuk saya pribadi film ini cukup ditonton satu kali saja.

Bukan berarti saya menyesal sudah menontonnya, karena tetap ada rasa nostalgia dan pengalaman tersendiri ketika melihat karakter yang sudah saya sukai sejak kecil kembali ke layar lebar.

Tetapi kalau suatu saat nanti saya ingin kembali menonton Toy Story, kemungkinan besar saya akan lebih memilih Toy Story 1 sampai 4 dibandingkan film yang kelima ini.

Untuk rating IMDb sendiri, saat saya melihatnya Toy Story 5 mendapatkan 7,4/10 dari sekitar 82 ribu rating, jadi angka tersebut masih cukup sejalan dengan penilaian penonton secara umum.

 Review Film Resident Evil 2026: Tegang Banget dan Berasa Main Game, Tapi Ada Beberapa Hal yang Bikin Aneh

Review Film Resident Evil 2026: Tegang Banget dan Berasa Main Game, Tapi Ada Beberapa Hal yang Bikin Aneh


Belakangan ini film yang mengangkat cerita tentang zombie dan wabah memang sudah begitu banyak muncul di layar lebar, mulai dari film yang memang membuat cerita original sampai film yang di adaptasi dari game yang sudah terkenal sebelumnya. Salah satu film yang cukup saya nantikan kali ini adalah Resident Evil 2026, sebagai salah satu orang yang memang cukup menyukai game Resident Evil tentu saja saya tidak ingin melewatkan film terbaru yang membawa nama Resident Evil ini, apalagi dari beberapa informasi yang saya lihat film ini tidak menggunakan karakter utama seperti Leon atau Jill sebagai tokoh utamanya melainkan menggunakan karakter baru bernama Bryan yang di perankan oleh Austin Abrams.


Saya sendiri mencoba datang ke bioskop NSC Kudus untuk menonton film ini dan dari awal film di putar jujur saya langsung merasakan suasana yang cukup berbeda, mulai dari color grading, musik dan pengambilan angle kamera menurut saya cukup berhasil membuat suasana di dalam film terasa mencekam dan sangat tegang, bahkan ada beberapa bagian dimana saya merasa seperti sedang memainkan game Resident Evil secara langsung. Kalau dari pengalaman pribadi saya ketika menonton film ini rasanya sedikit mirip dengan ketika saya menonton film The Long Walk, cuma bedanya kalau The Long Walk lebih ke arah perjalanan dan tekanan yang dialami oleh karakter sedangkan Resident Evil ini seperti versi zombie dan tentunya berada di universe Resident Evil.


Sekarang pertanyaannya adalah apakah film Resident Evil terbaru ini benar benar sebagus dan setegang itu atau hanya mengandalkan nama Resident Evil saja ? berikut adalah review pribadi dari diri saya sendiri dan menurut keyakinan saya.


Sinopsis Singkat: Resident Evil 2026

Film ini mengikuti karakter bernama Bryan yang di perankan oleh Austin Abrams, Bryan sendiri merupakan seorang kurir medis biasa yang tidak memiliki latar belakang militer atau kemampuan khusus untuk bertahan hidup, pada suatu hari Bryan mendapatkan tugas untuk mengantarkan sebuah paket medis menuju rumah sakit yang berada di Raccoon City, tetapi masalahnya perjalanan yang awalnya terlihat seperti pekerjaan biasa berubah menjadi sesuatu yang sangat mengerikan ketika wabah zombie mulai menyebar dan Bryan harus melewati berbagai rintangan untuk bisa sampai ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Bryan mulai bertemu dengan berbagai macam kejadian aneh dan juga harus menghadapi zombie serta berbagai ancaman lainnya yang ada di Raccoon City, jadi kalau dari inti ceritanya film ini sebenarnya cukup sederhana dimana ada seorang kurir yang hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya tetapi malah terjebak di tengah wabah zombie dan harus berusaha bertahan hidup.


Disini yang menurut saya cukup menarik adalah karakter utama Bryan bukanlah seorang tentara atau seseorang yang dari awal sudah mempunyai kemampuan untuk membunuh zombie, dia hanyalah orang biasa yang secara tidak sengaja harus menghadapi situasi yang sangat berbahaya.


POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

  • Atmosfer di bioskop : aku mulai dari suasana ketika menonton film ini, jujur dari awal film di putar saya sudah cukup merasakan suasana horror yang berbeda, color grading dan musik yang digunakan menurut saya cukup berhasil membuat suasana menjadi mencekam dan tegang, apalagi ketika ada beberapa scene dimana karakter utama harus masuk atau melewati tempat yang gelap dan kita sebagai penonton tidak mengetahui apa yang akan muncul setelahnya.

Kalau menurut saya horror itu sebenarnya bisa di bagi menjadi dua yaitu horror monster dan horror hantu, nah Resident Evil ini sebenarnya jelas masuk ke dalam horror monster karena kita berhadapan dengan zombie dan makhluk makhluk yang menyeramkan, tetapi anehnya ketika saya menonton film ini saya justru mendapatkan rasa horror yang hampir seperti menonton film hantu.


Mungkin karena dari cara film ini menampilkan zombienya tidak selalu langsung diperlihatkan dan lebih banyak menggunakan suara, suasana gelap dan pengambilan kamera untuk membuat penonton merasa was was, jadi sebelum sesuatu muncul kita sudah merasa kalau sebentar lagi bakal ada sesuatu yang terjadi.


Hal seperti ini menurut saya sangat mirip dengan ketika kita bermain game Resident Evil, dimana terkadang bukan zombienya yang membuat takut tetapi suasana ketika kita berjalan di sebuah tempat yang sepi dan kita tidak tahu apa yang akan muncul di depan.


  • Teknik pengambilan gambar : dari dariku ada beberapa hal yang benar benar bikin saya puas banget dengan film ini salah satunya adalah teknik pengambilan gambarnya, saya benar benar merasa seperti sedang berada di dalam game Resident Evil, ada beberapa pengambilan angle kamera yang menurut saya sangat cocok dengan nuansa survival horror dan membuat saya merasa bukan hanya sedang menonton film tetapi seperti sedang melihat sebuah gameplay dari Resident Evil.

Sebagai orang yang memang menyukai game Resident Evil hal seperti ini tentunya menjadi sesuatu yang sangat memuaskan bagi saya, karena salah satu hal yang saya harapkan dari film Resident Evil adalah bagaimana film tersebut bisa membawa suasana yang biasanya kita rasakan ketika bermain game ke layar lebar.


Dan menurut saya film ini cukup berhasil melakukan hal tersebut.


Bukan hanya dari zombienya saja tetapi dari bagaimana karakter Bryan bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya, bagaimana kamera mengambil gambar sebuah ruangan yang gelap dan bagaimana musik mulai muncul ketika suasana mulai terasa tidak aman.

  • Ketegangan dan suasana horror : kalau dari segi cerita menurut saya film ini memang bukan film yang memiliki cerita yang sangat rumit, tetapi yang membuat saya cukup menikmati film ini adalah ketegangannya, dari awal sampai akhir saya merasa cukup sulit untuk berhenti melihat layar karena selalu ada saja sesuatu yang membuat penasaran.

Menurut saya ini merupakan salah satu kelebihan yang cukup besar dari film ini karena film horror terkadang memiliki masalah dimana pada bagian tengah cerita terasa lambat dan membuat penonton bosan, tetapi saat saya menonton Resident Evil ini saya tidak terlalu merasakan hal tersebut.


Bahkan beberapa kali saya merasa tegang hanya karena karakter utama sedang berjalan dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya.


Poin Plus dan Minus Dari Resident Evil Setelah Aku Menontonnya

  • Kelebihan:

- Atmosfer horror yang sangat kuat dari film ini menurut saya merupakan salah satu hal yang paling saya sukai, mulai dari color grading, musik dan pengambilan gambar semuanya terasa cocok untuk membangunsuasanayang mencekam.


- Teknik pengambilan gambar yang sangat bagus menurut saya berhasil membuat film ini terasa seperti game Resident Evil, terutama dari cara kamera mengikuti karakter dan bagaimana beberapa lokasi dibuat terasa seperti sebuah level dalam game.


- Ketegangannya dari awal sampai akhir menurut saya cukup berhasil, bahkan saya tidak bisa berhenti menatap layar karena penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, film ini menurut saya benar benar tidak terlalu membosankan.


- Berhasil membawa nuansa game Resident Evil ke layar lebar ini mungkin menjadi kelebihan yang paling saya rasakan sebagai penggemar game Resident Evil, karena ketika menonton film ini saya beberapa kali mendapatkan perasaan seperti ketika sedang memainkan gamenya.

  • Kekurangan:

- Karakter Bryan yang kurang konsisten menurut saya ini menjadi salah satu kekurangan yang cukup terasa, di awal Bryan digambarkan sebagai orang biasa yang polos dan tidak memiliki kemampuan bertahan hidup, tetapi di pertengahan film tiba tiba bisa melakukan beberapa hal teknis yang cukup rumit, menurut saya hal tersebut agak aneh karena tidak terlalu dijelaskan sebelumnya.


- Minimnya referensi karakter ikonik dari game untuk saya yang memang menyukai game Resident Evil sebenarnya berharap akan ada lebih banyak referensi dari karakter game seperti Leon atau setidaknya ada elemen yang lebih banyak berhubungan dengan Umbrella Corporation.


Tetapi di film ini menurut saya referensi tersebut cukup sedikit dan hampir jarang ditemukan, walaupun memang masih ada beberapa easter egg yang cukup membuat saya kaget ketika melihatnya.


Saya tidak mengatakan kalau film ini harus memasukkan Leon atau karakter lain sebagai pemeran utama, tetapi setidaknya kalau ada beberapa referensi atau elemen dari game yang lebih banyak menurut saya akan membuat pengalaman menonton menjadi lebih memuaskan bagi para fans game Resident Evil.


- Cerita yang cukup sederhana menurut saya sebenarnya bukan sesuatu yang buruk tetapi kalau dibandingkan dengan atmosfer horrornya yang sangat kuat, cerita dari film ini terasa lebih sederhana, dimana seorang kurir harus mengantarkan paket dan kemudian terjebak di tengah wabah zombie.


Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja

Secara keseluruhan film Resident Evil 2026 ini menurut saya sangat sangat layak untuk di tonton, baik bagi kalian yang memang bermain game Resident Evil maupun kalian yang belum pernah memainkan gamenya.


Bagi kalian yang bermain game Resident Evil mungkin film ini akan terasa lebih memuaskan karena ada beberapa bagian yang membuat saya merasa seperti sedang berada di dalam game tersebut, terutama dari teknik pengambilan gambar, musik, color grading dan suasana horror yang dibangun dari awal sampai akhir.


Sedangkan untuk kalian yang tidak pernah memainkan game Resident Evil menurut saya film ini masih bisa untuk dinikmati karena ceritanya cukup mudah untuk diikuti dan tidak mengharuskan kalian mengetahui semua cerita yang ada di game sebelumnya.


Kekurangannya memang ada seperti karakter Bryan yang menurut saya agak tidak konsisten dan minimnya referensi karakter ikonik seperti Leon atau elemen Umbrella Corporation, tetapi bagi saya pribadi kekurangan tersebut tidak terlalu menghilangkan rasa puas ketika menonton film ini.


Justru yang paling saya suka adalah bagaimana film ini bisa membuat saya merasa seperti sedang memainkan game Resident Evil, bukan hanya sekedar menonton film zombie biasa.


Untuk ratingnya sendiri di IMDb film ini mendapatkan rating sekitar 7.8/10.

Review Film Resident Evil 2026

Review Anime Movie Doraemon: Nobita and the New Castle of the Undersea Devil: Visual Memukau yang Bikin Emosi Campur Aduk

Review Anime Movie Doraemon: Nobita and the New Castle of the Undersea Devil: Visual Memukau yang Bikin Emosi Campur Aduk

Review Anime Movie Doraemon: Nobita and the New Castle of the Undersea Devil

 
Belakangan ini film anime terutama film movie Doraemon masih menjadi salah satu tontonan yang selalu saya tunggu setiap tahunnya, bukan hanya karena karakter Doraemon dan Nobita yang sudah begitu melekat sejak saya kecil, tetapi karena setiap film Doraemon yang keluar hampir selalu memberikan sesuatu yang berbeda dari segi petualangan dan visualnya. Walaupun karakter dan konsep dasarnya masih sama, ada saja hal baru yang membuat saya penasaran untuk melihat seperti apa petualangan Nobita dan teman-temannya di movie terbaru.

Salah satu yang baru saja saya tonton adalah Doraemon: Nobita and the New Castle of the Undersea Devil. Dari judulnya saja kita sudah bisa mengetahui kalau kali ini Doraemon dan teman-temannya akan membawa kita untuk menjelajahi dunia bawah laut yang penuh dengan misteri. Sebagai orang yang cukup menyukai film anime dengan konsep petualangan, saya tentu saja cukup penasaran dengan movie Doraemon yang satu ini.


Saya sendiri menonton film ini di CGV Jogja dengan format 4DX, dan jujur pengalaman menonton dengan format seperti ini membuat saya semakin menikmati visual dan perjalanan petualangan yang ditampilkan dalam film. Tetapi pertanyaannya adalah apakah film ini hanya mengandalkan visual yang bagus saja atau ceritanya juga mampu memberikan pengalaman yang menarik? Berikut adalah review pribadi saya setelah menonton Doraemon: Nobita and the New Castle of the Undersea Devil.


Sinopsis Singkat: Doraemon Nobita and the New Castle of the Undersea Devil

Dalam film ini Nobita dan teman-temannya kembali mendapatkan sebuah petualangan baru yang kali ini membawa mereka menuju dunia bawah laut. Mereka menemukan sebuah kastil rahasia yang berada di bawah laut dan tentunya tempat tersebut menyimpan berbagai misteri serta kekayaan yang tersembunyi.


Dengan bantuan berbagai peralatan canggih milik Doraemon, Nobita, Doraemon, Shizuka, Giant dan Suneo mulai melakukan perjalanan untuk menjelajahi dunia bawah laut tersebut. Dari sinilah petualangan mereka dimulai.


Seperti film Doraemon pada umumnya, awalnya masalah yang muncul terlihat seperti sesuatu yang sederhana, tetapi kemudian berkembang menjadi sebuah petualangan yang jauh lebih besar. Nobita yang menemukan adanya masalah dari pihak luar kemudian tidak bisa begitu saja tinggal diam dan akhirnya mengajak Doraemon serta teman-temannya untuk ikut membantu.


Petualangan tersebut kemudian membawa mereka ke sebuah dunia bawah laut yang penuh dengan misteri, berbagai kejadian tidak terduga dan tentunya tingkah konyol dari Nobita dan teman-temannya.


POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Visual yang semakin memukau :

  • Hal pertama yang langsung menarik perhatian saya ketika menonton film ini adalah visualnya. Jujur saya cukup kagum melihat bagaimana kualitas visual dari film Doraemon terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
  • Setiap movie Doraemon yang keluar sepertinya selalu memiliki peningkatan dari sisi visual. Entah itu desain dunia yang ditampilkan, efek cahaya, animasi karakter sampai dengan bagaimana dunia bawah laut dibuat terlihat begitu luas dan indah.
  • Menurut saya dunia bawah laut yang menjadi tempat utama dalam film ini benar-benar menjadi salah satu daya tarik terbesar. Banyak sekali pemandangan yang terlihat nyaman di mata dan membuat saya cukup betah melihat perjalanan Nobita dan teman-temannya.

Apalagi saya menonton film ini menggunakan format 4DX di CGV Jogja. Efek dari 4DX menurut saya cukup membantu memberikan pengalaman yang lebih terasa ketika melihat adegan perjalanan dan petualangan di bawah laut. Jadi bukan hanya melihat visualnya saja tetapi terasa seperti ikut dibawa masuk ke dalam perjalanan mereka.


Kalau ada satu hal yang menurut saya benar-benar menonjol dari film ini, mungkin visual adalah jawabannya.


kekurangan Dari Pendapat Saya Pribadi Setelah Menonton Film Doraemon:

Untuk bagian cerita menurut saya film ini tergolong biasa saja. Bukan berarti ceritanya jelek, tetapi konsep yang digunakan sebenarnya sudah cukup sering kita lihat dalam film Doraemon.


Biasanya akan ada sebuah masalah yang muncul dari pihak luar, kemudian Nobita secara tidak sengaja melihat atau mengetahui masalah tersebut. Karena sifat Nobita yang sebenarnya cukup peduli terhadap orang lain, dia tidak bisa tinggal diam dan akhirnya mengajak Doraemon serta teman-temannya untuk membantu.


Setelah itu petualangan dimulai dan mereka menemukan berbagai macam masalah baru sampai akhirnya harus menyelesaikan masalah tersebut.


Pola seperti ini menurut saya sudah menjadi ciri khas dari movie Doraemon. Jadi bagi kalian yang sudah sering menonton movie Doraemon, mungkin kalian akan cukup mudah menebak bagaimana arah ceritanya.


Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut karena memang saya datang untuk menikmati petualangan Doraemon dan teman-temannya. Tetapi kalau kita membicarakan dari sisi cerita yang benar-benar baru dan mengejutkan, menurut saya film ini belum sampai ke tahap tersebut.


Kelebihan Dari Film Doraemon: Nobita and the New Castle of the Undersea Devil

Kelebihan:

  • Visual yang sangat bagus dari film ini menurut saya menjadi daya tarik utama. Dunia bawah laut dibuat begitu indah dan detail sehingga sangat menyenangkan untuk dilihat.

  • Musik dan color grading juga menjadi bagian yang cukup saya sukai karena mampu membuat beberapa scene terasa lebih hidup dan nyaman untuk dilihat.
  • Petualangan bawah laut menjadi sesuatu yang menarik karena memberikan dunia baru yang cukup luas untuk dijelajahi oleh Nobita dan teman-temannya.
  • Komedi ringan dari tingkah Nobita dan Giant cukup membantu membuat film ini tidakterlalu seriusdan tetap terasa sebagai film Doraemon yang cocok untuk berbagai umur.
  • Sangat cocok ditonton bersama keluarga karena film ini tidak terlalu berat dan memiliki unsur petualangan, persahabatan serta kerja sama yang cukup kuat.

Kekurangan:

  • Alur cerita yang terasa familiar. Menurut saya pola cerita dalam film ini masih terasa seperti beberapa movie Doraemon sebelumnya. Ada masalah, Nobita mengetahuinya, kemudian mengajak teman-temannya melakukan petualangan dan akhirnya mereka harus menyelesaikan masalah tersebut.
  • Ending yang cukup mudah ditebak. Bagi kalian yang sudah sering menonton movie Doraemon mungkin akan bisa memperkirakan bagaimana perjalanan cerita ini akan berakhir.
  • Cerita tidak terlalu memberikan kejutan besar. Dibandingkan dengan visualnya yang sangat bagus, bagian cerita menurut saya masih terasa biasa saja.

Tetapi kembali lagi, hal tersebut merupakan pendapat pribadi saya. Mungkin bagi penonton lain justru cerita yang sederhana seperti ini merupakan salah satu alasan mereka menikmati film Doraemon karena tidak terlalu berat dan mudah diikuti.


Kesimpulan: Layak Ditonton atau Lewati Saja?

Secara keseluruhan menurut saya Doraemon: Nobita and the New Castle of the Undersea Devil merupakan film yang sangat layak untuk ditonton, terutama jika kalian memang menyukai Doraemon atau ingin mencari tontonan yang bisa dinikmati bersama keluarga.


Saya memang merasa dari sisi cerita film ini tidak memberikan sesuatu yang benar-benar baru. Pola ceritanya juga masih cukup mudah ditebak dan bagi penonton yang sudah sering menonton movie Doraemon mungkin akan merasa familiar dengan alurnya.


Tetapi untuk urusan visual, musik dan pengalaman petualangannya menurut saya film ini cukup memuaskan.


Terlebih kalau kalian memiliki kesempatan untuk menontonnya menggunakan format 4DX. Saya sendiri menontonnya di CGV Jogja dengan format 4DX dan menurut saya pengalaman tersebut cukup membantu membuat perjalanan bawah laut di film ini terasa lebih menyenangkan.


Jadi kalau kalian bertanya apakah film ini harus ditonton? Menurut saya iya, terutama untuk kalian yang ingin menonton film anime ringan bersama keluarga dan ingin menikmati visual petualangan bawah laut yang memanjakan mata.


Jangan terlalu berharap mendapatkan cerita yang sangat kompleks atau plot twist yang membuat kaget, karena kekuatan utama film ini menurut saya memang bukan berada di bagian tersebut.


Kalau dari rating IMDb sendiri film ini mendapatkan nilai sekitar 6.1/10.