Review Colony — Film Zombie Korea Dengan Zombie Yang Berbeda

Review Colony — Film Zombie Korea Dengan Zombie Yang Berbeda

 

Review Colony

Kalau bicara soal film atau series Korea, ada beberapa aktor yang memang menurut saya selalu menarik untuk diikuti. Salah satunya adalah Ji Chang-wook.

Saya sendiri mulai menyukai Ji Chang-wook sejak menonton drama The K2. Dari sana saya mulai mengikuti beberapa film dan drama yang dia mainkan. Menurut saya salah satu hal yang membuat Ji Chang-wook menarik adalah kemampuan aktingnya yang cukup fleksibel, terutama ketika harus memainkan karakter yang berhubungan dengan action.

Nah, kali ini saya kembali menemukan salah satu film yang dibintangi oleh Ji Chang-wook yaitu Colony.

Berbeda dengan beberapa film sebelumnya yang saya tonton di bioskop, kali ini saya menonton Colony langsung dari rumah melalui Netflix bersama pasangan saya.

Dan kesan pertama saya ketika film ini mulai berjalan adalah...

“Wah, ini kok auranya mirip Train to Busan?”

Mulai dari tone warna, suasana tempat, sampai bagaimana kamera mengambil gambar ketika suasana mulai mencekam, saya cukup sering teringat dengan film Train to Busan.

Apalagi film ini memang masih berada di genre zombie dan survival.

Jadi sejak awal saya sudah memiliki ekspektasi yang cukup tinggi.

Bukan hanya karena Ji Chang-wook, tetapi juga karena film ini mencoba memberikan sesuatu yang berbeda dari film zombie pada umumnya.

Pertanyaannya, apakah akhirnya film ini bisa memberikan pengalaman yang menarik?

Sinopsis Singkat: Colony

Cerita bermula dari seorang profesor bernama Se Jeong yang menghadiri sebuah konferensi bioteknologi.

Namun konferensi tersebut berubah menjadi sebuah bencana ketika sebuah virus yang mengalami mutasi dengan sangat cepat dilepaskan.

Dalam waktu singkat wabah mulai menyebar dan orang-orang yang terinfeksi mulai mengalami perubahan.

Situasi menjadi semakin kacau ketika pihak berwenang akhirnya memblokir seluruh fasilitas untuk mencegah penyebaran wabah.

Se Jeong yang terjebak di dalam situasi tersebut kemudian harus berusaha bertahan hidup sekaligus mencari cara untuk menghentikan wabah sebelum semuanya terlambat.

Dan dari sinilah perjuangan untuk bertahan hidup dimulai.

POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Kesan Pertama: Auranya Mengingatkan Saya Dengan Train to Busan

Seperti yang saya bilang sebelumnya, hal pertama yang saya rasakan ketika menonton film ini adalah suasananya.

Tone warna dan pengambilan gambarnya membuat saya beberapa kali teringat dengan Train to Busan.

Bukan berarti film ini sama persis, tetapi ada aura yang menurut saya cukup mirip.

Terutama ketika kamera mulai memperlihatkan suasana tempat yang sudah kacau dan karakter mulai berusaha mencari jalan keluar.

Ada rasa sempit, terjebak dan tidak tahu apa yang akan muncul setelah ini.

Dan menurut saya hal seperti ini cukup penting dalam film zombie.

Karena film zombie tidak hanya membutuhkan zombie yang bagus, tetapi juga membutuhkan suasana yang membuat penonton merasa ikut terjebak bersama karakter di dalam film.

Saya sendiri menonton film ini bersama pasangan, jadi suasana mencekamnya lumayan terasa.

Beberapa kali kami benar-benar menunggu apakah setelah pintu dibuka akan muncul zombie atau tidak.

Zombie Di Film Ini Tidak Seperti Zombie Pada Umumnya

Nah ini justru bagian yang paling saya sukai dari Colony.

Kalau biasanya zombie hanya memiliki satu tujuan yaitu mengejar manusia, menggigit, kemudian membuat orang lain ikut terinfeksi, di film ini konsepnya menurut saya jauh lebih menarik.

Zombie yang ada di Colony seperti terus mengalami perkembangan.

Mereka bukan hanya sekedar manusia yang terinfeksi virus.

Kemampuan mereka bisa berkembang dari waktu ke waktu.

Mulai dari penciuman, penglihatan sampai tingkat kecerdasan.

Dan menurut saya ini memberikan sesuatu yang cukup berbeda.

Awalnya saya berpikir, “oh ini zombie biasa.”

Tapi semakin film berjalan, saya mulai menyadari kalau zombie yang ada di film ini ternyata memiliki kemampuan yang berbeda.

Dan semakin lama justru semakin kuat.

Menurut saya ini salah satu alasan kenapa filmnya cukup menarik untuk diikuti sampai akhir.

Karena kita sebagai penonton tidak pernah benar-benar tahu kemampuan apa lagi yang akan ditunjukkan oleh zombie tersebut.

Saya Suka Ada Penjelasan Tentang Virusnya

Salah satu hal yang sering membuat saya kurang suka dengan film zombie adalah ketika virusnya hanya dijadikan alasan supaya orang-orang berubah menjadi zombie.

Sudah.

Tidak dijelaskan lagi.

Tapi di Colony saya merasa penjelasan mengenai virus dan perubahan yang terjadi masih cukup mendapatkan perhatian.

Ada semacam latar belakang dan eksposisi mengenai bagaimana wabah tersebut bisa berkembang.

Menurut saya ini membuat film terasa lebih seperti film zombie dengan teknologi tinggi daripada sekedar film zombie biasa.

Ada unsur biologi, eksperimen, mutasi dan bagaimana virus tersebut memengaruhi manusia.

Jadi selain mendapatkan adegan action, saya juga mendapatkan sedikit teori mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Ji Chang-wook Menurut Saya Tetap Menjadi Daya Tarik Utama

Tentu saja saya tidak bisa melewatkan bagian ini.

Saya memang menonton film ini salah satu alasan utamanya karena ada Ji Chang-wook.

Sejak The K2, saya memang cukup suka dengan kemampuan aktingnya.

Dan di Colony menurut saya aktingnya tetap bagus.

Walaupun saya tidak akan mengatakan karakter di film ini merupakan karakter terbaik yang pernah dia mainkan, tetapi saya tetap bisa merasakan kemampuan aktingnya ketika situasi mulai berubah menjadi semakin kacau.

Terutama ketika karakter harus menghadapi kondisi yang tidak bisa diprediksi.

Dan menurut saya chemistry antar pemain juga cukup bagus.

Tidak terasa seperti semua karakter hanya dimasukkan untuk menjadi korban zombie.

Karakter Perempuan Utamanya Juga Tidak Lemah

Salah satu hal yang saya cukup suka adalah karakter perempuan utama di film ini tidak dibuat sebagai karakter yang hanya menunggu diselamatkan.

Justru pengetahuan yang dia miliki sebagai seorang profesor biologi manusia dan hewan menjadi salah satu senjata untuk menghadapi zombie.

Jadi dia tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik.

Dia menggunakan pengetahuan yang dia miliki untuk memahami apa yang terjadi.

Menurut saya ini keputusan yang cukup bagus.

Karena ketika melawan zombie yang semakin kuat, akan terasa aneh kalau manusia hanya mengandalkan senjata dan kekuatan fisik.

Di film ini pengetahuan menjadi salah satu bagian penting dalam usaha mereka bertahan hidup.

Zombie-nya Justru Terlalu Kuat

Nah, ini masuk ke bagian yang menurut saya menjadi kekurangan.

Saya suka konsep zombie yang berbeda.

Saya suka mereka berkembang.

Saya suka kemampuan mereka.

Tapi di beberapa bagian menurut saya zombie dan antagonisnya terasa terlalu kuat.

Sampai saya beberapa kali berpikir,

“Ini manusia mau ngelawan pakai apa?”

Karena semakin lama kemampuan zombie semakin berkembang, sementara karakter manusia terasa cukup terbatas.

Menurut saya akan lebih menarik kalau kekuatan antara manusia dan zombie dibuat sedikit lebih seimbang.

Bukan berarti zombienya harus lemah, tetapi harus ada kesempatan bagi karakter manusia untuk melakukan perlawanan dengan cara yang lebih masuk akal.

Kurang Karakter Pendukung Yang Benar-Benar Kuat

Kalau dibandingkan dengan Train to Busan, menurut saya Colony masih kurang dalam masalah karakter pendukung.

Train to Busan menurut saya memiliki beberapa karakter yang benar-benar terasa kuat dan berkesan.

Ada karakter yang ketika zombie datang tidak hanya menjadi korban, tetapi justru ikut menghadapi zombie dengan cara mereka masing-masing.

Di Colony saya merasa bagian ini masih kurang.

Karakter utamanya memang cukup menarik, tapi saya merasa belum mendapatkan karakter pendukung yang benar-benar bisa membuat saya berkata,

“Nah ini karakter keren.”

Dan ketika karakter pendukungnya tidak terlalu kuat, hubungan emosional dengan karakter-karakter tersebut juga menurut saya tidak sekuat film zombie Korea lainnya.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Colony

Kelebihan

1. Zombie memiliki konsep yang berbeda

Menurut saya ini adalah kelebihan terbesar film.

Zombie tidak hanya menjadi manusia yang terinfeksi, tetapi memiliki perkembangan kemampuan dari waktu ke waktu.

2. Cerita tidak terasa seperti film zombie biasa

Walaupun premisnya tetap tentang virus dan wabah, film memberikan tambahan unsur bioteknologi, mutasi dan eksperimen.

3. Visual dan tone warna sangat mendukung suasana

Tone warna yang digunakan membuat film terasa gelap dan mencekam.

Buat saya pribadi bahkan beberapa kali terasa seperti melihat kembali aura Train to Busan.

4. Akting para pemain bagus

Terutama Ji Chang-wook yang menurut saya masih menjadi salah satu daya tarik utama film ini.

5. Action cukup banyak

Film ini tidak hanya berisi dialog dan penjelasan tentang virus.

Ada cukup banyak adegan kejar-kejaran, pertarungan dan survival yang membuat tempo film tetap terasa cepat.

Kekurangan

1. Karakter pendukung kurang kuat

Saya berharap ada beberapa karakter pendukung yang lebih berkesan seperti yang bisa kita temukan di film zombie Korea lainnya.

2. Zombie terlalu kuat

Ini sebenarnya sekaligus menjadi kelebihan dan kekurangan.

Konsep zombie yang kuat memang menarik, tetapi di beberapa bagian terasa terlalu overpower.

3. Beberapa bagian terasa terlalu cepat

Karena film ingin memasukkan unsur teori, action dan perkembangan zombie sekaligus, ada beberapa bagian yang menurut saya terasa cukup cepat.

Saya masih bisa mengikuti ceritanya, tapi ada beberapa momen dimana saya berharap film memberikan waktu sedikit lebih banyak untuk menjelaskan situasinya.

Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?

Setelah selesai menonton Colony, menurut saya film ini adalah salah satu film zombie yang cukup menarik untuk dicoba.

Saya sendiri awalnya menonton karena Ji Chang-wook, tetapi ternyata setelah film berjalan saya justru lebih tertarik dengan konsep zombie dan bagaimana virus tersebut bisa berkembang.

Menurut saya konsep zombie yang memiliki kemampuan berbeda dari biasanya menjadi daya tarik utama film ini.

Mulai dari penciuman, penglihatan sampai kecerdasan yang semakin berkembang membuat saya penasaran sebenarnya akan seperti apa kemampuan mereka selanjutnya.

Dan yang paling penting, film ini tidak hanya mengandalkan zombie untuk membuat penonton takut.

Visual, tone warna, suara dan suasana film benar-benar membantu membuat rasa mencekamnya terasa.

Apalagi saya menontonnya bersama pasangan.

Menurut saya ini justru salah satu film yang cukup cocok untuk ditonton bareng pasangan di rumah. Lampu dimatikan, malam hari, kemudian nonton film zombie seperti ini... suasananya dapat banget.

Beberapa kali saya dan pasangan sama-sama menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Kalau kalian adalah penggemar film zombie, survival atau sci-fi, menurut saya film ini bisa kalian masukkan ke daftar tontonan.

Terutama kalau kalian suka film zombie yang tidak hanya sekedar,

“digigit → jadi zombie → kejar manusia.”

Karena Colony mencoba memberikan sesuatu yang lebih dari itu.

Untuk saya sendiri, Ji Chang-wook masih menjadi salah satu alasan utama kenapa film ini menarik untuk ditonton, tetapi setelah melihat keseluruhan film, saya bisa bilang bahwa film ini memang cukup layak untuk mendapatkan perhatian.

Jadi kalau ditanya apakah saya merekomendasikan Colony?

Iya, saya rekomendasikan.

Apalagi kalau ditonton bareng pasangan, menurut saya malah lebih seru karena suasana mencekam dan menegangkannya bisa dirasakan bareng-bareng.

Buat saya pribadi, ini bukan film zombie yang sempurna, masih ada kekurangan dari karakter pendukung dan beberapa bagian yang terasa terlalu kuat untuk zombienya.

Tapi secara keseluruhan?

Film zombie berteknologi tinggi yang cukup menarik dan berbeda dari ekspektasi saya.

Kalau kalian punya Netflix dan sedang mencari tontonan zombie untuk malam hari...

boleh banget coba Colony.

Walaupun di IMDB ratingnya hanya 6.5/10 tapi rating ini tidak menggambarkan kualitas film ini.

 Review Film Resident Evil 2026: Tegang Banget dan Berasa Main Game, Tapi Ada Beberapa Hal yang Bikin Aneh

Review Film Resident Evil 2026: Tegang Banget dan Berasa Main Game, Tapi Ada Beberapa Hal yang Bikin Aneh


Belakangan ini film yang mengangkat cerita tentang zombie dan wabah memang sudah begitu banyak muncul di layar lebar, mulai dari film yang memang membuat cerita original sampai film yang di adaptasi dari game yang sudah terkenal sebelumnya. Salah satu film yang cukup saya nantikan kali ini adalah Resident Evil 2026, sebagai salah satu orang yang memang cukup menyukai game Resident Evil tentu saja saya tidak ingin melewatkan film terbaru yang membawa nama Resident Evil ini, apalagi dari beberapa informasi yang saya lihat film ini tidak menggunakan karakter utama seperti Leon atau Jill sebagai tokoh utamanya melainkan menggunakan karakter baru bernama Bryan yang di perankan oleh Austin Abrams.


Saya sendiri mencoba datang ke bioskop NSC Kudus untuk menonton film ini dan dari awal film di putar jujur saya langsung merasakan suasana yang cukup berbeda, mulai dari color grading, musik dan pengambilan angle kamera menurut saya cukup berhasil membuat suasana di dalam film terasa mencekam dan sangat tegang, bahkan ada beberapa bagian dimana saya merasa seperti sedang memainkan game Resident Evil secara langsung. Kalau dari pengalaman pribadi saya ketika menonton film ini rasanya sedikit mirip dengan ketika saya menonton film The Long Walk, cuma bedanya kalau The Long Walk lebih ke arah perjalanan dan tekanan yang dialami oleh karakter sedangkan Resident Evil ini seperti versi zombie dan tentunya berada di universe Resident Evil.


Sekarang pertanyaannya adalah apakah film Resident Evil terbaru ini benar benar sebagus dan setegang itu atau hanya mengandalkan nama Resident Evil saja ? berikut adalah review pribadi dari diri saya sendiri dan menurut keyakinan saya.


Sinopsis Singkat: Resident Evil 2026

Film ini mengikuti karakter bernama Bryan yang di perankan oleh Austin Abrams, Bryan sendiri merupakan seorang kurir medis biasa yang tidak memiliki latar belakang militer atau kemampuan khusus untuk bertahan hidup, pada suatu hari Bryan mendapatkan tugas untuk mengantarkan sebuah paket medis menuju rumah sakit yang berada di Raccoon City, tetapi masalahnya perjalanan yang awalnya terlihat seperti pekerjaan biasa berubah menjadi sesuatu yang sangat mengerikan ketika wabah zombie mulai menyebar dan Bryan harus melewati berbagai rintangan untuk bisa sampai ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Bryan mulai bertemu dengan berbagai macam kejadian aneh dan juga harus menghadapi zombie serta berbagai ancaman lainnya yang ada di Raccoon City, jadi kalau dari inti ceritanya film ini sebenarnya cukup sederhana dimana ada seorang kurir yang hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya tetapi malah terjebak di tengah wabah zombie dan harus berusaha bertahan hidup.


Disini yang menurut saya cukup menarik adalah karakter utama Bryan bukanlah seorang tentara atau seseorang yang dari awal sudah mempunyai kemampuan untuk membunuh zombie, dia hanyalah orang biasa yang secara tidak sengaja harus menghadapi situasi yang sangat berbahaya.


POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

  • Atmosfer di bioskop : aku mulai dari suasana ketika menonton film ini, jujur dari awal film di putar saya sudah cukup merasakan suasana horror yang berbeda, color grading dan musik yang digunakan menurut saya cukup berhasil membuat suasana menjadi mencekam dan tegang, apalagi ketika ada beberapa scene dimana karakter utama harus masuk atau melewati tempat yang gelap dan kita sebagai penonton tidak mengetahui apa yang akan muncul setelahnya.

Kalau menurut saya horror itu sebenarnya bisa di bagi menjadi dua yaitu horror monster dan horror hantu, nah Resident Evil ini sebenarnya jelas masuk ke dalam horror monster karena kita berhadapan dengan zombie dan makhluk makhluk yang menyeramkan, tetapi anehnya ketika saya menonton film ini saya justru mendapatkan rasa horror yang hampir seperti menonton film hantu.


Mungkin karena dari cara film ini menampilkan zombienya tidak selalu langsung diperlihatkan dan lebih banyak menggunakan suara, suasana gelap dan pengambilan kamera untuk membuat penonton merasa was was, jadi sebelum sesuatu muncul kita sudah merasa kalau sebentar lagi bakal ada sesuatu yang terjadi.


Hal seperti ini menurut saya sangat mirip dengan ketika kita bermain game Resident Evil, dimana terkadang bukan zombienya yang membuat takut tetapi suasana ketika kita berjalan di sebuah tempat yang sepi dan kita tidak tahu apa yang akan muncul di depan.


  • Teknik pengambilan gambar : dari dariku ada beberapa hal yang benar benar bikin saya puas banget dengan film ini salah satunya adalah teknik pengambilan gambarnya, saya benar benar merasa seperti sedang berada di dalam game Resident Evil, ada beberapa pengambilan angle kamera yang menurut saya sangat cocok dengan nuansa survival horror dan membuat saya merasa bukan hanya sedang menonton film tetapi seperti sedang melihat sebuah gameplay dari Resident Evil.

Sebagai orang yang memang menyukai game Resident Evil hal seperti ini tentunya menjadi sesuatu yang sangat memuaskan bagi saya, karena salah satu hal yang saya harapkan dari film Resident Evil adalah bagaimana film tersebut bisa membawa suasana yang biasanya kita rasakan ketika bermain game ke layar lebar.


Dan menurut saya film ini cukup berhasil melakukan hal tersebut.


Bukan hanya dari zombienya saja tetapi dari bagaimana karakter Bryan bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya, bagaimana kamera mengambil gambar sebuah ruangan yang gelap dan bagaimana musik mulai muncul ketika suasana mulai terasa tidak aman.

  • Ketegangan dan suasana horror : kalau dari segi cerita menurut saya film ini memang bukan film yang memiliki cerita yang sangat rumit, tetapi yang membuat saya cukup menikmati film ini adalah ketegangannya, dari awal sampai akhir saya merasa cukup sulit untuk berhenti melihat layar karena selalu ada saja sesuatu yang membuat penasaran.

Menurut saya ini merupakan salah satu kelebihan yang cukup besar dari film ini karena film horror terkadang memiliki masalah dimana pada bagian tengah cerita terasa lambat dan membuat penonton bosan, tetapi saat saya menonton Resident Evil ini saya tidak terlalu merasakan hal tersebut.


Bahkan beberapa kali saya merasa tegang hanya karena karakter utama sedang berjalan dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya.


Poin Plus dan Minus Dari Resident Evil Setelah Aku Menontonnya

  • Kelebihan:

- Atmosfer horror yang sangat kuat dari film ini menurut saya merupakan salah satu hal yang paling saya sukai, mulai dari color grading, musik dan pengambilan gambar semuanya terasa cocok untuk membangunsuasanayang mencekam.


- Teknik pengambilan gambar yang sangat bagus menurut saya berhasil membuat film ini terasa seperti game Resident Evil, terutama dari cara kamera mengikuti karakter dan bagaimana beberapa lokasi dibuat terasa seperti sebuah level dalam game.


- Ketegangannya dari awal sampai akhir menurut saya cukup berhasil, bahkan saya tidak bisa berhenti menatap layar karena penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, film ini menurut saya benar benar tidak terlalu membosankan.


- Berhasil membawa nuansa game Resident Evil ke layar lebar ini mungkin menjadi kelebihan yang paling saya rasakan sebagai penggemar game Resident Evil, karena ketika menonton film ini saya beberapa kali mendapatkan perasaan seperti ketika sedang memainkan gamenya.

  • Kekurangan:

- Karakter Bryan yang kurang konsisten menurut saya ini menjadi salah satu kekurangan yang cukup terasa, di awal Bryan digambarkan sebagai orang biasa yang polos dan tidak memiliki kemampuan bertahan hidup, tetapi di pertengahan film tiba tiba bisa melakukan beberapa hal teknis yang cukup rumit, menurut saya hal tersebut agak aneh karena tidak terlalu dijelaskan sebelumnya.


- Minimnya referensi karakter ikonik dari game untuk saya yang memang menyukai game Resident Evil sebenarnya berharap akan ada lebih banyak referensi dari karakter game seperti Leon atau setidaknya ada elemen yang lebih banyak berhubungan dengan Umbrella Corporation.


Tetapi di film ini menurut saya referensi tersebut cukup sedikit dan hampir jarang ditemukan, walaupun memang masih ada beberapa easter egg yang cukup membuat saya kaget ketika melihatnya.


Saya tidak mengatakan kalau film ini harus memasukkan Leon atau karakter lain sebagai pemeran utama, tetapi setidaknya kalau ada beberapa referensi atau elemen dari game yang lebih banyak menurut saya akan membuat pengalaman menonton menjadi lebih memuaskan bagi para fans game Resident Evil.


- Cerita yang cukup sederhana menurut saya sebenarnya bukan sesuatu yang buruk tetapi kalau dibandingkan dengan atmosfer horrornya yang sangat kuat, cerita dari film ini terasa lebih sederhana, dimana seorang kurir harus mengantarkan paket dan kemudian terjebak di tengah wabah zombie.


Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja

Secara keseluruhan film Resident Evil 2026 ini menurut saya sangat sangat layak untuk di tonton, baik bagi kalian yang memang bermain game Resident Evil maupun kalian yang belum pernah memainkan gamenya.


Bagi kalian yang bermain game Resident Evil mungkin film ini akan terasa lebih memuaskan karena ada beberapa bagian yang membuat saya merasa seperti sedang berada di dalam game tersebut, terutama dari teknik pengambilan gambar, musik, color grading dan suasana horror yang dibangun dari awal sampai akhir.


Sedangkan untuk kalian yang tidak pernah memainkan game Resident Evil menurut saya film ini masih bisa untuk dinikmati karena ceritanya cukup mudah untuk diikuti dan tidak mengharuskan kalian mengetahui semua cerita yang ada di game sebelumnya.


Kekurangannya memang ada seperti karakter Bryan yang menurut saya agak tidak konsisten dan minimnya referensi karakter ikonik seperti Leon atau elemen Umbrella Corporation, tetapi bagi saya pribadi kekurangan tersebut tidak terlalu menghilangkan rasa puas ketika menonton film ini.


Justru yang paling saya suka adalah bagaimana film ini bisa membuat saya merasa seperti sedang memainkan game Resident Evil, bukan hanya sekedar menonton film zombie biasa.


Untuk ratingnya sendiri di IMDb film ini mendapatkan rating sekitar 7.8/10.

Review Film Resident Evil 2026